TRIBUNMANADO.CO.ID - Berikut amalan-amalan sunah sebelum Sholat Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah atau Lebaran 2026 yang juga diamalkan umat Muslim di Sulawesi Utara.
Amalan ini menjadi pelengkap ibadah, sekaligus mendukung pelaksanaan Shalat Idul Fitri yang berlangsung khusyuk, seperti yang terlihat di Masjid Darul Arqom Manado.
Selain itu, amalan-amalan tersebut juga memperkuat makna Idul Fitri sebagai momentum menjaga silaturahmi serta menumbuhkan sikap saling menghargai di tengah perbedaan.
Inilah 7 amalan sunah sebelum Sholat Idul Fitri 1447 H/2026:
1. Mengumandangkan takbir
Umat Islam dianjurkan memperbanyak takbir sejak malam Idul Fitri hingga imam naik ke mimbar.
Takbir dikumandangkan di masjid, mushala, maupun di rumah sebagai bentuk pengagungan kepada Allah SWT.
2. Mandi sebelum Sholat Idul Fitri
Disunnahkan mandi sebelum berangkat ke tempat sholat Id, sebagaimana dicontohkan Nabi Muhammad SAW, agar menyambut hari raya dalam keadaan bersih dan suci.
3. Memakai pakaian terbaik dan wewangian
Umat dianjurkan mengenakan pakaian terbaik dan memakai wewangian. Hal ini juga tampak pada jemaah di Sulawesi Utara yang hadir rapi saat Shalat Ied.
4. Makan sebelum Sholat Id
Sebelum melaksanakan Sholat Idul Fitri, umat dianjurkan makan terlebih dahulu meski hanya sedikit, sebagai tanda berakhirnya puasa Ramadan.
5. Melaksanakan Sholat Id di tempat terbuka atau masjid
Secara sunnah dilakukan di lapangan, namun di sejumlah daerah seperti Manado juga dilaksanakan di masjid karena keterbatasan tempat, seperti di Masjid Darul Arqom.
6. Mengajak keluarga ke tempat Sholat Id
Momentum Idul Fitri menjadi ajang kebersamaan.
Umat dianjurkan mengajak seluruh anggota keluarga untuk ikut melaksanakan sholat Id.
7. Berjalan kaki menuju tempat Sholat Id
Jika memungkinkan, disunnahkan berjalan kaki menuju lokasi sholat sebagai bentuk kesederhanaan dan mengikuti kebiasaan Rasulullah SAW.
Sebagai informasi, pemerintah menetapkan Idul Fitri 1447 H jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026, sementara Muhammadiyah lebih dahulu melaksanakan pada Jumat, 20 Maret 2026.
Meski terdapat perbedaan, umat Muslim di Sulawesi Utara tetap merayakan Lebaran dengan penuh toleransi, menjaga silaturahmi, serta saling menghargai, sejalan dengan pesan para khotib saat pelaksanaan Shalat Idul Fitri.
Umat Muslim di Indonesia, termasuk di Sulawesi Utara, bersiap menyambut Hari Raya Idul Fitri 1447/2026 Hijriah yang telah ditetapkan secara resmi oleh pemerintah.
Penetapan tersebut diputuskan melalui Sidang Isbat yang digelar Kementerian Agama Republik Indonesia pada Kamis, 19 Maret 2026.
Hasilnya, 1 Syawal 1447 H jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.
Keputusan ini diambil setelah pemantauan hilal di berbagai daerah tidak menunjukkan kemunculan bulan sabit, termasuk di Manado.
Di wilayah Sulawesi Utara, proses rukyatul hilal dipusatkan di kawasan MTC Mega Mas Manado.
Tim yang terdiri dari unsur Kemenag, BMKG, serta organisasi keagamaan melakukan pengamatan menggunakan teleskop.
Namun, kondisi cuaca yang mendung disertai hujan ringan membuat hilal tidak terlihat hingga waktu pengamatan berakhir.
Laporan tersebut kemudian disampaikan ke pemerintah pusat sebagai bahan Sidang Isbat.
Sementara itu, Muhammadiyah telah menetapkan lebih awal bahwa Idul Fitri 1447 H jatuh pada Jumat 20 Maret 2026.
Perbedaan ini terjadi karena metode yang digunakan berbeda, di mana Muhammadiyah mengacu pada Kalender Hijriah Global Tunggal, sedangkan pemerintah menggunakan rukyat dan hisab sesuai kesepakatan MABIMS.
Meski terdapat perbedaan penetapan, suasana Lebaran di Sulawesi Utara tetap berlangsung rukun dan penuh toleransi.
Umat Muslim di berbagai daerah seperti Manado, Bitung, Bolaang Mongondow Raya, Minahasa Raya hingga wilayah kepulauan tetap menjalankan Salat Idul Fitri sesuai keyakinan masing-masing.
Sebagai makmum:
Ushalli sunnata li ‘idil fitri rak’ataini ma’muman lillahi ta’ala
Sebagai imam:
Ushalli sunnata li ‘idil fitri rak’ataini imaaman lillahi ta’ala
Sendiri:
Ushalli sunnata li ‘idil fitri rak’ataini lillahi ta’ala
Salat Idul Fitri dilaksanakan pada pagi hari tanggal 1 Syawal dan memiliki tata cara khusus yang membedakannya dari salat lainnya.
Sholat Idul Fitri ini berbeda dengan sholat kebanyakan.
Perbedaan paling mencolok adalah pada jumlah takbir.
Pasalnya, jumlah takbir sholat idul fitri adalah sebanyak 7 kali di luar takbiratul ikhram saat rakaat pertama.
Adapun pada rakaat kedua, jumlah takbirnya adalah 5 kali takbir di luar takbiratul ikhram rakaat kedua.
Untuk memudahkan Anda, berikut ini tata cara pelaksanaan dan bacaan sholat idul fitri:
1. Sebelum shalat, disunnahkan untuk memperbanyak bacaan takbir, tahmid, dan tasbih.
2. Shalat dimulai dengan menyeru "ash-shalâta jâmi‘ah", tanpa azan dan iqamah.
3. Memulai dengan niat shalat idul fitri.
4. Membaca takbiratul ihram (الله أكبر) sambil mengangkat kedua tangan.
5. Membaca doa iftitah
اللهُ اَكْبَرُ كَبِرًا وَالْحَمْدُ لِلهِ كَشِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَاَصِيْلًا . اِنِّى وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَالسَّمَاوَاتِ وَالْااَرْضَ حَنِيْفًا مُسْلِمًا وَمَا اَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ . اِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلهِ رَبِّ الْعَا لَمِيْنَ . لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَبِذَ لِكَ اُمِرْتُ وَاَنَ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ .
"Allaahu akbaru Kabiraa Walhamdulillaahi Katsiiraa, Wa Subhaanallaahi Bukratan Wa’ashiilaa, Innii Wajjahtu Wajhiya Lilladzii Fatharas Samaawaati Wal Ardha Haniifan Musliman Wamaa Anaa Minal Musyrikiin.
Inna Shalaatii Wa Nusukii Wa Mahyaaya Wa Mamaatii Lillaahi Rabbil ‘Aalamiina. Laa Syariikalahu Wa Bidzaalika Umirtu Wa Ana Minal Muslimiin."
Artinya: Allah Maha Besar dengan sebesar-besarnya, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak. Maha Suci Allah pada waktu pagi dan petang.
Sesungguhnya aku hadapkan wajahku kepada Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dengan segenap kepatuhan atau dalam keadaan tunduk, dan aku bukanlah dari golongan orang-orang yang menyekutukan-Nya.
6. Membaca takbir sebanyak tujuh kali (di luar takbiratul ihram).
Umat Islam dianjurkan bacaan yang dibaca di sela-sela takbir baik rakaat pertama maupun kedua.
Adapun bacaan di sela takbir yakni:
سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ
Subhanalloh wal hamdulillah wa laa ilaha illalloh wallohu akbar.
Artinya: Maha suci Allah, segala pujian bagi-Nya. Tiada tuhan kecuali Allah, Allah Maha Besar.
7. Membaca surah al-Fatihah, diteruskan membaca surah yang pendek dari Alquran.
8. Ruku', sujud, duduk di antara dua sujud, dan seterusnya hingga berdiri lagi seperti shalat biasa.
9. Pada rakaat kedua sebelum membaca al-Fatihah, disunnahkan takbir sebanyak lima kali sambil mengangkat tangan.
Di luar takbir saat berdiri (takbir qiyam) dan di antara tiap takbir disunnahkan membaca:
سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ
Subhanalloh wal hamdulillah wa laa ilaha illalloh wallohu akbar.
Artinya: Maha suci Allah, segala pujian bagi-Nya. Tiada Tuhan kecuali Allah, Allah Maha Besar.
10. Membaca Surah al-Fatihah, diteruskan membaca surah yang pendek dari Alquran.
11. Ruku', sujud, dan seterusnya hingga salam.
12. Setelah salam, disunnahkan mendengarkan khutbah Idul Fitri.
Idul Fitri 1447 H menjadi momentum kemenangan setelah menjalani Ramadan, sekaligus mempererat persaudaraan di tengah perbedaan.
Di Sulawesi Utara, nilai toleransi dan kebersamaan kembali terlihat, menjadikan Lebaran bukan hanya perayaan, tetapi juga simbol harmoni antarumat.
Tribunmanado.co.id ,mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Minal Aidin Wal Faidzin. (Ind)