Cerita Ahmad Hukam di Jantung Teheran: Ungkap Detik-Detik Menegangkan Serangan Udara di Iran
Rustam Aji March 11, 2026 03:26 PM

TRIBUNBANYUMAS.COM, PURWOKERTO – Ahmad Hukam Mujtaba (25), mahasiswa magister asal Desa Sirau, Kabupaten Banyumas, berhasil dievakuasi kembali ke tanah air setelah terjebak di tengah eskalasi perang Iran.

Mahasiswa jurusan Sejarah di Ahlul-Bayt International University (ABU) ini memberikan kesaksian mencekam mengenai situasi di Teheran saat serangan udara mulai menghantam pusat pemerintahan.

Hukam mengungkapkan bahwa situasi berubah drastis pada Sabtu, 21 Februari 2026 (2 Ramadan), ketika serangan mulai menyasar fasilitas kementerian dan kantor pemerintahan di Teheran.

Meski tidak berada di titik ledakan langsung, ia menyaksikan kehadiran pesawat nirawak (drone) yang beroperasi di langit ibu kota.

"Di sana saya melihat drone-drone beroperasi. Pemandangan seperti itu memang terlihat jelas," ujar Hukam saat dihubungi pada Rabu (11/3/2026).

Baca juga: Mencekam, Mahasiswa Banyumas di Iran Lihat Serangan Drone Hingga Internet Diputus

Blokade Komunikasi dan Internet

Ketegangan memuncak pada 1 Maret 2026 ketika pemerintah Iran mulai mematikan jaringan internet secara total. Langkah ini diambil di tengah imbauan evakuasi mandiri yang dikeluarkan bagi warga asing.

Pemutusan akses informasi ini membuat komunikasi mahasiswa Indonesia dengan keluarga di tanah air menjadi sangat terbatas.

"Waktu perang tidak bisa berkomunikasi bebas. Sebelum internet mati, kami sudah menyampaikan kepada orang tua bahwa komunikasi akan terganggu," kenang alumni FKIP UMP angkatan 2024 tersebut.

Menurut Hukam, jaringan telepon seluler biasa masih berfungsi namun tidak dapat digunakan untuk melakukan panggilan internasional, sehingga informasi mengenai kondisi para pelajar hanya bergantung pada pemantauan ketat dari KBRI Teheran.

Nasib Mahasiswa Indonesia di Iran

Hukam menjelaskan bahwa dari sekitar 150 mahasiswa Indonesia yang menempuh studi di Iran, tidak semuanya memilih untuk pulang.

Tercatat sebanyak 22 orang, termasuk dirinya, memutuskan untuk kembali ke Indonesia demi keamanan.

"Pihak KBRI memberikan pilihan. Bagi yang ingin pulang dipersilakan, sementara yang memilih bertahan tetap dalam pengawasan dan pemantauan kedutaan," jelasnya.

Baca juga: Tujuh Tahun Tinggal Menumpang, Keluarga Ratman di Kebumen Terharu Bisa Lebaran di Rumah baru

Harapan Kelanjutan Studi

Meski saat ini sudah berada di Jakarta dan dalam perjalanan menuju Banyumas, Hukam masih menyisakan satu tahun masa studi magister.

Ketertarikannya pada sejarah peradaban Persia yang telah berusia 2.500 tahun membuatnya tetap berharap konflik segera mereda.

Saat ini, kelanjutan perkuliahannya masih menggantung. Pihak kampus di Teheran tengah mengkaji kemungkinan skema pembelajaran daring atau penghentian sementara studi (force majeure) hingga situasi keamanan kembali stabil.

"Saya berharap konflik segera mereda sehingga dapat kembali menyelesaikan program magister yang telah saya jalani," pungkasnya.(jti)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.