TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Gaya hidup sehat selama ini sering dianggap sebagai kunci utama untuk mencegah berbagai penyakit serius, termasuk kanker. Banyak orang berupaya menjaga kesehatannya dengan tidak merokok, rutin berolahraga, menjaga berat badan tetap ideal, mengatur pola makan, hingga menghindari konsumsi alkohol.
Baca juga: Pegal di Pinggang Sering Dianggap Sepele, Dokter Ungkap Bisa Jadi Tanda Awal Kanker Ginjal
Namun dalam praktiknya, tidak sedikit orang yang telah menjalani kebiasaan hidup sehat justru tetap didiagnosis kanker. Fenomena ini kerap menimbulkan kebingungan dan pertanyaan di tengah masyarakat mengenai bagaimana sebenarnya kanker dapat muncul pada seseorang yang terlihat memiliki gaya hidup sehat.
Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Hemato Onkologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr Nur Melani Sari, Sp.A, Subsp.HO(K), menjelaskan bahwa proses terbentuknya kanker di dalam tubuh manusia sangat kompleks dan tidak dapat dijelaskan hanya oleh satu faktor penyebab saja.
Menurutnya, setiap manusia pada dasarnya memiliki potensi untuk mengalami kanker karena sel-sel tubuh secara alami terus mengalami proses pembelahan sepanjang hidup.
“Sebenarnya kita semua ini di dunia ini, memiliki potensi untuk mengalami kanker. Karena setiap sel membelah, kan kita tuh bertumbuh. Berarti kalau bertumbuh bertambah besar, ketika dia tumbuh, ada yang smooth, ada yang nggak gitu,” jelasnya dalam media briefing virtual, Selasa (10/3/2026).
Ia menjelaskan, dalam proses pembelahan sel tersebut terkadang terjadi kesalahan atau perubahan pada sel yang kemudian berkembang secara tidak normal. Jika perubahan ini tidak dapat dikendalikan oleh sistem tubuh, sel tersebut berpotensi berkembang menjadi sel kanker.
Dr Nur Melani menegaskan bahwa gaya hidup memang menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi risiko kanker, tetapi faktor tersebut bukanlah satu-satunya penentu.
Baca juga: Kisah Perjuangan Vidi Aldiano Lawan Kanker Menginspirasi Marsha Aruan dan Ghea Indrawari
Menurutnya, ada faktor internal yang juga memiliki peran besar, terutama yang berkaitan dengan kondisi genetik seseorang.
“Gaya hidup is one of the reason, atau hanya salah satu faktor, yang internally memang banyak banget ditentukan secara genetik juga,” ujarnya.
Selain faktor genetik yang berkaitan dengan DNA, terdapat pula faktor lain yang memengaruhi bagaimana gen tersebut bekerja. Dalam dunia medis, kondisi tersebut dikenal sebagai faktor epigenetik, yaitu perubahan yang memengaruhi aktivitas gen tanpa mengubah struktur dasar DNA.
Karena melibatkan banyak mekanisme biologis, hingga kini para ilmuwan masih terus mempelajari proses terbentuknya kanker di dalam tubuh manusia.
Dr Nur Melani menyebut perubahan dari sel normal menjadi sel kanker merupakan proses yang sangat rumit dan melibatkan banyak faktor yang saling berkaitan.
“Algoritmanya atau kumpulan-kumpulan faktornya, itu tuh sangat kompleks banget,” katanya.
Ia menambahkan, meskipun seseorang telah menjalani pola hidup sehat, kemungkinan terkena kanker tetap ada. Namun demikian, gaya hidup sehat tetap memiliki peran penting dalam menurunkan berbagai risiko penyakit dan menjaga kondisi tubuh tetap optimal.
Baca juga: Tentang Penyakit Kanker Ginjal, 6 Tahun Diderita Vidi Aldiano, Meninggal 22 Hari Jelang Ultah Ke-36
Karena itu, masyarakat tetap dianjurkan untuk menjaga pola hidup sehat sekaligus meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan kondisi tubuh. Deteksi dini melalui pemeriksaan kesehatan secara berkala juga dinilai penting untuk meningkatkan peluang penanganan yang lebih baik jika suatu penyakit terdeteksi lebih awal.