SERAMBINEWS.COM, TEHERAN – Kepala Dewan Keamanan Iran, Ali Larijani, mengeluarkan peringatan keras terhadap Presiden Amerika Donald Trump menyusul ancaman serangan yang dilontarkan Trump melalui media sosial.
Trump, melalui akun Truth Social pada Senin (9/3/2026) malam, menyatakan akan melancarkan serangan dua kali lebih keras jika Iran terus menutup Selat Hormuz.
Dalam pernyataannya, Trump menekankan bahwa serangan Amerika akan menargetkan infrastruktur Iran yang sulit dibangun kembali sebagai negara.
“Kematian, api, dan amarah akan menimpa mereka, tetapi saya berharap, dan berdoa, agar itu tidak terjadi!” tulisnya.
Iran Tak Gentar
Menanggapi ancaman tersebut, Larijani menegaskan bahwa Iran tidak takut terhadap tekanan atau ancaman dari Amerika.
Dikutip dari Middle East Eye, Larijani menulis di media sosial X, “Rakyat Iran yang mencintai Ashura tidak takut akan ancaman kosongmu, karena mereka yang lebih hebat darimu pun gagal menghapusnya. Jadi waspadalah, jangan sampai kalian yang lenyap.”
Larijani menambahkan, Selat Hormuz akan tetap menjadi jalur perdamaian dan kemakmuran bagi semua pihak, tetapi juga menjadi titik kekalahan bagi penghasut perang.
Pernyataan ini diunggah dalam beberapa bahasa, termasuk Persia, Inggris, Rusia, Arab, Prancis, dan Mandarin.
Baca juga: Perang Iran Picu Krisis Energi Baru? Harga Minyak Dunia Naik Turun Tak Terkendali
Penutupan Selat Hormuz
Larijani menegaskan, Iran akan terus menutup Selat Hormuz jika Amerika dan Israel melanjutkan serangan mereka.
Selat Hormuz merupakan jalur laut sempit di antara Semenanjung Musandam di Oman dan Iran, yang memiliki peran strategis bagi perdagangan energi global.
Sekitar 20 juta barel minyak melewati Selat Hormuz setiap hari, terdiri dari 14 juta barel minyak mentah dan 6 juta barel produk petroleum. Selain itu, sekitar sepertiga dari gas alam cair (LNG) global juga melalui jalur ini.
Negara-negara Asia sangat bergantung pada selat ini, dengan Korea Selatan mengimpor 70 persen minyak mentah dari Timur Tengah, Jepang 90 persen, dan India sekitar 50 persen.
Selat ini menjadi pusat perhatian dunia karena perannya yang vital dalam stabilitas pasokan energi global.