Jakarta (ANTARA) - Pengamat hubungan internasional Universitas Padjadjaran (Unpad) Teuku Rezasyah menilai Amerika Serikat perlu didorong untuk menghentikan konflik antara AS-Israel dan Iran.

Kepada ANTARA di Jakarta, Sabtu (7/3), Rezasyah mengatakan upaya mengundang Iran kembali ke meja perundingan dengan AS akan sulit karena selama ini Washington dinilai melanggar kesepakatan dengan Teheran dan merusak upaya titik temu melalui pemboman terhadap Iran.

Pernyataan itu disampaikan Rezasyah saat menanggapi rencana Presiden Prabowo Subianto yang berpotensi melakukan kunjungan bersama Perdana Menteri Pakistan ke Teheran untuk meredam ketegangan di kawasan.

"Ada baiknya RI dan Pakistan segera merancang pertemuan tingkat menteri luar negeri OKI, GNB (Gerakan Non-Blok), dan Liga Arab guna membahas krisis yang diprakarsai AS dan Israel, yang berpotensi menyulut Perang Dunia III," katanya.

Menurut Rezasyah, mediasi konflik AS dan Iran baru dapat dinilai berhasil apabila Presiden Prabowo dapat berdialog dengan Presiden AS Donald Trump mengenai kemungkinan penyelesaian konflik tersebut.

Namun, ia menilai hal itu sulit dilakukan karena Trump diyakini menghendaki perubahan pemerintahan di Teheran dari republik Islam menjadi pemerintahan sekuler.

Rezasyah menambahkan Indonesia perlu menegaskan posisinya di tingkat internasional dengan berlandaskan hukum internasional, Piagam PBB, dan hak asasi manusia, sekaligus memperkuat diplomasi publik serta membangun koalisi dengan negara-negara yang mendukung perdamaian.

Pada 28 Februari, AS dan Israel melakukan serangan gabungan ke Iran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Iran kemudian membalas dengan meluncurkan rudal ke Israel dan pangkalan-pangkalan militer AS di Timur Tengah.

Pada hari yang sama, Kementerian Luar Negeri RI menyerukan seluruh pihak menahan diri serta mengedepankan dialog dan diplomasi.

Ketua Dewan Penasihat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Jimly Asshiddiqie sebelumnya mengatakan Presiden Prabowo berniat datang langsung ke Iran.

Hal itu disampaikan Jimly usai mengikuti pertemuan antara kiai, ulama, dan cendekiawan Muslim dengan Presiden Prabowo di Istana Kepresidenan, Kamis malam.

Dalam pertemuan tersebut, Presiden Prabowo mengungkapkan rencananya membantu meredam eskalasi di Timur Tengah bersama Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif.

Menurut Jimly, niat Presiden Prabowo untuk meredam eskalasi tersebut disambut baik oleh PM Pakistan.