SRIPOKU.COM - Reza Pahlavi, putra mantan Shah Iran di pengasingan, meminta rakyat Iran tetap berada di rumah mereka dan melanjutkan aksi mogok kerja.
Imbauan tersebut diharapkan tetap dilakukan sembari menunggu seruan terakhir darinya.
“Kita kini telah mencapai tahap yang sangat sensitif dalam perjuangan akhir ini," ujarnya dalam sebuah pidato yang ditujukan kepada rakyat Iran Rabu (11/3/2026) di saat serangan udara Amerika Serikat (AS) dan Israel terus berlanjut.
Reza Pahlavi dikenal sebagai mantan keluarga penguasa lama Iran yang mendukung serangan militer AS dan Israel terhadap Iran.
Baca juga: Iran: Kami Tak Akan Biarkan Satu Liter Minyak Sampai ke Amerika Serikat dan Israel
"Saya meminta Anda untuk segera mengamankan pasokan kebutuhan pokok yang diperlukan dan, demi keselamatan Anda, tinggalkan jalanan dan tetaplah di rumah,” kata Reza Pahlavi dikutip Iran Internasional.
Dilansir Aljazeera, Pahlavi juga menyerukan agar aksi seruan dari atap rumah (nightly rooftop chants) setiap malam terus dilakukan sebagai simbol persatuan.
Dalam pesannya kepada aparat kepolisian dan pasukan militer Iran, ia menyatakan bahwa ini adalah kesempatan terakhir bagi mereka untuk memisahkan diri dari pemerintah Iran.
Mengutip Kompas.com, Reza Pahlavi adalah putra sulung sekaligus putra mahkota dari Mohammad Reza Pahlavi, Shah (Raja) terakhir Iran yang digulingkan dalam Revolusi 1979.
Reza Pahlavi lahir di Teheran pada 31 Oktober 1960.
Status pangeran resmi ia sandang sejak 1967.
Pada usia 17 tahun, Reza meninggalkan Iran pada usia 17 tahun.
Tujuannya kala itu adalah untuk menjalani pelatihan pilot jet Angkatan Udara di Amerika Serikat.
Beberapa bulan setelah kepergiannya, revolusi meletus dan memaksa keluarganya melarikan diri dari Iran.
Sejak saat itu, ia menghabiskan sebagian besar hidupnya di pengasingan, terutama di wilayah Washington D.C., AS.