Trump Ultimatum Iran Menyerah Tanpa Syarat, Siap Terlibat dalam Memilih Pemimpin Baru
Ariestia March 07, 2026 01:29 PM

 

TRIBUNPEKANBARU.COM - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengultimatum agar Iran menyerah tanpa syarat.

Melalui media sosial Truth, Jumat (6/3/2026), ia menegaskan tak akan ada kesepakatan dengan Iran jika negara di Timur Tengah itu tidak menyatakan tunduk sepenuhnya.

Pernyataan ini mempertegas sikap keras Trump di tengah adanya konfirmasi dari pihak Iran mengenai upaya mediasi diplomatik untuk mengakhiri konflik yang sedang berlangsung.

Dikutip dari Al-Jazeera, Trump secara eksplisit menyatakan posisinya dalam unggahan tersebut.

“Tak akan ada kesepakatan kecuali Iran menyerah tanpa syarat,” tulis Trump.

Trump Ingin Terlibat dalam Pemilihan Pemimpin Iran, Seperti di Venezuela

Baca juga: Iran Klaim Berhasil Hantam Kapal Induk AS Abraham Lincoln dengan Drone: Kabur dari Selat Hormuz

Ia menjanjikan bahwa setelah proses penyerahan diri dan terpilihnya pemimpin baru yang ia setujui, AS bersama para sekutunya akan membantu membangun kembali negara tersebut.

“Setelah itu, dan setelah terpilihnya pemimpin yang hebat dan dapat diterima, kami dan banyak sekutu serta mitra kami yang luar biasa dan sangat berani, akan bekerja tanpa lelah membawa Iran kembali dari ambang kehancuran, menjadikannya lebih besar, lebih baik, dan lebih kuat secara ekonomi daripada sebelumnya,” ucap Trump.

Dalam beberapa hari terakhir, Trump berulang kali menyatakan keinginannya untuk menerapkan skenario Venezuela di Iran.

Yakni, dengan mempertahankan struktur pemerintahan yang ada namun mengganti kepemimpinan dengan sosok yang bersedia memenuhi tuntutan Washington.

Trump menekankan perlunya sosok pemimpin yang ia anggap adil dan bijaksana serta kooperatif terhadap kepentingan AS dan sekutunya.

“Saya mengatakan harus ada seorang pemimpin yang adil dan bijaksana. Melakukan pekerjaan yang hebat. Memperlakukan Amerika Serikat dan Israel dengan baik, dan memperlakukan negara-negara lain di Timur Tengah, mereka semua adalah mitra kita,” katanya kepada CNN pada hari Kamis.

Sehari sebelumnya, Trump mengungkapkan kepada Axios bahwa ia merasa harus terlibat langsung dalam penunjukan pemimpin tertinggi baru di Iran.

Hal ini ia bandingkan dengan keterlibatan AS dalam pemilihan Presiden Venezuela Delcy Rodriguez setelah pasukan AS menculik pendahulunya, Nicolas Maduro, pada Januari lalu.

Trump memberikan pujian kepada Rodriguez karena telah setuju mengizinkan AS menjual minyak Venezuela dan menghentikan ekspor bahan bakar ke Kuba. Dalam konteks Iran, Trump juga menyuarakan penentangannya terhadap kemungkinan pengangkatan putra Khamenei, Mojtaba, yang ia sebut sebagai "tokoh yang tidak berbobot".

Pakar: Itu Hanya Angan-angan

Namun, ambisi Trump ini menuai keraguan dari para ahli.

Sina Azodi, asisten profesor Politik Timur Tengah di Universitas George Washington, menilai upaya Trump untuk memilih pemimpin tertinggi berikutnya sebagai hal yang tidak realistis.

“Itu hanya angan-angan,” kata Azodi kepada Al Jazeera.

Ia menjelaskan bahwa meskipun ada perbedaan pendekatan di antara para kandidat pengganti Khamenei, mereka semua tetap setia pada sistem Republik Islam.

Azodi menambahkan bahwa pemimpin berikutnya kemungkinan besar berasal dari revolusioner generasi kedua yang berbeda dengan Ali Khamenei.

Namun ia menegaskan, “Tetapi sekali lagi, Delcy Rodriguez tidak ada di Iran.”

Secara konstitusional, pemimpin tertinggi Iran dipilih oleh dewan terpilih beranggotakan 88 orang yang dikenal sebagai Majelis Pakar, bukan oleh intervensi asing.

Azodi juga memperingatkan kekuatan nasionalisme di Iran yang akan menolak campur tangan luar.

“Donald Trump dapat mengatakan banyak hal, tetapi Anda harus mengingat kekuatan nasionalisme, dan itu berarti tidak seorang pun, tidak seorang pun di dunia ini ingin melihat aktor asing menentukan masa depan mereka,” tuturnya.

Iran Menantang, Ejek Keinginan Trump

Di pihak lain, para pejabat AS dan Israel mengeklaim bahwa Iran telah menderita pukulan hebat.

Kepala Pentagon Pete Hegseth menyatakan bahwa para pemimpin Iran tidak berdaya menghadapi kehancuran yang dilancarkan Washington.

Meski demikian, Teheran menunjukkan sikap menantang. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengejek keinginan Trump untuk ikut campur dalam urusan domestik Iran.

“Nasib Iran tercinta, yang lebih berharga daripada hidup, akan ditentukan semata-mata oleh bangsa Iran yang proud, bukan oleh geng (Jeffrey) Epstein,” tulis Ghalibaf di platform X.

Ghalibaf juga menambahkan bahwa Trump belum menyadari dampak besar dari keputusannya membunuh Ali Khamenei.

"Trump masih belum menyadari malapetaka apa yang telah ia timbulkan pada dirinya sendiri dan tentara Amerika dengan membunuh Imam kami (Khamenei), dan ia ingin mendiktekan syarat kepada suatu bangsa," tegasnya pada hari Jumat.

Senada dengan itu, Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Saeed Khatibzadeh, mengkritik pendekatan Trump sebagai tindakan kolonial.

Dalam konferensi Dialog Raisina di New Delhi, ia mempertanyakan logika Trump yang mengeklaim menjunjung demokrasi namun ingin menggulingkan pemimpin terpilih di negara lain.

“Bisakah Anda bayangkan pendekatan kolonial ini, bahwa ia ingin melihat demokrasi di dalam negeri, tetapi ia ingin menggulingkan presiden Iran yang terpilih secara demokratis?” ujar Khatibzadeh.

(*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.