Laporan Reporter Tribun Jogja Christi Mahatma Wardhani
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Persaingan usaha di bisnis percetakan nota membuat Rosid Slameto (40) mampu menangkap peluang usaha lainnya. Masih linear dengan percetakan, ia memulai usaha sajadah traveling custom pada 31 Maret 2023.
Rosid mengungkapkan ceruk pasar fesyen muslim di Indonesia cukup besar. Sebagai negara dengan umat Islam terbesar, Indonesia menjadi pasar yang baik untuk mengembangkan alat ibadah, termasuk sajadah.
Pengembangan sajadah traveling ini pun tidak mudah. Ia tidak memiliki pengetahuan tekstil yang mumpuni. Akhirnya ia pun mencari informasi secara mandiri.
Sajadah traveling yang ia kembangkan pun tidak langsung diminati pasar. Butuh sekitar satu tahun untuk membuat sajadah traveling buatannya dikenal publik.
“Jadi selama satu tahun itu menanam-menanam, baru panen. Karena edukasi pasarnya cukup menjadi tantangan. Sajadah traveling ini cocok untuk umat muslim yang suka bepergian, karena mudah dilipat, mudah dimasukkan ke tas, bisa dicantolin di kunci juga mudah, pemakaiannya juga mudah,” katanya saat ditemui di Jalan Babaran No 14, Pandeyan, Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Selasa (10/3/2026).
Meski awalnya tidak langsung diterima oleh pasar, lambat laun usahanya berkembang pesat, khususnya Ramadan. Ia mengakui permintaan sajadah custom meningkat hampir 100 persen saat Ramadan.
Ia menyebut satu bulan sebelum memasuki Ramadan mulai terjadi peningkatan permintaan. Mayoritas pesanan sajadah custom buatannya dipesan untuk suvenir.
Harga yang ditawarkan pun bersahabat, mulai dari Rp 50.000 hingga Rp 100.000.
“Harganya tergantung pilihan bahan, pilihan bentuk, pilihan finishing, dan pilihan alas. Ada yang alas belacu, alas antislip tanpa busa, ada penambahan rumbai. Kalau costumer belakangan ini lebih suka kain yang waterproof, karena harganya murah. Rata-rata memang untuk suvenir, jarang sekali yang untuk pemakaian pribadi,” terangnya.
Untuk desain, pihaknya siap membantu tanpa dikenakan biaya tambahan. Pihaknya juga tidak membatasi minimal order. Artinya, meskipun konsumen hanya memesan satu sajadah pun akan tetap dilayani.
Pada momen Ramadan ini, rata-rata produksinya mencapai 150 sajadah per hari. Selama Ramadan ia menerima sekitar 1.500 hingga 2.000 pesanan sajadah, baik dari perorangan, perusahaan, hingga biro haji dan umrah.
Namun ia melihat adanya penurunan pesanan dibandingkan Ramadan tahun lalu. Sebab tahun lalu ia memproduksi lebih dari 5.000 sajadah pada bulan Ramadan.
“Kurang tahu ya kenapa, mungkin daya beli masyarakat sedang turun,” ujarnya.
Tidak hanya diterima di pasar domestik, sajadahnya juga disambut positif di pasar mancanegara. Sajadahnya sudah diekspor ke beberapa negara, seperti Malaysia, Singapura, dan Jepang.
“Di lokal Jogja banyak (pesanan), dalam negeri banyak, Alhamdulillah. Beberapa kali kirim ke luar negeri, ke Malaysia, Singapura, dan Jepang. Kami kan punya website, sehingga bisa dikenal semakin luas,” pungkasnya. (maw)