TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Baru-baru ini, viral unggahan video di media sosial X menunjukkan seorang anak laki-laki sedang pulang sekolah sambil membawa menu makan bergizi gratis (MBG) berupa dua tahu kuning dan satu ikan bandeng yang terbungkus plastik putih.
Unggahan berdurasi 26 detik itu menunjukkan komunikasi antara seorang anak dan ibu yang mempertanyakan maksud penyajian menu MBG tersebut apakah digoreng sendiri oleh orang tua/wali murid.
Di akhir video itu terdapat pula tulisan "MBG SD PL Sedayu SPPG Argosari Sedayu, Menunya semakin ngawur,". Video itu pun diunggah ulang oleh pengguna X @SobatMiskinTV.
"Tiada hari tanpa MBG jelek. Cuma ini kelewatan sih," tuturnya dalam caption unggahan @SobatMiskinTV dikutip Tribunjogja.com, Minggu (8/3/2026).
Sementara itu, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Pemerintah Kabupaten Bantul, Hermawan Setiaji, menjelaskan bahwa pihaknya sudah memberikan informasi kepada seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) bahwa menu MBG harus dikomunikasikan dengan pihak penerima.
"Saya sudah info ke seluruh SPPG, menu dikomunikasikan dengan pihak penerima. Ora sah sik aneh-aneh (jangan aneh-aneh), yang penting kandungan gizi masuk," ujar dia.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa sebenarnya untuk menu MBG yang dibagikan itu sudah sesuai dengan nilai gizi dan dibarengi dengan petunjuk penyimpanan hingga anjuran konsumsi untuk hari yang sama saat didistribusikan.
Untuk porsi kecil terdapat satu roti pisang seharga Rp2.500, satu bandeng presto Rp4.500, dan dua tahu ungkep Rp1.000 dengan kandungan gizinya meliputi energi 350,6 kkal, protein 20,8 gram, lemak 12,2 gram, karbohidrat 43,1 gram, dan serat 4,8 gram.
Untuk porsi besar berupa satu roti pisang Rp2.500, satu bandeng presto Rp4.500, dua tahu ungkep Rp1.000, dan buah Rp2.000 dengan kandungan gizi meliputi energi 402,4 kkal, protein 21,8 gram, lemak 12,3 gram, karbohidrat 56,1 gram, dan serat 7,4 gram.
Saat disinggung terkait syarat dan sasaran pembagian antara porsi kecil dan besar itu, Hermawan mengaku tidak mengetahuinya.
"Saya nggak tahu persis," ucap dia.
Kendati begitu, ia membenarkan bahwa menu yang viral di media sosial tersebut berasal dari SPPG Argosari Sedayu. Proses distribusi menu dari SPPG kepada siswa dilakukan pada Sabtu (7/3/2026).
Terpisah, Kepala SPPG Argosari, Muhammad Labib Jalali, memberikan klarifikasi bahwa sebenarnya menu ikan bandeng dan tahu itu sudah dikukus atau diungkep. Hanya saja, menu itu memang tidak diberi bumbu, sehingga tampilannya sedikit mengecoh.
"Kan anaknya (anak dalam unggahan video) bilang ikan mentah. Padahal kan itu sudah matang dan saya sudah memastikan sendiri pada jam 03.00 WIB di dapur ini bandeng mentah atau sudah matang. (Tim juru masak menjawab) sudah matang, sudah dikukus," urainya.
Tidak hanya itu saja, ia turut memastikan bahwa tahu kuning yang disajikan sudah diungkep. Dengan begitu, menu sajian MBG tersebut sudah bisa langsung dimakan dan layak konsumsi.
"Kebetulan menu kita yang minggu ini yang ungkep dan dikukus, karena menanggapi dari pihak sekolah ada yang komentar kok menunya roti terus. Jadi, kami ganti dengan ayam ungkep, tahu ungkep, tempe ungkep, tempe kukus, sama bandeng yang terakhir disajikan pada hari Sabtu," tutur dia.
Kebetulan, penerima menu MBG basah pada saat itu hanya SD PL Sedayu. Sebab, penerima manfaat MBG dari sekolah lain rata-rata melaksanakan ibadah puasa Ramadan, sedangkan SD PL Sedayu tidak melakanakan ibadah puasa.
Dengan begitu, pada Senin-Jumat disajikan makanan basah dan menggunakan ompreng seperti biasa. Namun, SD PL Sedayu tetap mendapatkan menu kering seperti sekolah penerima MBG lainnya khusus hari Sabtu.
Sejauh ini, sekolah yang kerap mendapatkan menu kering berupa makanan ungkep dan rebus selama Ramadan tidak ada yang komplain.
"Mereka pun sudah saya kasih petunjuk penyimpanan, terus label harga sama petunjuk konsumsinya. Dan enggak ada yang komplain kesulitan mau menggoreng lagi. Tidak ada komplain dari sekolah-sekolah lain," jelasnya.
Sedangkan, dalam video yang beredar terdapat pertanyaan bahwa orang tua/wali murid menggoreng lagi atau bagaimana. Ia mengaku sangat menyayangkan hal tersebut. Sebab, jika menu tidak sesuai, orang tua/wali murid maupun penerima MBG bisa langsung komplain kepada pihaknya.
"Kan kalau komplain ke kami bisa langsung saya ganti saat itu juga. Nah itu sangat menyayangkan sekali, tiba-tiba diunggah, di blow up di Sosmed jadi bisa kayak gini. Dari pihak sekolah ya juga menyayangkan ini terjadi karena bisa dibicarakan baik-baik," ucapnya.
Di sisi lain, Labib siap sedia melakukan komunikasi dengan pihak sekolah. Hanya saja, terkait apa saja menu MBG selama seminggu ke depan tidak bisa disampaikan ke penerima MBG. Itu sebagai antisipasi kejadian sabotase, sehingga belum ada SPPG yang membagikan menu MBG selama seminggu ke depan.
"Itu juga termasuk untuk memastikan dahulu logistik bahan baku dari supplier ada atau tidak. Kalau terjadi perubahan tiba-tiba, maka ada revisi dadakan," jelas dia.
Kini, ia berharap kepada seluruh penerima MBG maupun orang tua/wali murid penerima MBG untuk menyampaikan apabila ada komplain terkait menu MBG. Apalagi, masing-masing sekolah memiliki PIC atau pihak penanggungjawab sekolah terkait penerima MBG.
"Kalau pun ada laporan, ada temuan, ada komplain, dan segala macam bisa lapor ke pihak PIC sekolah. Nanti PIC sekolah lapor ke kita dan langsung kita tindak lanjuti," paparnya.
Sebagai contoh, saat ada distribusi satu pisang agak benyek atau sudah terlalu matang pada beberapa waktu lalu. Kata Labib komplain itu langsung ditindaklanjuti dengan memgganti empat pisang layak konsumsi.
"Ya ini sebagai layanan. Kami mengganti itu tidak pakai dana dari BGN. Untuk mengganti itu ya pakai dana sendiri. Artinya iya (layanan yang diberikan sudah maksimal). Itu masih ada bukti chatnya," jelas dia.
Sebagai langkah tindak lanjut, Labib menyampaikan bahwa besok Senin (9/3/2026) akan datang ke SD PL Sedayu untuk melakukan mediasi atau klarifikasi bersama pihak lurah, panewu, dan pihak-pihak terkait.
"Semoga kejadian ini enggak berlanjut berlarut-larut. Karena dasarnya cuma salah paham. Iya (miskomunikasi). Kalau itu langsung ngomong ke saya, langsung saya tindak lanjuti," ucap Labib.
Untuk memaksimalkan layanan MBG, pihaknya juga siap menerima permintaan ragam menu MBG dari penerima manfaat MBG. Akan tetapi, permintaan menu itu harus diiringi dengan pertimbangan nilai gizi.
"Kalau emang cocok, emang layak, emang sehat ya kita lanjutkan. Nanti yang menampung request itu ahli gizi. Kalau tidak layak, tidak sesuai dengan nilai gizi, tidak bisa diteruskan," katanya.
Sebagai contoh, kata Labib sempat ada permintaan ayam geprek dari siswa. Namun, menu itu tidak bisa diberikan karena bersifat pedas, sehingga dikhawatirkan mengganggu pencernaan penerima MBG.
"Untuk SPPG Argosari ini sudah beroperasi sejak 17 November 2025 ini kepada 17 sekolah dengan jumlah 1.680 penerima manfaat MBG," tandasnya.(nei)