TRIBUNJATIM.COM - Seorang tukang cukur yang ada di Malang ternyata menyimpan kisah menarik selama hidupnya.
Sekitar 7 hingga 8 tahun lalu, Ricko memutuskan untuk berubah dan mulai menjalani kehidupan yang lebih baik.
Meskipun berjalan cukup perlahan, namun pasti.
Ricko ingin hidup bermanfaat untuk sesama.
“Mungkin belum sepenuhnya berhijrah. Tapi saya ingin sisa hidup saya bermanfaat,” ucapnya.
perjalanan hidup Ricko tidak selalu serapi potongan rambut yang ia buat hari ini.
Pria kelahiran 1991 ini pernah menjalani masa muda sebagai anak jalanan.
Sebelum dikenal sebagai barber yang sukses dan aktif dalam kegiatan sosial, Ricko sempat hidup tanpa arah di jalanan Kota Malang.
Ricko lahir dan besar di kawasan Ciliwung, Kecamatan Blimbing, Kota Malang.
Saat masih duduk di bangku SMP, ia mulai mengenal kehidupan anak punk dan sering menghabiskan waktu bersama teman-temannya di jalan.
Ia bahkan kerap tidak pulang ke rumah.
“Dulu sering enggak pulang. Kalau pulang ya sudah dipastikan bau arak (alkohol),” kenang Ricko kepada Kompas.com, Senin (9/3/2026) petang, dikutip TribunJatim.com, Selasa (10/3/2026).
Kehidupan di jalanan membuatnya putus sekolah. Ia tidak melanjutkan pendidikan ke jejang SMA.
Hari-harinya pun diisi dengan kegiatan tanpa arah. Tidur berpindah-pindah, mengamen kesana-kemari, hidup selayaknya anak jalanan.
Alih-alih menyesali masa muda. Ricko justru mengaku belajar banyak tentang kebersamaan dan kerasnya hidup.
“Kalau diingat, saya hidup di jalan. Tapi dari situ saya belajar tentang kebersamaan dan hidup seadanya,” ujar Ricko tersenyum tipis.
Kini Ricko merupakan seorang tukang cukur eksklusif yang notabene cukup ramai pelanggan di Kota Malang.
Namun Ricko tetap memiliki hati yang lembut untuk para anak-anak.
Dari keinginan untuk memberi manfaat itulah lahir sebuah komunitas bernama Gerakan Barber untuk Rakyat (GBUR).
Komunitas ini memiliki program sosial bernama “Jumat Ganteng” yaitu kegiatan mencukur rambut gratis bagi anak-anak pondok pesantren, panti asuhan, yatim, dan dhuafa.
Ricko bersama 8 rekan secara kolektif rutin datang ke pondok atau panti untuk mencukur rambut anak-anak. Setelah kegiatan mencukur selesai, mereka biasanya makan bersama.
“Biasanya habis nyukur kami makan bareng sama adik-adik panti,” katanya.
Baca juga: Bacaan Niat Zakat Fitrah untuk Diri Sendiri, Istri, Anak dan Keluarga, Simak juga Syaratnya
Bagi Ricko, pertemuan dengan anak-anak panti selalu meninggalkan kesan mendalam.
Tak jarang, mereka sering bercerita tentang kampung halaman, keluarga, hingga kerinduan terhadap orang tua.
Dari cerita-cerita itulah Ricko justru merasa banyak belajar tentang kehidupan.
“Saya belajar dari mereka. Bagaimana mereka menghormati guru, bagaimana adab mereka dengan orang yang lebih tua. Bagaimana arti hidup sesungguhnya,” ujarnya.
Tak jarang ia juga meneteskan air mata saat melihat kondisi sebagian anak-anak tersebut. Pengalaman itu juga membuat Ricko semakin bersyukur atas kehidupan yang ia miliki saat ini.
“Awal-awal saya sering nangis. Melihat anak-anak kecil yang tidak punya ayah ibu,” katanya.
Tak hanya memberikan layanan cukur gratis, Ricko juga mulai mengajarkan keterampilan mencukur kepada anak-anak pondok. Kelas pelatihan itu berlangsung sekitar 2 minggu.
Awalnya ide tersebut datang dari seorang ustaz di pondok pesantren yang berharap para santri bisa memiliki keterampilan tambahan.
Dalam pelatihan itu, para santri diajarkan mulai dari ilmu dasar mencukur rambut. Mulai dari mengenal alat potong rambut, memahami model potongan, hingga praktik langsung.
Menurut Ricko, banyak di antara mereka yang akhirnya mampu mencukur dengan baik. Ia berharap keterampilan tersebut bisa menjadi bekal di masa depan.
“Setidaknya nanti kalau mereka sudah dewasa, mereka punya basic. Bisa membuka peluang kerja,” ujarnya.
Bagi Ricko, hidup kini terasa jauh lebih bermakna.
Ia tidak lagi sekadar memikirkan penghasilan dari kursi cukur, tetapi juga bagaimana keahliannya bisa bermanfaat bagi orang lain.
“Saya cuma ingin jadi orang yang bermanfaat. Hidup ini buat apa sih? Semua orang nanti akan mati dan tidak membawa apa-apa,” tutupnya.
Baca juga: 10 Bocil Ponorogo Diciduk Polisi usai Rakit Petasan-Balon Udara, Patungan Uang Jajan Buat Beli Bahan
Perjalanan hidup Ricko berubah pada 2012. Ia memutuskan pergi ke Bali dan tinggal di sana selama 2 tahun.
Di Pulau Dewata itulah ia mulai serius menekuni dunia barber.
Meski sudah memiliki dasar mencukur, Ricko ingin memperdalam teknik memotong rambut.
Ia pun mengikuti sekolah barber di Bali.
Di sana ia belajar berbagai teknik potongan rambut, memahami model, hingga standar kerja barber profesional.
Setelah menyelesaikan pelatihan, Ricko mendapatkan sertifikat. Bekal itulah yang kemudian ia bawa pulang.
Pada 2014 Ricko kembali ke kota kelahirannya, Malang.
Ia kemudian bekerja sama dengan seorang teman untuk membuka barber shop.
Baca juga: Sedekah Udi Tukang Cukur Pasang Tarif Cuma Rp 5.000 ke Warga, Dulu Rp 2.000 Diprotes Terlalu Murah
Perlahan usahanya berkembang.
Pelanggan datang silih berganti.
Rezekinya juga terus mengalir deras.
Namun, di titik itu pula bapak dari 3 anak itu justru memulai merasakan kegelisahan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.
Ia merasa semua keinginannya mudah tercapai. Apa pun yang ingin ia beli bisa terpenuhi.
Tetapi ia menyadari ada sesuatu yang hilang dalam hidupnya.
“Saya takut. Kenapa saya bisa punya semuanya tapi malah tidak ingat dengan yang Maha Kuasa,” tuturnya lirih.
Bahkan, kata Ricko, perasaan itu bahkan membuatnya tidak bisa tertidur selama 3 hari.
Ia merasa gelisah dan ingin memperbaiki hidupnya.
“Waktu itu benar-benar bingung. Saya cuma ingin kembali ke jalan yang benar,” katanya.