TRIBUNJOGJA.COM - Prosesi Grebeg Syawal yang digelar Kraton Ngayogyakarta di plataran Masjid Gedhe Kauman, sukses menyedot antusiasme masyarakat, Jumat (20/3/26).
Meski matahari tampil menyengat, ribuan orang sejak pagi hari tampak antusias menanti ubarampe gunungan demi "ngalap berkah", atau untuk menikmati euforia semata.
Salah satunya adalah Ayu Mutiara Dewi, perempuan asal Kalimantan Selatan yang mengaku sengaja datang ke Masjid Gedhe di sela momen mudik ke Yogyakarta.
Baginya, menyaksikan langsung prosesi Grebeg merupakan pengalaman emosional sekaligus membanggakan sebagai putri daerah yang sedang pulang kampung.
"Saya dari Kalimantan Selatan, cuma asli Yogya, dan ini baru mudik. Sebagai warga lokal, antusias banget, senang banget bisa melihat gunungan langsung," ujarnya.
Tidak sekadar duduk-duduk atau mengabadikan momen saja, Ayu yang datang bersama adik perempuannya pun ikut berdesakan di tengah kerumunan.
Alhasil, dirinya berhasil membawa pulang sejumput ketan yang merupakan bagian dari salah satu gunungan yang diboyong ke plataran Masjid Gedhe Kauman.
"Sebenarnya tadi nggak terlalu tahu, cuma ikut-ikutan saja, karena saking ramainya. Rencananya ini mau saya simpan buat pajangan atau oleh-oleh," katanya.
Berbeda dengan Ayu, Salsabila berhasil mendapat variasi ubarampe gunungan yang lebih lengkap dan beragam, mulai dari kacang panjang, cabai, hingga ketan.
Perempuan yang akrab disapa Sabil itu berujar, meski proses distribusi lebih tertib karena dibagikan oleh abdi dalem, suasana di lapangan tetap penuh sesak.
"Kalau dulu kan sistemnya benar-benar rayahan, sekarang kan didum (dibagikan) sama abdi dalemnya, jadi lebih merata. Tapi, ya tetap desak-desakan," tuturnya.
Namun, hal tersebut sama sekali tak jadi kendala, karena baginya ubarampe dari persembahan Ngarsa Dalem tersebut bukan sekadar hasil bumi biasa.
Menurutnya, ada keyakinan turun-temurun yang masih ia pegang teguh mengenai manfaat sayur mayur dan berbagai komoditas lain di gunungan itu.
"Makanya, ini nanti disimpan. Kalau yang kacang atau cabai seperti ini biasanya ditaruh di sawah, katanya supaya tanahnya jadi subur," ungkapnya. (aka)