Iran Ancam Bunuh Trump, Larijani: Hati-Hati Agar Anda Tidak Dieliminasi!
Budi Sam Law Malau March 11, 2026 12:30 AM

WARTAKOTALIVE.COM -- Iran kini secara terbuka menyatakan diri sebagai pemegang kendali mutlak atas dinamika keamanan di kawasan, termasuk jalur vital Selat Hormuz.

Seiring dengan itu ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas setelah pejabat keamanan tertinggi Iran melontarkan peringatan keras kepada Presiden AS Donald Trump, karena bisa dilenyapkan,

Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, secara personal memperingatkan Trump agar berhati-hati supaya dirinya tidak terbunuh atau tereliminasi, sebagai balasan atas kematian Pemimpin Revolusi Islam, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei.

Peringatan itu disampaikan Larijani melalui serangkaian unggahan di platform X pada Selasa (10/2026), seperti dilansir BBC.

Baca juga: Iran Tunggu Armada Laut AS di Selat Hormuz Usai Trump Ancam Serang 20 Kali Lebih Keras

Sinyal Balas Dendam: Trump dalam Bidikan

Larijani menegaskan bahwa bangsa Iran tidak gentar menghadapi ancaman dari Washington.

Ia menyebut ancaman Trump terhadap Iran sebagai “ancaman kosong” yang tidak akan membuat Teheran mundur.

“Bahkan mereka yang lebih besar dari Anda tidak mampu memusnahkan bangsa Iran,” tulis Larijani.

Ia kemudian menutup pesannya dengan peringatan tajam kepada Trump.

“Berhati-hatilah agar Anda sendiri tidak dilenyapkan,” tegas Larijani.

Pernyataan ini dipahami banyak analis sebagai sinyal bahwa Iran menempatkan nyawa para pengambil kebijakan AS dan Israel sebagai sasaran setimpal atas gugurnya Ayatollah Khamenei.

Dipicu Ancaman Trump soal Selat Hormuz

Pernyataan keras Larijani muncul setelah Trump sebelumnya mengancam Iran terkait kemungkinan gangguan terhadap jalur minyak dunia di Strait of Hormuz.

Melalui platform Truth Social, Trump mengatakan bahwa Iran akan diserang “20 kali lebih keras” oleh Amerika Serikat jika aliran minyak melalui selat strategis tersebut dihentikan.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi paling penting di dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak global dikirim melalui jalur laut sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab tersebut.

Baca juga: Usai Tegaskan Dukungan Rusia ke Iran Tak Tergoyahkan, Putin Bicara dengan Trump Bahas Timur Tengah

Selat Hormuz Bisa Jadi “Selat Perdamaian atau Penderitaan”

Dalam pernyataan lain yang diunggah dalam enam bahasa, Larijani juga memperingatkan bahwa Selat Hormuz dapat menjadi jalur perdamaian atau justru menjadi sumber penderitaan bagi pihak yang memicu perang.

“Selat Hormuz akan menjadi selat perdamaian dan kemakmuran bagi semua, atau menjadi selat kekalahan dan penderitaan bagi para penghasut perang,” tulisnya.

Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran global bahwa konflik di Timur Tengah dapat mengganggu pasokan energi dunia.

Trump Frustasi, Iran Pengendali Kawasan

Juru bicara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Brigadir Jenderal Mohammad Ali Naeini, melontarkan pernyataan keras yang menyebut bahwa Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, saat ini berada dalam kondisi frustrasi akibat balasan militer Iran yang efektif.

Menurut IRGC, peta kekuatan di Timur Tengah kini telah bergeser sepenuhnya ke tangan angkatan bersenjata Iran.

Naeini menyoroti retorika Presiden Trump baru-baru ini yang ia klaim sebagai upaya untuk menutupi kekalahan militer Amerika Serikat di lapangan.

Ia menyebut pernyataan Trump tentang kekuatan militer Iran yang disebutnya telah berakhir adalah upaya manipulasi opini publik untuk melarikan diri dari tekanan psikologis akibat kekalahan memalukan pasukannya.

"Setelah menderita kekalahan memalukan dalam perang melawan Iran, Trump berusaha mengalihkan perhatian dengan kebohongan demi menutupi keputusasaan pasukannya," tegas Naeini, Selasa (10/3/2026).

Naeini mengeklaim bahwa klaim Trump mengenai keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz hanyalah isapan jempol.

Berdasarkan intelijen Iran, kapal-kapal perang serta jet tempur AS justru telah mundur hingga lebih dari 1.000 kilometer dari zona konflik guna menghindari gempuran rudal dan drone Iran.

Kondisi di lapangan pun digambarkan cukup ironis bagi pihak koalisi.

Naeini menyebut banyak tentara AS di pangkalan-pangkalan regional terpaksa melarikan diri ke pusat kota dan berlindung di hotel-hotel, sementara tentara Israel dilaporkan menggunakan warga sipil sebagai perisai manusia dengan bersembunyi di dalam fasilitas perkotaan.

Blokade Minyak dan Penentuan Akhir Perang

Sebagai bentuk tekanan strategis, IRGC memastikan tidak akan membiarkan satu liter pun minyak diekspor dari kawasan tersebut untuk kepentingan kapal-kapal AS maupun Israel selama agresi terus berlangsung.

Iran menekankan bahwa mereka memegang keunggulan strategis dalam perang ini.

"Angkatan bersenjata kami kini memegang kendali. Iran-lah yang akan menentukan kapan perang ini berakhir, bukan para agresor," pungkas Naeini, menutup pernyataan dengan sinyal bahwa Iran siap mempertahankan kedaulatan negaranya hingga titik darah penghabisan.

Israel Gempur Beirut

Di tengah memanasnya konflik kawasan, militer Israel Defense Forces juga mengumumkan telah meluncurkan gelombang serangan baru ke ibu kota Beirut, Lebanon.

Dalam pernyataan di Telegram, militer Israel mengatakan serangan tersebut menargetkan infrastruktur Hezbollah di kawasan Dahieh, pinggiran selatan Beirut.

Serangan terbaru itu terjadi setelah laporan adanya sejumlah ledakan di ibu kota Iran, Tehran, pada hari yang sama.

Eskalasi konflik ini meningkatkan kekhawatiran internasional akan meluasnya perang di kawasan Timur Tengah.

AS Klaim Diuntungkan

Pemerintah Amerika Serikat menegaskan bahwa dampak akhir dari konflik dengan Iran diyakini akan tetap menguntungkan Washington, sekaligus membuka kemungkinan pengawalan kapal di jalur energi strategis dunia, Strait of Hormuz.

Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dalam konferensi pers di Pentagon ketika menjawab pertanyaan terakhir wartawan mengenai kemungkinan berakhirnya operasi militer lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya.

Hegseth menegaskan bahwa apa pun hasil akhirnya, Amerika Serikat tidak akan hidup di bawah ancaman senjata nuklir atau tekanan dari negara lain.

“Pada akhirnya, dampak setelah perang ini akan berada dalam kepentingan Amerika,” kata Hegseth.

Ia juga menegaskan bahwa Washington tidak akan membiarkan situasi di mana Amerika hidup di bawah “pemerasan nuklir” atau bayang-bayang ancaman keamanan dari pihak lain.

Pentagon Klaim AS Paling Hati-hati Hindari Korban Sipil

Dalam kesempatan yang sama, Hegseth juga menanggapi pertanyaan terkait langkah Pentagon untuk meminimalkan korban sipil dalam serangan militer di Iran.

Menurutnya, tidak ada negara yang lebih berhati-hati dibanding Amerika Serikat dalam menghindari penargetan warga sipil.

“Tidak ada negara yang mengambil lebih banyak langkah pencegahan untuk memastikan tidak ada penargetan terhadap warga sipil selain Amerika Serikat,” ujarnya.

Baca juga: Putin Ucapkan Selamat kepada Mojtaba Khamenei, Tegaskan Dukungan Rusia ke Iran Tak Tergoyahkan

Ia menambahkan bahwa setiap tuduhan terkait korban sipil akan diselidiki, namun penilaian mengenai apa yang sebenarnya terjadi tidak bisa hanya didasarkan pada informasi sumber terbuka.

Pertanyaan tersebut muncul setelah laporan menyebut sebuah rudal Tomahawk missile milik AS menghantam pangkalan militer di dekat sebuah sekolah dasar di Iran selatan.

Analisis video oleh para ahli menunjukkan rudal tersebut mengenai fasilitas militer yang berada dekat sekolah.

Otoritas Iran menyatakan serangan itu menewaskan 168 orang, termasuk sekitar 110 anak-anak.

Hegseth menambahkan bahwa Presiden Donald Trump memandang kondisi Selat Hormuz sebagai isu yang sangat serius.

Sebelumnya, Trump memperingatkan Iran agar tidak menghentikan aliran minyak melalui jalur pelayaran vital tersebut.

Selat Hormuz sendiri merupakan rute strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia, sehingga setiap gangguan berpotensi memicu krisis energi global.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.