Pelatihan Dakwah Digital Global di Banjarbaru, Kailani Dorong Muballighat Muda Kuasai Bahasa Inggris
Ratino Taufik March 07, 2026 11:44 AM

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU - Transformasi dakwah di era digital menuntut kemampuan baru dari para dai dan muballighat, tidak hanya penguasaan materi keislaman tetapi juga kemampuan berkomunikasi lintas bahasa. 

Hal inilah yang menjadi salah satu penekanan dalam kegiatan Peningkatan Kapasitas Bahasa Inggris bagi Muballighat Muda Nasyiatul Aisyiyah dalam Pembuatan Konten Dakwah Digital untuk Audiens Global yang digelar di Masjid Hajjah Nuriyyah, Banjarbaru.

Salah satu pemateri, Kailani, yang juga dosen di Universitas Muhammadiyah Banjarmasin, Sabtu (7/3/2026) menegaskan bahwa perkembangan media sosial telah membuat dakwah tidak lagi terbatas oleh wilayah geografis.

Menurutnya, setiap konten yang diunggah ke platform digital berpotensi ditonton masyarakat dunia. Karena itu, muballighat perlu memiliki kemampuan menyampaikan pesan dakwah dalam bahasa yang dapat dipahami secara global, salah satunya bahasa Inggris.

“Indonesia dikenal sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia dengan karakter Islam yang moderat dan berkemajuan. Nilai-nilai itu perlu diperkenalkan lebih luas melalui konten digital berbahasa Inggris,” ujarnya.

Baca juga: Para Hijabers Anggota Komunitas Motor Honda Kalselteng Dilatih Bikin Hampers

Kailani menilai muballighat muda memiliki posisi strategis dalam menyebarkan pesan Islam yang menyejukkan, inklusif, dan edukatif. Melalui berbagai platform digital seperti Instagram, YouTube hingga podcast, perempuan dapat menjadi duta yang menyampaikan wajah Islam Indonesia kepada audiens internasional.

Dalam sesi materinya, Kailani juga menekankan pentingnya kemampuan komunikasi yang efektif saat berdakwah di ruang digital. 

Dia menjelaskan bahwa penguasaan bahasa Inggris bukan sekadar kemampuan menerjemahkan kata, tetapi juga memahami konteks budaya dan cara penyampaian pesan agar mudah diterima audiens global.

Pelatihan ini berlangsung secara interaktif dengan pendekatan praktik langsung. Peserta dibekali berbagai materi, mulai dari teknik dasar public speaking dalam bahasa Inggris untuk dakwah, cara menyusun skrip konten dakwah singkat yang komunikatif, hingga strategi menerjemahkan istilah-istilah keislaman agar tetap akurat namun mudah dipahami oleh masyarakat internasional.

Selain itu, peserta juga mempelajari teknik sederhana pengambilan video serta penulisan caption berbahasa Inggris yang menarik untuk media sosial.

Dalam sesi praktik, peserta dibagi dalam kelompok kecil untuk membuat konten dakwah berdurasi 1–3 menit dengan tema universal seperti akhlak, kepedulian sosial, dan peran perempuan dalam Islam. 

Konten tersebut kemudian dipresentasikan dan mendapatkan umpan balik langsung dari fasilitator.
Suasana pelatihan berlangsung hidup dan interaktif. 

Meski sebagian peserta mengaku belum terbiasa berbicara dalam bahasa Inggris, mereka tetap berani mencoba dan saling mendukung selama sesi praktik berlangsung.

Salah satu peserta, Rida, mengaku kegiatan tersebut memberinya pengalaman baru dalam berdakwah.

“Selama ini saya hanya berdakwah dalam bahasa Indonesia. Setelah pelatihan ini saya jadi lebih percaya diri mencoba membuat konten berbahasa Inggris, meskipun masih sederhana,” ujarnya.

Menurutnya, tantangan terbesar bukan hanya pada tata bahasa, tetapi keberanian untuk tampil dan konsisten membuat konten dakwah di ruang digital.

Melalui kegiatan pengabdian masyarakat ini, tim dari Universitas Muhammadiyah Banjarmasin berharap muballighat muda mampu menghasilkan lebih banyak konten dakwah berbahasa Inggris yang menampilkan wajah Islam Indonesia yang damai, toleran, dan berkemajuan kepada dunia.
(Banjarmasin Post/Nurholis Huda)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.