Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Arnold Welianto
TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE – Bentrok antar kampung terjadi di Kecamatan Adonara Timur, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Jumat (6/3/2026), akibat perselisihan lahan adat di sekitar Toko Serba 35.
Konflik ini memanas hingga terjadi lemparan bom rakitan dan penggunaan senjata api rakitan oleh warga yang bertikai.
Mengakibatkan 8 rumah dan sejumlah tempat usaha rusak, termasuk 2 gudang kopra, 1 tempat cuci motor, 1 kios serta 1 kos-kosan dengan 6 kamar.
Lima warga mengalami luka tembak; tiga warga Desa Narasaosina menderita luka ringan dan telah dipulangkan setelah perawatan di Rumah Sakit Pratama, sementara dua warga, Jumadin Saputra (27) dan Mansyur Ola (39), dirujuk ke RSUD Larantuka karena luka lebih serius.
Baca juga: Konflik Lewonara-Bele di Adonara Timur Memanas, Aparat Evakuasi Anak Sekolah ke Polsek
Polda NTT menurunkan satu peleton pasukan Brimob Kompi 1 Batalyon B Pelopor dari Maumere untuk membantu mengamankan situasi pasca-konflik.
Pemerintah Kabupaten Flores Timur kini tengah melakukan upaya mediasi yang melibatkan Wakil Bupati, Forkopimda, Ketua DPRD, Dandim, Wakapolres, Forkopincam dan Kesbangpol.
Camat Adonara Timur, Ismail Daton Ban, mengatakan mediasi telah dilakukan Sabtu (7/3/2026).
Namun hingga kini belum ada hasil resmi yang diumumkan untuk menyelesaikan konflik antara warga Dusun Bele, Desa Waiburak, dan warga Desa Narasaosina.
Kapolres Flores Timur, AKBP Adhitya Octorio Putra menjelaskan bahwa setelah menerima laporan adanya ketegangan antarwarga, aparat TNI dan Polri langsung ke lokasi.
"Aparat melakukan pengamanan serta langkah-langkah preventif guna menghentikan kontak fisik antar-kelompok warga," ujar AKBP Adhitya.
AKBP Adhitya menjelaskan, upaya yang dilakukan meliputi penyekatan massa, perlindungan terhadap warga rentan, serta penebalan personel di sejumlah titik rawan.
Personel juga mengevakuasi anak-anak sekolah yang masih berada di sekitar lokasi konflik.
"Anak-anak tersebut untuk sementara diamankan di Mapolsek Adonara Timur guna memastikan keselamatan mereka dari dampak konflik yang terjadi," kata AKBP Adhitya.
Putra menambahkan, saat ini para personel masih bersiaga di titik-titik rawan untuk mencegah meluasnya konflik.
Upaya komunikasi dengan tokoh masyarakat dari kedua desa terus diupayakan agar konflik tersebut segera berakhir.