SURYA.co.id – “Fungsi intelijen adalah menjadi mata dan telinga negara untuk mendeteksi ancaman, bukan menjadi tangan yang menyiramkan air keras ke wajah aktivis.”
Pernyataan keras itu mencerminkan kegelisahan Ketua Dewan Nasional SETARA Institute, Hendardi, menyusul pengungkapan kasus penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus.
Hendardi menilai, penetapan empat anggota Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI sebagai pelaku merupakan sinyal bahaya serius dalam tata kelola kekuasaan intelijen di Indonesia.
Ia menyebut, jika benar keterlibatan itu terbukti, maka kasus ini menjadi indikasi adanya penyalahgunaan wewenang yang fatal.
“Jika benar ada keterlibatan prajurit TNI dari BAIS sebagai pelaku penyiraman air keras kepada Andrie Yunus, hal itu merupakan pelanggaran sangat serius terhadap fungsi intelijen TNI,” ujarnya, Kamis (19/3/2026), dikutip SURYA.co.id dari Tribunnews.
Hendardi menegaskan bahwa fungsi intelijen militer seharusnya berada pada jalur pertahanan negara, bukan menjadi alat represif terhadap warga sipil.
Ia mengingatkan bahwa lembaga intelijen dibekali kewenangan, sumber daya, dan kemampuan khusus untuk mendeteksi ancaman strategis.
Penyalahgunaan perangkat tersebut untuk menyerang warga sipil dinilai sebagai bentuk pengkhianatan terhadap mandat negara.
“(Intelijen,-red) Bukan sebagai alat untuk mengintai dan membuntuti aktivitas warga negara yang kritis,” tegasnya.
Baca juga: Andrie Yunus Disiram Air Keras, Akankah 4 Prajurit TNI Diadili di Pengadilan Sipil? Cek Aturannya
Lebih jauh, ia menilai tindakan kekerasan seperti penyiraman air keras bukan sekadar tindak kriminal, tetapi juga menciptakan efek teror yang luas.
Aksi semacam ini berpotensi menimbulkan ketakutan sistematis bagi masyarakat sipil, khususnya mereka yang aktif mengkritik pemerintah atau institusi militer.
Dalam konteks ini, Hendardi juga menekankan pentingnya transparansi dalam penanganan kasus.
Ia menolak jika proses hukum hanya dilakukan secara internal tanpa akuntabilitas publik.
Pernyataan Hendardi menjadi tekanan langsung bagi institusi TNI, khususnya pimpinan tertinggi.
Kasus ini dinilai sebagai ujian serius terhadap komitmen reformasi dan profesionalisme militer.
Sorotan publik kini tertuju pada langkah yang akan diambil oleh pimpinan TNI, termasuk apakah proses hukum akan menyentuh aktor intelektual di balik kasus ini.
Sebelumnya, Komandan Pusat Polisi Militer (Danpuspom) Mabes TNI, Yusri Nuryanto, mengungkap dalam jumpa pers bahwa empat pelaku berasal dari BAIS TNI.
Hendardi pun mendesak agar tidak hanya pelaku lapangan yang diproses, tetapi juga pihak-pihak yang memberi perintah.
“Menteri Pertahanan, Panglima TNI, dan Kepala BAIS harus diperiksa oleh TGPF dan dimintai pertanggungjawaban atas keterlibatan prajurit di bawah komandonya,” ujarnya.
Selain itu, ia juga mendorong pembentukan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) oleh Presiden Prabowo Subianto guna memastikan investigasi berjalan objektif dan menyeluruh.
“Komnas HAM yang membentuk tim khusus, dan masyarakat sipil yang memiliki tim independen, perlu diorkestrasi dalam satu tim gabungan,” kata Hendardi.
Penyelidikan kasus penyiraman air keras terhadap aktivis Andrie Yunus memasuki babak baru. Polda Metro Jaya akhirnya mengungkap identitas awal para terduga pelaku.
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Iman Imanuddin, menyebut dua dari empat pelaku telah teridentifikasi melalui analisis rekaman CCTV serta pemeriksaan sejumlah saksi.
"Dari satu data Polri ini, satu inisial BHC dan dua Inisial MAK,” kata Iman dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (18/3/2026), dikutip SURYA.co.id dari Tribunnews.
Dalam konferensi pers tersebut, polisi turut menampilkan potongan gambar yang memperlihatkan wajah terduga pelaku, terutama yang diduga sebagai eksekutor.
Dari rekaman itu, terlihat dua orang pelaku berboncengan menggunakan sepeda motor.
Pengendara mengenakan kemeja biru dengan kaos merah di bagian dalam, sementara orang yang dibonceng terlihat memakai topi.
Polisi juga memaparkan pergerakan pelaku sebelum dan sesudah kejadian. Salah satu temuan penting adalah adanya pergantian pakaian setelah aksi dilakukan, yang memperkuat dugaan perencanaan matang.
Pihak kepolisian memastikan bahwa gambar wajah pelaku yang beredar bukan hasil manipulasi teknologi.
“Ini hasil gambar yang kami peroleh, ini sama sekali tidak kami lakukan perubahan atau pengolahan. Sehingga kami dapat dipertanggungjawabkan ini bukan hasil AI,” ucapnya.
“Ini adalah murni hasil pengambilan dari CCTV dari jalur yang dilalui pelaku. Sehingga bukan hasil AI. Kita sama-sama bisa lihat ini adalah orang yang menyiramkan cairan,” sambungnya.
Meski demikian, polisi belum mengungkap apakah para pelaku telah diamankan atau masih dalam pengejaran.
Sebelumnya, di tengah upaya pencarian pelaku, media sosial tengah dihebohkan dengan foto wajah pria diduga pelaku.
Foto tersebut kali pertama diunggah oleh akun X (dulu Twitter) @Robe1807, Sabtu (14/3/2026).
Dalam unggahannya, akun tersebut juga menyertakan tangkapan layar dari akun resmi United Nations Human Rights Office yang menyoroti kasus penyiraman air keras terhadap Andrie.
Foto yang beredar menampilkan dua pria yang berboncengan sepeda motor.
Pengendara di depan terlihat mengenakan topi biru muda dan helm hitam, sementara pria di belakang memakai kemeja biru tua tanpa helm.
Terkait foto itu, AKBP Roby Saputra memastikan hasil olahan artificial intelligence (AI).
"Kami terganggu dengan editing foto ini karena mendistrak ciri-ciri pelaku sebenarnya,” ujar Roby.
Penyidik menemukan sejumlah kejanggalan pada foto tersebut.
Misalnya, pada bahu kanan pengendara yang tampak seperti membawa tas ransel, tetapi tidak terlihat tas di bagian punggungnya.
Bentuk tangan yang mengepal di bagian pinggang kanan pengendara juga dinilai tidak wajar.
“Belum ke sana (pengunggah foto editan AI). Kami prioritaskan yang lebih utama ungkap perkara penyiraman air kerasnya,” tegas Roby.
Sementara Kapolda Metro Jaya, Asep Edi Suheri, meminta masyarakat bersabar.
“Masih dilakukan pendalaman, ya. Anggota saya masih bekerja, doakan saja bisa terungkap dengan cepat,” kata Asep.
Saat ini, tim digital forensik tengah menelusuri identitas pelaku melalui rekaman CCTV asli di sekitar Jalan Salemba I–Talang, Senen.
“(Identitas pelaku) masih dalam penyidikan,” tutur Roby.