Buku Karya Yusra Habib Abdul Gani Ungkap Sejarah Konflik Aceh dan Dinamika Perjuangan GAM
Eddy Fitriadi March 11, 2026 11:23 PM

 

 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Fikar W Eda | Jakarta

SERAMBINEWS.COM, JAKARTA - Sebuah buku setebal 449 halaman berjudul “Mengutuk ‘Tarian Pang Tibang’ dengan Kemarau Kemarahan” karya Yusra Habib Abdul Ghani, hadir sebagai karya yang mengulas perjalanan panjang konflik di Aceh, mulai dari masa kolonial hingga dinamika politik Aceh setelah perdamaian.

Dalam buku ini, Yusra Habib yang kini bermukim di Denmark, menelusuri sejarah konflik vertikal antara Aceh Darussalam dengan kekuatan kolonial seperti Portugis, Belanda, Jepang, hingga konflik dengan pemerintah Indonesia. Uraian sejarah tersebut kemudian dilanjutkan dengan pembahasan mengenai konflik horizontal di kalangan masyarakat Aceh sendiri, yang turut membentuk dinamika sosial dan politik di daerah tersebut.

Salah satu bagian penting yang diangkat adalah Peristiwa Cumbok (1945–1946), yang menggambarkan konflik internal di Aceh pada awal masa kemerdekaan Indonesia. Buku ini juga mengulas konflik internal di dalam tubuh Gerakan Aceh Merdeka (GAM), baik yang terjadi di dalam negeri maupun di luar negeri, termasuk berbagai peristiwa tragis yang menandai perpecahan di antara sesama pejuang.

Selain itu, buku ini juga memaparkan kemunculan milisi dan pihak-pihak yang disebut sebagai “penumpang gelap” dalam perjuangan Aceh Merdeka, serta mengulas peran komponen masyarakat sipil dalam upaya mengakhiri konflik antara Aceh dan pemerintah Indonesia.

Dalam analisisnya, Yusra Habib Abdul Gani mencoba menjawab pertanyaan mendasar mengenai faktor-faktor yang menyebabkan melemahnya bahkan runtuhnya perjuangan Aceh Merdeka, serta rapuhnya gerakan masyarakat sipil dalam memperjuangkan agenda politik Aceh.

Penulis mengemukakan pandangan kritis mengenai dinamika internal masyarakat Aceh, yang menurutnya tidak hanya dikenal sebagai bangsa pejuang yang tangguh, tetapi juga menghadapi persoalan konflik internal, pengkhianatan, dan lemahnya tradisi perundingan politik.

Buku ini juga menyoroti proses perundingan antara GAM dan pemerintah Indonesia yang berlangsung di Jenewa (2000–2002) hingga lahirnya MoU Helsinki pada tahun 2005. Dalam bagian ini, penulis memberikan analisis kritis terhadap sejumlah klausul perjanjian, termasuk soal amnesti bagi anggota GAM.

Selain itu, buku ini juga menyinggung dinamika politik menjelang wafatnya Hasan di Tiro pada tahun 2010, termasuk proses perubahan status kewarganegaraan beliau menjadi Warga Negara Indonesia yang terjadi menjelang akhir hayatnya di Rumah Sakit Zainal Abidin Banda Aceh. Peristiwa tersebut kemudian diikuti oleh perubahan status kewarganegaraan sejumlah tokoh GAM lainnya dalam waktu singkat.

Menurut buku ini, setelah wafatnya Hasan di Tiro, arah perjuangan politik Aceh mengalami perubahan signifikan. Banyak mantan kombatan GAM memilih berpartisipasi dalam sistem politik Indonesia melalui partai lokal, yang kemudian memunculkan berbagai perdebatan mengenai masa depan perjuangan politik Aceh.

Baca juga: Sejarah Aceh Hari Ini: 26 Tahun Pembantaian Tgk Bantaqiah di Beutong Ateuh: Luka yang Tak Sembuh

Buku ini juga mencatat bahwa sejak wafatnya Hasan di Tiro pada tahun 2010, konsep kepemimpinan nasional dalam gagasan Negara Aceh Darussalam dianggap mengalami kekosongan hingga kemudian muncul upaya membentuk kembali Pemerintahan Negara Acheh Darussalam (PNAD) pada tahun 2020.

Meski baru beredar, buku “Mengutuk ‘Tarian Pang Tibang’ dengan Kemarau Kemarahan” telah menarik perhatian publik. Buku ini bahkan direncanakan naik cetak kedua dalam waktu dekat.

Diskusi mengenai isi buku tersebut juga telah dilakukan melalui platform digital, termasuk dua kali bedah buku melalui akun TikTok Diaspora Indonesia–Inggris milik Yusradi Usman al-Gayoni pada 5 dan 6 Maret 2026.

Melalui pendekatan historis, kritik politik, dan refleksi sosial, karya ini diharapkan dapat menjadi bahan diskusi penting dalam memahami perjalanan konflik Aceh serta tantangan masa depan politik Aceh di tengah dinamika Indonesia kontemporer.

Yusradi Usman al-Gayoni diaspora Gayo di London secara terpisah mengatakan, "Ini salah satu buku yang sangat penting bagi perjalanan sejarah Aceh, " Kata Yusradi. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.