Dosen Universitas Teheran Asal Bandung Dievakuasi Untuk Kedua Kali Dari Iran, Alasannya Keluarga
Adi Suhendi March 11, 2026 12:32 AM

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Suasana riuh terasa saat 22 Warga Negara Indonesia (WNI) keluar dari Arrivals Lounge Umrah, Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta pada Selasa (10/3/2026) sekira pukul 18.51 WIB.

Puluhan orang itu terlihat berjalan di belakang Menteri Luar Negeri (Menlu), Sugiono dan pejabat terkait setelah sampai dengan selamat di tanah air.

Di tengah riuhnya suasana itu, seorang pria mengenakan jas sambil menggendong sebuah tas berdiri di tengah puluhan orang tersebut dengan tatapan kosong.

Ia adalah Purkon Hidayat, seorang WNI yang telah berhasil dievakuasi ke Indonesia dari Teheran, Iran saat situasi konflik di wilayah tersebut tengah memanas akibat serangan Amerika Serikat-Israel.

Purkon dan keluarganya dievakuasi untuk yang kedua kalinya setelah sebelumnya ia juga pernah dievakuasi dalam serangan militer Israel pada Juni 2025 lalu.

Baca juga: Ketika Serangan Israel-AS Datang di Jam Sibuk, Cerita WNI Bertahan saat Rudal Menghantam Teheran

Tanggung jawabnya sebagai seorang Dosen pasca-sarjana Kajian Asia Tenggara Fakultas Ilmu Politik dan Hukum di Universitas Teheran membuat dirinya sempat kembali lagi ke Iran untuk mengajar.

Namun lagi-lagi, warga Bandung, Jawa Barat ini memutuskan untuk menarik diri dengan kembali ke Indonesia demi kepentingan keluarganya.

"(Alasan mau dievakuasi) Karena saya bawa keluarga ya, sekolah anak saya juga harus saya perhatikan," kata Purkon ketika ditemui.

Baca juga: Tembus Jalur Udara Konflik Iran, Menlu Matangkan Skenario Evakuasi WNI Gelombang Kedua

Apalagi menurutnya, serangan yang terjadi di Iran baru-baru ini merupakan konflik yang paling rumit selama 25 tahun tinggal di Iran.

"Saya tinggal di (Kota) Teheran-nya, dan ini konflik menurut saya konflik yang paling rumit ya dari selama 25 tahun saya di sana. Artinya, dengan perang Juni lalu itu pun, prediksi saya ini akan lama," tuturnya.

Untuk itu, ia masih belum memutuskan apakah akan kembali ke Iran untuk kembali mengajar dalam waktu dekat.

Ia hanya memastikan keluarganya tidak akan kembali ke sana.

"Untuk mempertimbangkan kembali lagi ke sana, saya pikir sangat sulit. Dengan waktu yang sangat dekat ini tidak mungkin. Jadi keluarga saya jelas tidak akan kembali lagi," tuturnya.

Untuk urusan pekerjaan, Purkon mengaku akan berkoordinasi dengan pihak kampus agar bisa mengajar via daring.

22 WNI Tiba di Indonesia

Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono secara langsung menyambut ketibaan rombongan WNI gelombang pertama di Terminal Kedatangan Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, pada Selasa (10/3/2026) sore.

Langkah evakuasi ini diambil menyusul eskalasi konflik berdarah pasca-serangan yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran.

Mengawali keterangan persnya, Sugiono nampak melempar senyum dan menyampaikan proses pemulangan WNI ke Tanah Air gelombang pertama ini berjalan dengan lancar.

"Alhamdulillah pada sore hari ini kita menerima kedatangan saudara-saudara kita yang kembali dari Tehran, dalam rombongan yang tergabung dalam gelombang pertama proses repatriasi Warga Negara Indonesia," kata Sugiono.

Sugiono pun merinci, pada gelombang pertama ini, terdapat puluhan WNI yang berhasil diselamatkan dari zona konflik. 

Dia pun menyebut, bahwa proses evakuasi ini tidak berhenti sampai di sini, melainkan akan terus dilanjutkan secara bertahap.

"Sore ini ada 22 saudara-saudara kita yang kembali di gelombang pertama ini. Besok 10 lagi yang berasal dari Iran," ungkapnya.

Lebih lanjut, Sugiono membeberkan bahwa Kemenlu saat ini tengah mempersiapkan evakuasi gelombang kedua. 

Pasalnya, tingginya tensi militer di Timur Tengah membuat puluhan WNI lainnya berbondong-bondong mendaftarkan diri untuk segera keluar dari Iran.

"Kemudian gelombang kedua, saat ini, per sore ini sudah ada 36 yang mendaftarkan diri untuk bisa repatriasi ke tanah air dari Iran," tegasnya.

Menlu memastikan bahwa negara tidak akan lepas tangan terhadap para WNI.

Sejak serangan AS dan Israel pecah, Kemenlu langsung menyiagakan perwakilan RI di negara-negara terdampak untuk memantau keselamatan para WNI.

"Kami dari Kementerian Luar Negeri terus melakukan koordinasi yang cukup erat, sangat erat, dengan perwakilan-perwakilan kita yang ada di negara-negara tersebut. Hari demi hari, jam demi jam, kita lakukan penilaian terhadap situasi," pungkas Sugiono.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.