TRIBUN-MEDAN.COM, MEDAN - Kepul asap putih membumbung tinggi dari satu diantara Hunian Sementara (Huntara) yang dibangun oleh penyintas banjir secara mandiri di Simpang Merah, Kelurahan Hutanabolon Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah
Pantauan Tribun Medan, dari kejauhan terlihat terlihat delapan batang bambu panjang bersandar miring di atas tungku api yang menyala dengan stabil.
Seorang perempuan paruh baya terlihat sibuk membolak-balikkan lemang tersebut agar masak dengan sempurna.
Aroma ketan gurih dan santan yang terbakar pelan di dalam batang bambu menyeruak dan cukup mengunggah selera.
Dibalik wanginya aroma lemang, ada kepahitan yang nyata bagi penyintas banjir di Lebaran Idul Fitri kali ini.
Saat didekati Tribun Medan, perempuan paru baya itu bernama Tirawan Siregar (57).
Tangis Tirawan pecah saat mengenang proses pembangunan huntara mandiri yang dibangun oleh tangan suaminya sendiri.
Tirawan pun menceritakan, tak adanya kejelasan dari pemerintah kapan Huntara jadi membuat sang suami berfikir keras untuk bisa membangun rumah sementara secara mandiri untuk mereka tinggal.
Huntara mandiri yang dibangunnya tidak jauh dari posisi tempat pengungsian lamanya di Simpang Merah Kelurahan Hutanabolon-Sipange, Kecamatan Tukka Tapteng.
Ukuran rumahnya cukup kecil bak rumah singgah warung kopi. Hanya ada tiga sekat dalam rumah itu. Dan tidak ada pintu rumahnya. Dibagian sekat tengah hanya berisi satu alas tidur yang ia dapat dari bantuan pemerintah.
Sementara di sisi sekat kanan hanya berisi karpet, dan menjadi tempat tidur menantu serta cucu-cucunya. Tidak ada lemari, baju hanya digulung-gulung dengan satu ikatan kain besar dan ditumpukkan menjadi satu.
Jika siang hari, rumah ini cukup panas sebab, atap rumah ini hanya menggunakan seng bekas dari rumah lamanya yang hanyut disapu banjir pada November 2025 lalu.
Meski rumah ini hanya empat sekat memanjang tanpa pintu dan jendela, serta huntara ini dibangun dari kayu-kayu bekas banjir, Tirawan dengan bangganya mengatakan rumah ini dibangun dari hasil tangan suaminya sendiri selama satu minggu.
"Tahun ini saya rasa sangat sedih lah, untuk menyambut Lebaran rumah kita tidak ada lagi. Apa-apa tidak ada, jadi menunggu bantuan kawan dan orang-oranglah," jelas Tirawan sambil menangis.
Baginya, memasak lemang ini, sebagai obat pelipur duka. Agar menyambut lebaran lebih semangat lagi.
"Lemang ini sebagai bentuk sambut lebaran dan sebagai obat di hati kami. Karena tidak ada lagi yang bisa dimasak selain lemang," ucapnya
Selain itu, Lemang juga dibuat agar anak-anak bergembira menyambut Lebaran Idul Fitri meski di rumah pengungsian.
"Kita beli lemang biar anak anak tidak terlalu apa kali lebaran ini. Kitaa masak lemangnya 6 liter, nanti kita bagikan ke tetangga juga," ucapnya.
Tangis Tirawan pecah saat mengingat suaminya membangun rumah sementara secara mandiri.
"Kami dapat uang bantan Rp 600 ribu satu kali. Itulah uang disuruh pindah dari pengungsian ke kontrakan. Tapi kontrakan tidak ada yang bisa perbulan. Jadilah kita bangun sendiri dan menggunakan sisa-sisa rumah kami yang hanyut di bawa sungai," katanya.
Ia memilih bangun rumah secara mandiri, sebab uang kontrakan rumah baru didapat lagi setelah 3 bulan dari waktu ia menerima uang bansos tersebut.
"Sebenarnya sudah masuknya kami pendataan Huntara. Tapi sampai sekarang enggak siap huntara itu. Katanya dilanjutkan setelah Lebaran. Padahal, kami disuruh pindah karena Huntara mau dibangun di tempat pengungsian lama kami," jelas Tirawan yang sudah mengungsi 2 bulan lamanya.
Diakuinya, Lemang sebagai obat pelipur hati, sebab ini kali pertama ia Lebaran tanpa memiliki apapun.
"Sangat sedih lah gak punya rumah rumah. Kalau siang kami harus cari tempat yang enak untuk berteduh. Kalau malam cukup membuat dingin badan. Lebaran ini cukup sedih,karena kami gak punya rumah dan hanya bisa masak lemang ini.Tadi ada bantuan daging dari gubernur, itulah kalau dapat itulah yang akan kami masak nantinya,"ucap ya.
Ia berharap, pemerintah secepatnya membangun Huntara tersebut. Dan bisa mencarikan tempat untuk lahan pencarian mereka.
"Kami harapkan lebaran ini ada bantuan dari pemerintah dan segera selesai rumah perlindungan kami, biar hati kami sedikit senang. Dan mata pencarian kami yaitu menderes kareta kembali bisa terlaksana secepatnya," jelasnya.
(cr5/tribun-medan .com)