Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ibnu Dwi Tamtomo
TRIBUNTRENDS.COM, KLATEN – Aroma gurih peyek menyeruak dari dapur sederhana di Desa Trotok, Kecamatan Wedi, Klaten, Kamis (19/3/2026).
Jelang Idulfitri 1447 Hijriah, produksi peyek ikan cethul melonjak hingga 100 kilogram per hari untuk memenuhi pesanan luar kota.
Di ruangan itu, dua wajan besar berisi minyak panas terus menyala. Adonan tepung bercampur ikan cethul dituangkan tipis-tipis, lalu mengembang renyah di permukaan minyak.
Karyawan perempuan tampak sigap mengangkat peyek dengan saringan besar, sementara lainnya menata hasil gorengan di tampah bambu.
Tak jauh dari sana, pekerja lain memasukkan peyek ke dalam plastik kemasan. Tangan mereka bergerak cepat. Tumpukan peyek yang sudah dikemas memenuhi rak dan sudut ruangan.
Ro’in (54), pemilik usaha Peyek Mbah Uty, mengaku permintaan meningkat tajam setiap Ramadan. Ia bahkan harus tetap berproduksi meski seharusnya sudah mulai libur.
“Kami kewalahan memenuhi semua permintaan belum bisa. Seperti saat ini seharusnya sudah libur, karena kebetulan masih banyak orderan, Mbak-mbaknya masih mau masuk ya, ini masuk setengah hari,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pada hari biasa produksi berkisar 50 kilogram per hari. Namun menjelang Lebaran, jumlahnya melonjak hingga 100 kilogram.
Permintaan datang dari berbagai daerah. Produk peyek cethul miliknya kini dipasarkan ke toko oleh-oleh di Klaten, Boyolali, hingga Surabaya.
Baca juga: Bupati Hamenang Apresiasi Kreativitas Anak Muda di Sahur Beat Fest Ramadive 2026
“Surabaya sudah masuk terus ke Berbah, terus ini kemarin kirim ke Boyolali sama ke Jogja,” katanya.
Peyek cethul menjadi salah satu produk andalan. Dalam sekali pesanan, permintaan bisa mencapai 100 hingga 150 kilogram setiap dua hingga tiga hari sekali, terutama dari Surabaya.
Namun, tingginya permintaan belum sepenuhnya bisa diimbangi produksi. Keterbatasan bahan baku ikan cethul menjadi kendala utama.
“Tapi karena kita kesulitan mendapatkan bahan baku, produksi kita terbatas dikirim seadanya,” ucapnya.
Ikan cethul sendiri didapat dari kawasan Rowo Jombor, hasil tangkapan pemancing dan pencari ikan.
Dengan enam pekerja dan dua lokasi produksi, usaha rumahan ini terus berupaya menjaga kualitas di tengah lonjakan permintaan musiman.
Di balik kesibukan dapur itu, Lebaran bukan hanya soal tradisi, tetapi juga momentum panen rezeki bagi para pelaku usaha kecil. (*)