Hamilton, Kanada (ANTARA) - Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres pada Jumat (6/3) memperingatkan tentang eskalasi militer yang sedang berlangsung di seluruh Timur Tengah dan wilayah Teluk berisiko meluas "di Luar kendali."
"Semua serangan ilegal di Timur Tengah dan sekitarnya menyebabkan penderitaan dan kerugian yang luar biasa bagi warga sipil di seluruh wilayah – dan menimbulkan risiko serius bagi ekonomi global, khususnya bagi orang-orang yang paling rentan," kata Guterres dalam sebuah pernyataan.
Dia menyerukan semua pihak untuk menghentikan pertempuran dan kembali ke meja perundingan dengan serius mengingat situasi berisiko meningkat tanpa bisa dikendalikan.
"Taruhannya sangat tinggi," tambahnya.
Sementara itu, juru bicara Guterres, Stephane Dujarric, dalam konferensi pers mengatakan bahwa Sekjen PBB akan terus melanjutkan komunikasi dengan pihak-pihak terkait "untuk mendorong kembalinya negosiasi yang serius."
Ketika ditanya seberapa jauh situasi bisa memburuk, Dujarric mengatakan: "Tidak sulit membayangkan untuk melihat bagaimana situasi ini bisa menjadi lebih buruk lagi, termasuk ancaman terhadap persatuan negara-negara anggota tertentu, penderitaan warga sipil yang terus berlanjut, atau juga situasi yang memburuk di sekitar Selat Hormuz."
Merujuk pada kemungkinan dampak serangan terhadap pasokan energi, ia mengatakan dampaknya akan dirasakan secara global dan mencatat: "Kita sudah melihat lonjakan harga minyak dan dampaknya mengingat ketergantungan kita yang terus berlanjut pada bahan bakar fosil."
Dujarric lebih lanjut melaporkan, mengutip Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), adanya "perintah pengungsian yang meluas" di Lebanon, yang menyebabkan "tekanan yang meningkat" pada warga sipil.
"Serangan udara yang terus berlanjut di seluruh negeri menewaskan dan melukai puluhan orang," katanya, seraya menambahkan bahwa di seluruh negeri, lebih dari 100.000 orang sekarang berlindung di pusat-pusat pengungsian kolektif."
Dujarric juga melaporkan bahwa rumah sakit di Beirut Selatan terpaksa menangguhkan operasi dan mengevakuasi pasien pada tanggal 5 Maret dan tetap tidak beroperasi hingga hari ini.
Sumber: Anadolu







