Tribunlampung.co.id, Pringsewu - Ratusan personel Polres Pringsewu disiagakan untuk mengamankan pelaksanaan salat Idul Fitri yang digelar jemaah Muhammadiyah, Jumat (20/3/2026).
Pengamanan dilakukan di tengah perbedaan penetapan hari raya, setelah pemerintah melalui sidang isbat menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.
Sejak pagi buta, aparat telah bersiaga di berbagai lokasi pelaksanaan salat Idul Fitri. Sedikitnya ada 27 titik salat Idul Fitri Muhammadiyah di Kabupaten Pringsewu, Lampung.
Antara lain, Masjid Taqwa Pringsewu, Terminal Gadingrejo, Lapangan Muhammadiyah Ambarawa, hingga Lapangan Garuda Pardasuka.
Petugas tampak mengatur arus lalu lintas yang mulai meningkat, sekaligus membantu jemaah menyeberang menuju lokasi ibadah.
Baca juga: Khotib Muhajir Ingatkan Warga Muhammadiyah Implementasikan Madrasah Ramadan
Di beberapa lokasi, panitia juga menyiapkan kantong parkir tambahan untuk mengantisipasi lonjakan kendaraan.
Selain pengamanan terbuka, kepolisian juga menyiagakan personel berpakaian sipil untuk melakukan pemantauan situasi.
Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari upaya deteksi dini guna mencegah potensi gangguan kamtibmas selama pelaksanaan ibadah berlangsung.
Tak hanya itu, koordinasi juga dilakukan dengan panitia pelaksana di masing-masing lokasi, termasuk pengurus masjid dan relawan setempat.
Hal ini untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari kedatangan jemaah hingga pembubaran, berjalan tertib dan lancar.
Kasi Humas Polres Pringsewu AKP Priyono mengatakan, ratusan personel yang diterjunkan untuk menjamin keamanan selama pelaksanaan ibadah berlangsung.
“Personel kami ditempatkan di titik-titik strategis untuk pengamanan, pengaturan lalu lintas, serta memberikan rasa aman kepada masyarakat yang melaksanakan salat Id,” ujarnya.
Ia menambahkan, pengamanan dilakukan secara humanis dengan mengedepankan pendekatan persuasif kepada masyarakat.
Petugas di lapangan juga diminta untuk mengutamakan pelayanan, terutama bagi lansia dan anak-anak yang hadir di lokasi salat.
Priyono mengimbau masyarakat, khususnya jemaah Muhammadiyah yang merayakan Idul Fitri lebih awal, untuk tetap menjaga sikap saling menghormati di tengah perbedaan.
“Meskipun merayakan lebih dulu, kami mengimbau agar perayaan Idulfitri dilakukan secara sederhana dan tetap menghormati masyarakat lain yang masih menjalankan ibadah puasa,” tambahnya.
Ia menegaskan, toleransi dan saling menghargai menjadi kunci utama dalam menjaga situasi kamtibmas tetap kondusif, terutama di tengah dinamika perbedaan penetapan hari besar keagamaan.
(Tribunlampung.co.id/ Oky Indrajaya)