TRIBUNJATIM.COM - Jumlah keuntungan dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menjadi sorotan setelah aksi bedah rumah yang dilakukan Khairul Umam atau Haji Her, bos tembakau di Madura.
Crazy rich Madura itu melakukan bedah rumah warga miskin di Desa Pangeleyan, Kecamatan Tanah Merah, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur.
Program bedah rumah itu dibiayai dari keuntungan dapur MBG milik Haji Her di Bangkalan.
Haji Her mengatakan, meski SPPG miliknya baru beroperasi selama sebulan, namun sudah mendapatkan keuntungan.
Baca juga: Dikenal Suka Bagi-bagi Uang ke Warga, Bos Tembakau di Madura Kaget Terdaftar Jadi Penerima Bansos
Dari seluruh keuntungan itu, dia berikan kepada masyarakat di sekitar dapur miliknya dalam bentuk bantuan membedah rumah.
"Memang kita baru jalan sebulan. Dari keuntungan MBG ini saya pakai untuk bedah rumah," ujar Haji Her, Selasa (3/3/2026).
Lalu, berapa keuntungan dari dapur MBG?
Beberapa waktu lalu, Badan Gizi Nasional (BGN) menyebut narasi yang menyebutkan bahwa Mitra SPPG memperoleh keuntungan bersih hingga Rp1,8 miliar per tahun sebagai informasi yang menyesatkan.
Demikian Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Bidang Operasional, Sony Sonjaya merespons video yang menampilkan Ketua BEM UGM yang menyebutkan bahwa Mitra SPPG memperoleh keuntungan bersih hingga Rp1,8 miliar per tahun serta dugaan mark-up bahan baku hingga isu kepemilikan dapur yang diasosiasikan dengan partai politik tertentu.
“Mitra mendapatkan ‘untung bersih’ Rp1,8 miliar per tahun adalah asumsi fiktif yang tidak berdasar pada realitas bisnis dan investasi,” kata Sony Sonjaya, Sabtu (21/2/2026) dalam keterangan yang diterima Kompas TV.
Menurut Sony, angka Rp 1,8 miliar bukanlah keuntungan bersih, melainkan pendapatan kotor maksimal.
Dengan rincian, estimasi pendapatan kotor maksimal, dengan perhitungan: Rp6.000.000 x 313 hari operasional (Minggu libur) sama dengan Rp1.878.000.000 per tahun.
Artinya, kata dia, ada biaya investasi, operasional, pemeliharaan, depresiasi, dan risiko usaha lainnya yang dikeluarkan.
Di samping itu, untuk memperoleh insentif tersebut mitra wajib membangun SPPG sesuai Juknis 401.1 Tahun 2026 yang menetapkan standar teknis sangat ketat.
Dia menjelaskan, estimasi investasi awal yang harus dikeluarkan Mitra dari dana pribadi berkisar antara Rp2,5 miliar hingga Rp6 miliar, tergantung harga lahan dan lokasi, misalnya Jakarta, Bali, Batam, atau Papua. Investasi ini merupakan belanja modal atau capital expenditure (CapEx).
Selanjutnya, sambung Sony, apabila ditemukan pelanggaran standar, misalnya alur dapur berpotensi menyebabkan cross contamination, atau terjadi penolakan permanen dari masyarakat sekitar sehingga harus relokasi, seluruh biaya bongkar, bangun ulang, dan pemindahan ditanggung 100 persen oleh Mitra.
Baca juga: Sebulan Punya Dapur MBG, Bos Tembakau Bisa Renovasi Rumah Warga Miskin dari Keuntungan: Tiap Bulan 1
BGN tidak mencairkan dana untuk risiko teknis maupun sosial yang menjadi tanggung jawab Mitra.
Dengan nilai investasi Rp2,5-6 miliar dan pendapatan kotor sekitar Rp1,8 miliar per tahun, titik impas atau break even point (BEP) secara rasional baru dapat dicapai dalam 2-2,5 tahun.
Pada tahun pertama dan kedua, Mitra pada umumnya masih berada dalam fase pengembalian modal dan depresiasi aset.
Sementara itu, melalui timnya di Bawang Merah Center (BMC), Haji Her mendapatkan data orang tidak mampu di desa tersebut, yang nanti rumahnya akan direnovasi.
Menurut dia, tim BMC melakukan kroscek lapangan untuk menentukan agar penerima tepat sasaran.
"Hari ini peletakan batu pertama untuk bedah rumah di Bangkalan," katanya, melansir dari Kompas.com.
Ia juga mengatakan bahwa dana pembangunan bedah rumah murni dari hasil dari dapur MBG miliknya yang sudah beroperasi selama sebulan.
Bahkan, Haji Her mengaku, tak mengambil keuntungan sepeserpun dari program MBG tersebut.
"Hasilnya saya buat bedah rumah agar bisa ditiru oleh dapur lain. Program MBG yang diberikan pemerintah jangan disalahgunakan hanya semata-mata mengambil keuntungan pribadi," ucapnya.
Baca juga: Cerita Wali Murid Setelah Anak Dapat Rp 50 Ribu dalam Ompreng MBG dari Haji Her: Alhamdulilah
Rencananya, Haji Her akan membangun atau merenovasi satu rumah tiap bulan untuk masyarakat Bangkalan.
Dana pembangunan itu akan diambil dari keuntungan dari dapur MBG atau SPPG miliknya setiap bulan.
"Semua hasil MBG, tiap bulan satu rumah. Sepeserpun saya tidak ambil," ujar pria asal Pamekasan itu.
Kepala Desa Pangeleyan, Zaiqulhak Alfarizi, mengaku bersyukur warganya bisa mendapatkan bantuan bedah rumah.
DIa juga bersyukur dapur MBG milik Haji Her memberikan banyak manfaat untuk warga desanya.
"Alhamdulillah setelah kemarin bagi-bagi uang untuk siswa, kali ini memberikan bantuan bedah rumah untuk warga kami yang kurang mampu. Terima kasih banyak," kata Alfarizi.