TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG -- Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, minat masyarakat cukup tinggi untuk membeli blewah (timun suri) dan kolang-kaling saat Bulan Ramadan.
Seperti di Pasar 7 Ulu Palembang, Irawati salah satu pedagang di sini mengungkapkan rasa syukurnya semenjak Bulan Ramadan, penjualan blewah dan kolang-kaling meningkat bahkan ia bisa meraih keuntungan hingga Rp350 ribu per hari.
"Alhamdulillah kalau keuntungan banyak yang beli, kolang-kaling untuk banyak dibuat kolak dan blewah bisa dicampur dengan susu dan es batu jadi mantapkan itu, salah satu hidangan favorit juga itu," ujarnya kepada wartawan Sripoku.com, saat dijumpai, Sabtu (7/3/2026).
Irawati juga mengungkapkan harga blewah Rp8 ribu per kg untuk buah yang matang dan kualitas bagus.
Selain itu kolang-kaling, dawet, dan sagu mutiara dibanderol dengan harga Rp5 ribu untuk per gelasnya.
Sedangkan untuk dawet yang kecil dibanderol harga 3 ribu dan yang besar Rp5 ribu.
Hal yang sama diungkapkan oleh pedagang blewah, Sulaiman, mengaku peningkatan omzet sudah terasa sejak beberapa hari puasa.
Aktivitas pasar juga semakin padat, dengan pedagang sibuk menyortir dan menata stok buah untuk memenuhi kebutuhan pembeli eceran hingga distributor besar.
"Alhamdulillah ramai ada saja yang beli, terus stok barang sampai H+3 lebaran biasanya pembeli sudah sepi dan memikirkan untuk membeli kue," ujar pedagang yang kerap dipanggil Maman ini.
Ia juga mengungkapkan permintaan yang meningkat membuat harga buah musiman ini ikut merangkak naik.
Saat ini harga blewah lebih tinggi dibanding hari biasa. Kenaikan terjadi sejak dua hari menjelang Ramadhan.
“Sekarang harganya naik. Ukuran kecil Rp8.000 per kilogram, yang besar Rp10.000 per kilogram,” ujarnya.
Maman, yang seorang pedagang musiman, mengungkapkan bahwa bulan Ramadan menjadi momen yang sangat menguntungkan baginya.
Ia mengambil stok blewah dari Ogan Ilir (OI) karena jaraknya yang dekat dengan Palembang, sehingga bisa menghemat biaya kirim dan memperbesar omzetnya.
Blewah dagangannya hampir selalu habis terjual setiap hari karena permintaan yang tinggi dan tidak tahan disimpan terlalu lama.
Sulaiman tidak berani menyimpan stok terlalu banyak untuk menghindari kerugian, jadi dia memilih mendatangkan barang secukupnya sesuai perkiraan penjualan harian.
"Blewah ini cepat busuk kalau terlalu lama disimpan, jadi harus cepat laku. Kalau dipaksakan tahan lama, rasanya juga sudah tidak segar," tutupnya.
Ikuti dan bergabung di saluran WhatsApp Tribunsumsel