TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA – Pelaksanaan sholat Idul Fitri 1447 Hijriah yang digelar Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Samarinda di berbagai titik berlangsung khusyuk.
Salah satunya di Lapangan Tenis Sumber Mas, RT 05, Kelurahan Sengkotek, Kecamatan Loa Janan Ilir, yang dipadati ratusan jemaah pada Jumat (20/3/2026).
sholat Idul Fitri di lokasi tersebut dipimpin oleh Didi Supriyadi, yang juga menjabat sebagai Ketua Koordinator Hizbul Wathan Kalimantan Timur serta pengurus Pondok Pesantren Istiqomah Batu Besaung Samarinda.
Baca juga: Ribuan Jemaah Muhammadiyah Sholat Idul Fitri 1447 H di Lapangan Gelora Kadrie Oening Samarinda
Dalam khutbahnya, Didi menyoroti fenomena paradoks dalam kehidupan beragama di tengah masyarakat. Ia menyinggung kondisi di mana seseorang tampak taat secara ritual, namun perilakunya justru bertolak belakang dengan nilai-nilai keislaman.
“Ada yang rajin sholat, bahkan sudah berhaji, tetapi masih melakukan korupsi. Ada juga yang dikenal dermawan, namun meninggalkan kewajiban sholat,” ujarnya di hadapan jemaah.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi ironi yang tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga meluas ke kehidupan sosial dan bernegara. Ia mencontohkan, negara yang kaya sumber daya, tetapi masih diwarnai kemiskinan, serta munculnya figur-figur yang tidak kompeten atau tidak jujur dalam jabatan publik.
“Orang yang tidak jujur bisa dipercaya karena praktik suap. Sementara yang jujur justru tersingkir karena tidak mau menyuap. Ini realitas yang harus menjadi bahan introspeksi,” tegasnya.
Ia juga menyinggung persoalan di berbagai sektor, mulai dari lemahnya integritas pejabat, hingga fenomena kriminalisasi terhadap profesi tertentu. Dalam pandangannya, akar dari persoalan tersebut adalah pemahaman keislaman yang belum utuh.
Didi menekankan pentingnya menjalankan ajaran Islam secara menyeluruh atau *kaffah*, yang mencakup aspek akidah, ibadah, dan akhlak. Ia mengingatkan bahwa keberagamaan tidak boleh hanya berhenti pada ritual, tetapi harus tercermin dalam perilaku sehari-hari.
“Islam tidak cukup hanya diukur dari ibadah ritual. Kejujuran, kepedulian sosial, menepati janji, hingga menjaga lingkungan juga bagian dari ajaran Islam yang harus diamalkan,” jelasnya.
Ia menambahkan, seseorang tidak dapat disebut menjalankan ajaran Islam dengan baik apabila hanya menonjol dalam satu aspek, namun mengabaikan aspek lainnya. Misalnya, dermawan tetapi tidak sholat, atau sebaliknya, rajin beribadah tetapi abai terhadap kepentingan sosial.
Dalam khutbah tersebut, Didi juga mengingatkan pentingnya memperkuat tauhid sebagai fondasi utama kehidupan seorang muslim. Keyakinan yang kuat terhadap pengawasan Allah, menurutnya, akan membentuk pribadi yang jujur dan bertanggung jawab.
Selain itu, ia menegaskan bahwa sholat merupakan amal pertama yang akan dihisab di akhirat, sebagaimana disampaikan dalam hadis Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu, kualitas sholat harus menjadi perhatian utama setiap muslim.
Tak hanya itu, ia juga mengajak jemaah untuk meningkatkan kepedulian terhadap sesama. Mengutip hadis Nabi, ia menyampaikan bahwa membantu meringankan kesulitan orang lain akan mendapatkan balasan kemudahan dari Allah, baik di dunia maupun di akhirat.
“Jika kita mampu mengamalkan Islam secara menyeluruh, maka keluarga, masyarakat, bahkan negara ini akan menjadi lebih baik dan penuh keberkahan,” tuturnya.
Pelaksanaan sholat Idul Fitri di Sengkotek berlangsung tertib dan penuh kekhidmatan. Usai sholat dan khutbah, jemaah saling bersalaman, mempererat silaturahmi dalam suasana hari kemenangan yang sarat makna refleksi diri. (*)
Penulis: Gre - Muhammad Farikhin/Magang