Serangan balasan Iran terhadap Israel bukan hanya berdampak pada penerbangan, turis yang berada di kapal pesiar terjebak di pelabuhan.
Kapal pesiar Celestyal Journey, yang dioperasikan oleh Celestyal Cruises yang berbasis di Yunani, berangkat dari Dubai, Uni Emirat Arab pada 23 Februari. Kapal itu dijadwalkan kembali ke sana pada hari Senin.
Namun, takdir berkata lain. Kapal itu terpaksa bersandar di Doha pada 28 Februari karena pihak berwenang menutup jalur laut terdekat imbas operasi militer AS-Israel terhadap Iran, seperti dikutip dari pada Sabtu (7/3/2026).
Di hari itu, penumpang kapal pesiar mengaku mendengar sirene serangan udara dan melihat rudal Iran dicegat oleh pertahanan udara Qatar. Pemandangan itu mencekam, membuat penumpang mulai gelisah.
"Anak-anak kecil di kapal mulai menangis. Orang tua mereka dan staf resepsionis mencoba menenangkan mereka. Kami diperintahkan untuk tidak meninggalkan kapal,"kata Polina, seorang penumpang dari Moskow, kepada The Moscow Times.
Sekitar 155 warga negara Rusia terdaftar secara resmi di antara para penumpang, kata Polina. Jumlah penumpang secara keseluruhan mendekati 170 penumpang yang diisi oleh warga negara Kazakhstan, Uzbekistan, dan beberapa negara Eropa lainnya.
Polina, yang bepergian bersama suami dan putrinya yang berusia tiga tahun, mengatakan situasi ini sangat menegangkan bagi keluarga dengan anak-anak.
"Putri saya tidak begitu mengerti apa yang terjadi, tetapi dia bisa merasakan ketegangannya, katanya.
"Di tengah semua kecemasan itu, dia bahkan demam hingga 39 derajat Celcius," tambahnya.
Penumpang lain bernama Radmila mengatakan bahwa para penumpang awalnya menerima sedikit bimbingan ketika mereka mencoba menghubungi Kedutaan Besar Rusia di Qatar.
Setelah mereka mulai mengeluh di media sosial, kedutaan menawarkan akomodasi hotel gratis di Doha dan tiga kali makan sehari mulai hari Sabtu.
Para penumpang diizinkan meninggalkan kapal selama beberapa jam pada hari Rabu untuk pertama kalinya dalam seminggu itu. Mereka keluar untuk membeli obat di apotek di Doha, kata Polina dan Radmila.
Operator kapal pesiar telah memperpanjang masa tinggal penumpang di kapal secara gratis hingga Sabtu.
"Kami diberitahu: Tetaplah di kapal sampai 7 Maret, dan kemudian kita lihat nanti," kata Radmila.
Namun, mereka yang berada di kapal mengatakan mereka tidak begitu mengerti kapan mereka dapat kembali ke Rusia.
"Kami seharusnya terbang ke Moskow pada 2 Maret, tetapi penerbangan kami dibatalkan karena wilayah udara ditutup untuk penerbangan sipil," kata Radmila.
Polina mengatakan keluarganya tidak memiliki rencana yang jelas jika mereka terpaksa tinggal di Qatar setelah Sabtu.
"Suami saya dapat bekerja jarak jauh dari sini. Tetapi putri kami sangat ingin pulang," katanya.
"Semoga kedutaan dapat menemukan akomodasi bagi kami selama yang kami butuhkan. Saya akan meminta kamar dengan dapur agar saya dapat memasak untuk anak saya."
Dalam pernyataan kepada The Moscow Times pada hari Kamis, Celestyal mengatakan telah membatalkan sisa musim pelayaran Teluk Arabnya.
"Kami terus mengikuti perkembangan di Timur Tengah dan tetap berhubungan secara teratur dengan pihak berwenang terkait. Sepanjang periode ini, fokus kami adalah dan terus menjadi keselamatan dan kesejahteraan para tamu dan kru kami," kata perusahaan tersebut.







