Permintaan Maaf Pezeshkian ke Negara Tetangga Iran, Singgung Kehilangan Pemimpin
Wahyu Gilang Putranto March 08, 2026 09:32 AM

TRIBUNNEWS.COM - Presiden Iran, Masoud Pezeshkian menyampaikan permintaan maaf kepada negara-negara Teluk yang terdampak oleh serangan Iran.

Pezeshkian secara khusus menyampaikan permintaan maaf kepada Bahrain, Arab Saudi, hingga Uni Emirat Arab (UEA) yang sudah terkena serangan rudal dan drone Iran beberapa hari terakhir.

Ia berdalih serangan-serangan tersebut merupakan dampak dari "miskomunikasi" di rantai komando militer Iran.

Terutama pasca-gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam serangan sebelumnya.

"Atas nama pribadi dan Iran, saya memohon maaf kepada negara-negara tetangga yang terkena serangan."

"Saya telah instruksikan agar tidak ada lagi rudal yang meluncur ke arah mereka, kecuali jika Iran diserang terlebih dahulu," kata Pezeshkian, mengutip Euronews.

Menanggapi spekulasi mengenai arah serangan balasan Iran, Pezeshkian mengklarifikasi bahwa militer Iran hanya menyasar titik-titik yang dianggap sebagai sumber agresi.

Ia memastikan bahwa negara-negara sahabat di sekitar Iran tidak menjadi target.

"Operasi pertahanan kami secara eksklusif diarahkan pada fasilitas yang menjadi asal muasal tindakan agresif terhadap bangsa Iran."

"Kami tidak menyerang negara sahabat atau tetangga; sasaran kami adalah pangkalan militer dan instalasi Amerika Serikat di kawasan ini," tegasnya.

Pezeshkian juga menambahkan bahwa rakyat Iran akan terus melawan hingga titik darah penghabisan guna menjaga kedaulatan negara.

Baca juga: Iran Akan Terus Targetkan Negara-negara Tetangga Buntut Serangan AS-Israel: di Bawah Kendali Musuh

Pernyataan ini sekaligus menjadi pesan kuat kepada Amerika Serikat (AS) dan Israel bahwa Iran memiliki legitimasi hukum internasional untuk melindungi wilayahnya dari serangan asing.

Trump Tolak Penyelesaian Perang dengan Iran

Di sisi lain, Presiden AS, Donald Trump secara tegas menyatakan tidak akan membuka pintu negosiasi apa pun dengan Teheran, kecuali jika Iran menyatakan menyerah tanpa syarat.

Pernyataan keras Trump ini memupus harapan diplomatik yang sempat muncul setelah Pezeshkian mengisyaratkan adanya upaya mediasi dari sejumlah negara.

"Tidak akan ada kesepakatan dengan Iran, kecuali penyerahan tanpa syarat!" tegas Trump, mengutip Reuters.

Selain menuntut menyerah, Trump secara kontroversial menyatakan ingin ikut campur dalam menentukan Pemimpin Agung Iran yang baru.

Hal ini menyusul tewasnya Khamenei pada hari pertama serangan udara AS-Israel pekan lalu.

"Setelah penyerahan diri dan terpilihnya pemimpin yang hebat serta bisa diterima, kami dan sekutu akan bekerja keras membangun kembali Iran agar lebih besar dan kuat secara ekonomi," tambah Trump.

Hingga saat ini, korban jiwa terus berjatuhan.

Data dari Bulan Sabit Merah Iran menyebutkan sedikitnya 1.332 warga sipil tewas dan ribuan lainnya luka-luka akibat pemboman yang menghancurkan ribuan pemukiman, sekolah, hingga fasilitas medis di Teheran dan sekitarnya.

Harga Minyak Dunia Meroket

Baca juga: Trump Ancam Serang Iran dengan Sangat Keras, Perluas Serangan untuk Target-target Baru

Tuntutan radikal dari Gedung Putih ini langsung direspons negatif oleh pasar global.

Indeks saham di Eropa dan Wall Street dilaporkan merosot tajam. Kekhawatiran akan gangguan pasokan energi makin nyata setelah Selat Hormuz, jalur pengiriman minyak paling krusial di dunia, efektif ditutup akibat pertempuran.

Harga minyak mentah dunia pun kini mencapai level tertingginya dalam beberapa tahun terakhir.

Di lapangan, pertempuran terus berkecamuk. Israel dilaporkan meluncurkan gelombang serangan baru ke wilayah Iran dan Lebanon.

Sebagai balasan, Iran melepaskan rentetan rudal dan drone ke arah Israel serta beberapa instalasi militer AS di wilayah Teluk.

(Tribunnews.com/Whiesa)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.