Jadwal Sidang Isbat Lebaran 2026, Potensi Perbedaan Idul Fitri 1447 H Pemerintah dan Muhammadiyah
Amalia Husnul A March 11, 2026 05:08 PM

 

TRIBUNKALTIM.CO - Potensi perbedaan tanggal Hari Raya Idul Fitri 2026 antara Pemerintah dan Muhammadiyah disinggung Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Pratikno.

Sebelumnya, PP Muhammadiyah telah menetapkan 20 Maret 2026 sebagai hari Lebaran.

Sedangkan Pemerinta baru akan menetapkan Hari Raya Idul Fitri 1447 H setelah sidang isbat pada 19 Maret 2026.

Rabu (11/3/2026), Pratikno mengatakan, "Memang terdapat potensi perbedaan Hari Raya Idul Fitri, nanti kita tunggu hasilnya, tapi itu tidak mengganggu ya mengenai jadwal libur dan seterusnya." 

Baca juga: Kapan Sidang Isbat Idul Fitri 2026? Ini Jadwal Resmi Penetapan Lebaran 1447 H

"Nanti sidang isbat (pemerintah) akan diselenggarakan pada tanggal 19 Maret." 

Pratikno menyampaikan, kalaupun penetapan Hari Raya Idul Fitri antara pemerintah dan Muhammadiyah berbeda, sebenarnya itu tidak masalah.

Hanya saja, Pratikno tetap berharap pemerintah dan Muhammadiyah ber-Lebaran pada hari yang sama.

"Nah ini nanti 1 Syawal-nya itu beda atau tidak, ya semoga sama, kalaupun beda tidak apa-apa," ucap Pratikno.

Menurut Pratikno, yang paling penting adalah bagaimana umat Muslim saling menghargai pilihannya satu sama lain.

"Jadi ya kita memang ya kita tidak harus sama, kita bisa berbeda.

Tapi yang penting adalah kita saling menghormati, saling menghargai jika memang terdapat perbedaan hasil sidang isbat di tanggal 1 Syawal," imbuhnya seperti dikutip TribunKaltim.co dari kompas.com.

Belum Mencapai Kriteria MABIMS

Menyoroti kemungkinan perbedaan penetapan Idul Fitri 1447 H Pemerintah dan Muhammadiyah, Direktur Urusan Agama Islam Kemenag RI Arsad buka suara.

Menurut Arsad, untuk saat ini, posisi hilal pada akhir Ramadhan secara perhitungan hisab masih belum memenuhi kriteria visibilitas hilal yang ditetapkan oleh negara anggota MABIMS (Malaysia, Brunei, Indonesia, dan Singapura).

"Jadi kalau berdasarkan hitungan hisab, untuk ketinggian itu 0 sampai 3 derajat, tertinggi itu ada di Aceh ya.

Kemudian untuk elongasi 4 sampai 6 derajat. Di ketinggian mungkin memenuhi tapi dari sudut elongasi itu masih kurang," ujar Arsad dalam konferensi pers isu terkini di Kantor Kemenag, Jakarta Pusat, Senin (9/3/2026).

Dalam standar MABIMS, kata Arsad, ketinggian hilal minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat.

Meskipun dari sisi ketinggian hilal ada kemungkinan memenuhi syarat, tetapi dari aspek elongasi masih belum mencapai batas minimal yang ditetapkan dalam kriteria MABIMS.

Maka dari itu, kata dia, 1 Syawal 1447 Hijriah atau Idul Fitri 2026 antara ketetapan Pemerintah dengan Muhammadiyah berpeluang kembali berbeda seperti penentuan awal Ramadhan.

Walaupun demikian, Arsad meminta masyarakat tetap memantau hasil keputusan sidang isbat yang bakal digelar pada 19 Maret 2026.

"Jadi kalau berdasarkan kriteria visibilitas hilal MABIMS, emang apa ya, masih tidak mungkin untuk bisa dilihat, tapi keputusan akhir tetap nanti kita menunggu hasil sidang Isbat yang akan dilaksanakan di tanggal 19 Maret," ucapnya seperti dikutip TribunKaltim.co dari kompas.com.

Pelaksanaan Sidang Isbat

Dalam menentukan awal bulan Hijriah, pemerintah menggunakan metode kombinasi hisab (perhitungan astronomi) dan rukyat (pengamatan hilal).

Sidang akan berlangsung di Auditorium H.M. Rasjidi, Kantor Kementerian Agama, Jakarta, mulai pukul 16.00 WIB.

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag Abu Rokhmad mengatakan, sidang isbat kembali digelar di auditorium tersebut setelah beberapa ruangan sebelumnya menjalani renovasi.

Lokasi itu dipilih karena dinilai memadai untuk menampung tamu undangan serta lebih mudah dari sisi pengaturan lalu lintas dan parkir.

Apalagi, sebagian masyarakat dan pegawai biasanya sudah memasuki masa mudik menjelang akhir Ramadhan.

Abu menyampaikan, persiapan sidang telah dilakukan sesuai prosedur, baik dari sisi substansi maupun dukungan teknis.

“Pelaksanaan sidang didasarkan pada data hisab dan hasil rukyat yang diverifikasi, serta melalui mekanisme yang terbuka kepada publik,” ujar Abu dikutip dari situs resmi Kemenag RI, Jumat (6/3/2026).

Ia menambahkan, sidang isbat akan melibatkan banyak pihak, mulai dari pakar astronomi hingga perwakilan organisasi masyarakat Islam.

Beberapa lembaga yang terlibat di antaranya Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), planetarium, observatorium, serta instansi terkait lainnya.

“Karena melibatkan representasi yang luas, keputusan sidang isbat memiliki legitimasi keagamaan yang kuat,” tegasnya seperti dikutip TribunKaltim.co dari kompas.com.

Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kemenag Arsad Hidayat mengatakan, pihaknya juga mematangkan persiapan teknis, termasuk koordinasi pemantauan hilal di berbagai daerah di Indonesia.

“Dari sisi teknis, kami telah menyiapkan dukungan sarana dan prasarana sidang, sistem pelaporan rukyat, serta koordinasi dengan titik-titik pemantauan hilal di seluruh Indonesia.

Harapannya, proses sidang dapat berjalan tertib, akurat, dan informatif bagi masyarakat,” jelasnya.

Arsad mengimbau masyarakat menunggu hasil sidang isbat untuk mengetahui penetapan resmi Hari Raya Idul Fitri.

Rangkaian sidang nantinya diawali dengan seminar posisi hilal.

Setelah itu dilanjutkan dengan verifikasi laporan rukyatul hilal dari berbagai wilayah.

Selanjutnya pemerintah menggelar sidang isbat tertutup sebelum akhirnya Menteri Agama mengumumkan secara resmi penetapan 1 Syawal 1447 Hijriah.

Prediksi BRIN

Sebelumnya, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkirakan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah atau Lebaran 2026 berpotensi jatuh pada tanggal yang berbeda. 

Berdasarkan perhitungan astronomi, Idul Fitri 1447 H versi pemerintah diperkirakan jatuh pada 21 Maret 2026.

Hal ini merujuk pada posisi hilal saat maghrib pada 19 Maret 2026 di wilayah Asia Tenggara yang belum memenuhi kriteria MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura).

Menurut kriteria tersebut, hilal dinyatakan terlihat jika memiliki tinggi minimal 3 derajat dan sudut elongasi 6,4 derajat.

Sementara, PP Muhammadiyah telah lebih dulu menetapkan awal Ramadhan, Syawal, dan Zulhijah 1447 Hijriah melalui Maklumat Nomor 2/MLM/I.0/2025.

Maklumat itu menerangkan, ijtimak jelang Syawal 1447 H terjadi pada hari Kamis, 30 Ramadhan 1447 bertepatan dengan 19 Maret 2026 M, pukul 01.23.28 UTC.

Pada saat Matahari terbenam di hari ijtimak terjadi, sebelum pukul 24.00 UTC ada wilayah di muka bumi yang memenuhi Parameter Kalender Global (PKG) 1, yaitu tinggi bulan > 5 derajat dan elongasi bulan > 8 derajat.

Baca juga: Kapan Sidang Isbat Idul Fitri 2026? Ini Jadwal Resmi Kemenag dan Lokasi

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.