Jalur Alternatif Malalak–Bukittinggi Sudah Tersambung, BPJN: Belum Aman Dilalui Kendaraan
Muhammad Afdal Afrianto March 07, 2026 12:01 PM

TRIBUNPADANG.COM, AGAM – Jalur alternatif Malalak–Bukittinggi yang sempat terputus akibat banjir bandang pada November 2025 kini sudah kembali tersambung.

Meski demikian, kondisi jalan tersebut masih belum sepenuhnya ideal untuk dilalui kendaraan karena sejumlah titik masih dalam tahap perbaikan.

Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sumatera Barat, Elsa Putra Friandi, mengatakan jalur tersebut saat ini baru bersifat fungsional setelah dilakukan penanganan di beberapa lokasi yang mengalami kerusakan cukup parah.

Baca juga: BPJN Sumbar Tempuh Jalur Konsinyasi Tuntaskan Pembebasan Lahan Flyover Sitinjau Lauik 10 Hektare

“Jalur ini sudah kita lakukan penanganan dan saat ini sudah fungsional serta tersambung kembali setelah sebelumnya putus akibat banjir bandang pada November 2025 lalu,” kata Elsa Putra Friandi saat meninjau kawasan Malalak–Bukittinggi, Jumat (6/3/2026).

Ia menjelaskan, saat bencana banjir bandang terjadi, sekitar delapan kilometer ruas jalan di jalur tersebut tidak dapat dilalui karena tertimbun longsor dan mengalami kerusakan.

Kerusakan paling parah berada di perbatasan Kecamatan Malalak dengan Nagari Balingka, Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam.

Di lokasi tersebut, badan jalan sempat terputus sepanjang sekitar 150 meter.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, BPJN melakukan rekonstruksi dengan menggeser badan jalan ke sisi tebing agar jalur bisa kembali tersambung.

mamalak 34
Malalak-Bukitinggi - Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sumatera Barat, Elsa Putra Friandi memberikan keterangan kepada wartawan saat meninjau jalur alternatif Malalak–Bukittinggi di Kabupaten Agam, Jumat (6/3/2026). BPJN menyebut jalur tersebut sudah tersambung namun masih dalam tahap perbaikan dan belum direkomendasikan dilalui kendaraan umum. (TribunPadang.com/Muhammad Afdal Afrianto).

“Di lokasi kita berdiri ini sebelumnya jalan terputus sekitar 150 meter. Saat ini sudah bisa kita sambungkan kembali dengan menggeser badan jalan ke sisi tebing,” ujarnya.

Secara keseluruhan, ruas jalan yang terdampak bencana di jalur alternatif Malalak–Bukittinggi mencapai sekitar 17 kilometer, yakni mulai dari Kilometer 61 hingga Kilometer 87.

Dari total panjang tersebut, terdapat sembilan titik kerusakan yang harus ditangani.

Beberapa di antaranya mengalami kerusakan cukup berat sehingga membutuhkan penanganan konstruksi yang lebih kompleks.

Meski jalur tersebut sudah tersambung, Elsa menegaskan kondisi jalan masih belum sepenuhnya aman untuk dilalui kendaraan umum.

Di beberapa titik, permukaan jalan masih berupa tanah dan terdapat potensi longsor, terutama saat curah hujan tinggi.

Karena itu, BPJN belum membuka jalur tersebut secara resmi untuk lalu lintas umum.

“Secara resmi jalur ini belum dibuka untuk kendaraan karena masih ada alat yang bekerja, kondisi jalan juga masih tanah dan ada beberapa titik rawan longsor,” jelasnya.

Saat ini jalur tersebut hanya dimanfaatkan secara terbatas oleh masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan tersebut.

Terkait kemungkinan jalur alternatif tersebut digunakan saat arus mudik dan arus balik Lebaran 1447 Hijriah, Elsa mengatakan keputusan akan diambil setelah dilakukan asesmen oleh pihak kepolisian dan dinas perhubungan.

“Kalau secara jalan ini sudah tersambung, tetapi apakah bisa digunakan saat mudik nanti kita kembalikan kepada asesmen dari kepolisian dan dinas perhubungan,” katanya.

Meski demikian, BPJN sendiri tidak merekomendasikan jalur tersebut digunakan secara luas untuk arus mudik kecuali dalam kondisi darurat.

“Kalau dari kami hanya untuk kondisi darurat saja, karena masih banyak titik tebing yang curam dan tanahnya masih rawan,” tambahnya.

Saat ini progres perbaikan jalan di jalur alternatif tersebut baru mencapai sekitar delapan persen. Hal itu disebabkan masih banyak pekerjaan besar yang harus diselesaikan, termasuk pembangunan beberapa jembatan permanen di titik-titik tertentu.

BPJN memperkirakan proses perbaikan secara keseluruhan baru dapat diselesaikan pada Desember 2026.

Di sisi lain, pekerjaan perbaikan jalan juga bersinggungan dengan kawasan hutan yang berada di sekitar jalur tersebut.

Baca juga: BPJN Sumbar Siagakan Alat Berat di Sitinjau Lauik, Antisipasi 4 Titik Rawan Longsor Mudik Lebaran

Elsa menyebutkan pemerintah telah memperoleh izin penggunaan kawasan hutan untuk mendukung proses pembangunan infrastruktur jalan tersebut.

“Karena ini berada di kawasan hutan, pemerintah provinsi sudah mengurus izin melalui PPKH sementara sehingga pekerjaan bisa dilakukan,” katanya.

Total luas kawasan hutan yang digunakan untuk pekerjaan perbaikan jalan tersebut diperkirakan mencapai sekitar 17 hektare.

Meski proses perbaikan terus berjalan, BPJN memastikan aktivitas konstruksi akan dihentikan sementara selama periode arus mudik Lebaran.

“Pada H-10 hingga H+10 Lebaran pekerjaan kita hentikan, namun untuk apakah jalur ini bisa dilewati atau tidak tetap menunggu asesmen dari kepolisian,” tutupnya.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.