4 Masalah Inter Milan setelah Kalah di Derby della Madonnina, PR Besar Chivu
Cornel Dimas Satrio March 11, 2026 12:14 AM

TRIBUNKALTARA.COM - Kekalahan di Derby della Madonnina menyisakan 4 masalah serius bagi Inter Milan, Cristian Chivu kini harus menghadapi Pekerjaan Rumah (PR) besar.

Hasil pahit kalah 0-1 dari AC Milan masih membekas di skuad Inter Milan, Senin (9/3/2026).

Gol tunggal Pervis Estupinan menjadi petaka bagi Nerazzurri dalam perburuan Scudetto musim 2025/2026.

Pasalnya, kekalahan tersebut membuat AC Milan mampu memangkas jarak poin menjadi -7 dari.

Secara mentalitas, bisa saja hasil ini membuat Nerazzurri terpuruk lantaran tak bisa menang dalam 7 pertemuan terakhir kontra Rossoneri.

Lebih mengecewakan lagi, kekalahan itu memutus rekor tak terkalahkan Inter Milan di Serie A sejak November tahun lalu.

Pelatih Inter Milan, Cristian Chivu menghadapi pekerjaan rumah (PR) besar pasca-kekalahan ini.

Kendati masih memimpin klasemen Serie A 2025/2026 dengan 67 poin dari 28 pertandingan, Chivu harus menuntaskan PR secepatnya agar keadaan tak semakin memburuk.

CEDERA - Aksi Alessandro Bastoni pada pertandingan AC Milan vs Inter Milan yang bertajuk Derby della Madonnina, pekan 28 Liga Italia Serie A, di Stadion San Siro, Senin (9/3/2026). Bek Nerazzurri itu mengalami cedera seusai berbenturan dengan Adrien Rabiot.
CEDERA - Aksi Alessandro Bastoni pada pertandingan AC Milan vs Inter Milan yang bertajuk Derby della Madonnina, pekan 28 Liga Italia Serie A, di Stadion San Siro, Senin (9/3/2026). Bek Nerazzurri itu mengalami cedera seusai berbenturan dengan Adrien Rabiot. (inter.it)

Baca juga: 4 Fakta Kemenangan AC Milan di Derby della Madonnina, Senyum Allegri Menuju Scudetto

4 Masalah Inter Milan

Selepas kekalahan di Derby della Madonnina, Inter Milan menghadapi 4 masalah serius:

1. Alessandro Bastoni Cedera

Bek asal Italia, Alessandro Bastoni menjadi tumbal kekalahan Inter melawan AC Milan.

Pilar utama lini belakang Nerazzurri dengan peran krusial dalam membangun serangan dan distribusi bola dari belakang, harus keluar sambil meringis kesakitan di Derby della Madonnina.

Bastoni ditarik keluar pada menit 68 setelah mendapat benturan keras di tibia (tulang kering) akibat duel dengan Adrien Rabiot, yang juga membuatnya mendapat kartu kuning.

Diagnosis awal menunjukkan contusion berat (memar parah) tanpa patah tulang.

Akibatnya, Alessandro Bastoni harus absen beberapa laga, termasuk pertandingan krusial melawan Atalanta akhir pekan ini.

Tanpa Bastoni, Inter Milan kehilangan kualitas passing akurat dan kepemimpinan di lini belakang.

Musim ini, pertahanan Nerazzurri tergolong solid lantaran hanya kebobolan 22 gol dalam 28 laga, rata-rata 0.79 gol per laga.

Namun cedera yang menimpa bek 26 tahun itu bisa membuat lini belakang Inter lebih rentan, terutama melawan tim yang kuat di counter-attack seperti AC Milan.

Sebagai alternatif, Chivu perlu menyiapkan Carlos Augusto dan Francesco Acerbi. Sayangnya kedua pemain ini tak memiliki kualitas seperti Bastoni.

Rotasi darurat perlu dilakukan Chivu dengan mengombinasikan pengalaman Acerbi dan kebugaran Carlos Augusto sebagai pelapis.

2. Lini Tengah Kebingungan

Di Derby della Madonnia, Inter Milan memang mendominasi penguasaan bola dan menciptakan lebih banyak peluang (11 tembakan).

Tetapi, masalahnya adalah lini tengah gagal efektif menembus pertahanan lawan yang bermain rapat.

Operan Zielinski, Barella, maupun Mkhitaryan terlalu lambat, bertele-tele, dan kurang penetrasi ke area berbahaya.

Bahkan mereka tampak kebingungan saat ruang lini depan tertutup.

Baca juga: Rating Pemain AC Milan vs Inter Milan di Liga Italia, Hukuman Telak Allegri untuk Chivu

Akibatnya para gelandang kerap melakukan kesalahan yang tidak perlu dan panik saat mendapat serangan balik.

Penguasaan bola tinggi tapi kurang konversi peluang berkualitas menjadi masalah serius yang harus diselesaikan Chivu.

Allenatore asal Rumania itu perlu solusi mengganti komposisi lini tengah yang lebih agresif dan kreatif.

Barella sudah tak sebagus musim lalu, yang seharusnya tak perlu dipaksakan turun sejak menit awal.

Henrikh Mkhitaryan pun kehilangan sentuhan terbaiknya di depan gawang.

Chivu masih memiliki Petar Sucic, Hakan Calhanoglu, dan Davide Frattesi yang perlu kembali mendapatkan kepercayaan diri untuk bisa bermain optimal.

3. Lini Depan Mandul

Masalah berikutnya adalah lini depan Inter Milan mandul dan tak banyak menghasilakn ancaman ke lawan.

Bahkan ini sudah terjadi dalam dua laga beruntun.

Melawan Como yang berakhir 0-0 di semifinal Coppa Italia, Pio Esposito dan Marcus Thuram tak bisa berbuat banyak.

Menghadapi AC Milan, Inter punya peluang bagus seperti sundulan Ange-Yoan Bonny dan volley Pio Esposito di injury time, tapi finishing keduanya buruk.

Catatan tersebut sangat buruk, mengingat untuk kali pertama musim ini, anak asuh Cristian Chivu gagal mencetak gol dalam dua pertandingan beruntun.

Sebenarnya secara keseluruhan, barisan depan Nerazzurri sangat produktif dengan torehan 64 gol dalam 28 laga, atau rata-rata 2.3 gol per laga).

Sayangnya, di momen krusial ini, ketajaman para penyerang hilang.

LINI DEPAN MANDUL - Penyerang Inter Milan, Pio Esposito mendapat penjagaan ketat dari bek AC Milan, Koni De Winter, pada pertandingan Derby della Madonnina, pekan 28 Liga Italia Serie A, di Stadion San Siro, Senin (9/3/2026). Lini depan Nerazzurri mandul dalam dua laga terakhir termasuk saat kekalahan melawan Rossoneri.
LINI DEPAN MANDUL - Penyerang Inter Milan, Pio Esposito mendapat penjagaan ketat dari bek AC Milan, Koni De Winter, pada pertandingan Derby della Madonnina, pekan 28 Liga Italia Serie A, di Stadion San Siro, Senin (9/3/2026). Lini depan Nerazzurri mandul dalam dua laga terakhir termasuk saat kekalahan melawan Rossoneri. (legaseriea.it)

Baca juga: 4 Pemain Inter Milan Bakal jadi Tumbal di Bursa Transfer, Calhanoglu dan Thuram Potensial

Absennya striker utama seperti Lautaro Martinez dan Marcus Thuram mungkin turut berkontribusi.

Tetapi Ange-Yoan Bonny dan Pio Esposito harus memberikan variasi serangan yang berbuah gol kemenangan.

Ini yang perlu menjadi perhatian Chivu jika tidak ingin Nerazzurri semakin terkejar dalam perburuan Scudetto.

4. Tak Pernah Bisa Comeback

Pola kekalahan Inter Milan musim ini sangat terlihat konsisten, yaitu semua kekalahan terjadi setelah  kebobolan lebih dulu di babak pertama.

Dalam lima kekalahan di Serie A, Nerazzurri selalu kebobolan lebih dulu.

Di derby, gol Estupinann datang di babak pertama, dan Inter Milan gagal membalikkan keadaan meski mendominasi penguasaan di babak kedua.

Tidak ada catatan comeback signifikan dari ketinggalan di babak pertama musim ini.

Hal tersebut menunjukkan mentalitas dan adaptasi taktik Cristian Chivu masih perlu ditingkatkan saat tertinggal.

Reaksi tim cenderung panik, bingung, dan terlalu lambat merespons, bukan langsung agresif mencari gol penyeimbang.

Dengan 10 laga tersisa, Nerazzurri tak boleh lagi sulit membalikkan kedudukan saat tertinggal.

Apalagi masih ada Atalanta, Fiorentina, AS Roma, Como, Lazio, dan Bologna yang punya kualitas untuk mencetak gol lebih dulu ke gawang lawan.

Ini akan menjadi petaka apabila Inter Milan masih dengan mentalitas yang sama seperti di Derby della Madonnina.

(*)

(TribunKaltara.com / Cornel Dimas SK)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.