TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Suasana pagi di pelataran bangunan bersejarah Lawang Sewu, Kota Semarang, tampak khidmat sejak sebelum matahari terbit, Sabtu (21/3/2026).
Ratusan warga mulai berdatangan dengan pakaian rapi, memenuhi halaman bangunan ikonik tersebut untuk melaksanakan Salat Idulfitri.
Tepat sekitar pukul 06.15 WIB, salat dimulai dengan tertib.
Baca juga: Pesta Kembang Api dan Mobil Hias Meriahkan Malam Takbiran di Kauman Semarang
Imam sekaligus khatib, H Machasin, memimpin jalannya ibadah, sementara Arda Nur Yulian menjalankan tugas sebagai bilal.
Dalam khotbah, H Machasin menekankan pentingnya menjaga hati sebagai pusat kebaikan manusia.
Ia menyampaikan, baik dan buruknya seseorang sangat bergantung pada kondisi hatinya.
Dalam penyampaiannya, ia mengutip hadis riwayat Bukhari dan Muslim tentang segumpal daging dalam tubuh manusia yang menentukan keseluruhan perilaku.
Apabila hati itu baik, maka baik pula perilaku seseorang. Sebaliknya, jika hati buruk, maka buruk pula perbuatannya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan amalan penting yang harus dilakukan untuk menjaga hati. Pertama, hati harus dibersihkan. Ia mengibaratkan hati seperti benda yang bisa kotor, namun kotoran hati bukan berupa debu, melainkan dosa dan sifat-sifat tercela.
Jika seseorang terlanjur melakukan dosa, maka jalan terbaik adalah segera bertaubat kepada Allah agar hati kembali bersih dari “titik hitam” yang menodainya.
Kedua, hati harus dijaga kelembutannya. Dengan hati yang lembut, hubungan antar sesama manusia akan terjalin lebih baik. Sikap penuh kasih sayang akan tumbuh, sekaligus menjauhkan diri dari rasa benci terhadap orang lain, bahkan terhadap mereka yang berbuat tidak baik.
Khotbah tersebut memberikan pesan mendalam kepada jamaah agar senantiasa menjaga kebersihan dan kelembutan hati, sebagai bekal menjalani kehidupan yang lebih harmonis pasca-Ramadan.
Nikmati suasana Lawang Sewu setelah 30 tahun merantau
Usai pelaksanaan Salat Idulfitri, suasana di pelataran Lawang Sewu tidak serta-merta sepi. Sejumlah jamaah tampak masih bertahan, memanfaatkan momen untuk bersilaturahmi hingga mengabadikan kebersamaan bersama keluarga.
Di antara mereka, Eni (60), perantau asal Semarang yang telah lebih dari 30 tahun menetap di Kalimantan, memutuskan salat Id di Lawang Sewu.
Eni mengaku momen ini menjadi pengalaman berharga. Meski bukan pertama kali pulang ke kampung halaman, ini merupakan pertama ia melaksanakan Salat Id di kawasan Lawang Sewu.
"Sebetulnya kalau dulu-dulu saya (Salat Id) di Simpang Lima. Cuman ini baru yang kedua (ada penyelenggaraan salat Id di Lawang Sewu) kata adik saya, karena tahun kemarin saya enggak pulang ke sini. Nah, ini tadi diajak ke sini," ujar Eni ditemui Tribun Jateng seusai salat.
Menurut Eni, perubahan yang terjadi di Kota Semarang, khususnya kawasan Lawang Sewu, cukup terasa dibandingkan saat ia meninggalkan kota tersebut puluhan tahun lalu.
Ia menilai kondisi bangunan yang kini terawat serta kebersihan lingkungan menjadi daya tarik tersendiri.
"Kalau kita punya tanggung jawab bersama, tempat seperti ini memang harus dijaga dan dibersihkan bersama," ungkapnya.
Suasana hangat kebersamaan di pelataran Lawang Sewu juga dirasakan oleh Dinda (26), warga asal Peleburan yang turut melaksanakan Salat Idulfitri di lokasi tersebut. Bersama keluarganya, ia memilih Lawang Sewu sebagai alternatif lokasi ibadah untuk merasakan pengalaman yang berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Dinda mengungkapkan, biasanya ia dan keluarga melaksanakan Salat Id di kawasan Simpang Lima.
Namun, tahun ini mereka ingin mencoba suasana baru, terlebih karena pelaksanaan di Lawang Sewu masih tergolong baru.
"Tahun-tahun sebelumnya kan biasanya di Simpang Lima, terus mau coba suasana baru karena di sini kan setahu saya baru dua kali ini. Jadi ingin coba suasana baru di sini," ujarnya.
Selain beribadah, Dinda juga mengakui kawasan bersejarah ini memiliki daya tarik tersendiri untuk berfoto.
Ia menikmati suasana bersama keluarga usai salat. Menurutnya, salah satu sudut menarik adalah area yang menampilkan sisi bangunan Lawang Sewu dari dua arah sekaligus, yang kerap menjadi latar favorit pengunjung.
Lebih jauh, momen Idulfitri kali ini terasa lebih istimewa bagi Dinda. Pasalnya, ia kini juga tengah merantau di Kalimantan selama dua tahun terakhir.
Kesempatan pulang kampung menjadi hal yang sangat dinantikan untuk bisa kembali berkumpul bersama keluarga.
"Sekarang saya domisili sudah di Kalimantan, sudah 2 tahun merantau.
Ini saya ke sini kangen tempat wisata di Kota Semarang, karena sudah lama tidak jalan-jalan di Semarang," ungkapnya.
Sementara itu, pihak pengelola turut mencatat tingginya antusiasme masyarakat dalam pelaksanaan Salat Idulfitri di pelataran Lawang Sewu tahun ini.
Corporate Branding & Communication KAI Wisata, Riesta Junianti menyebut kegiatan ini telah memasuki tahun kedua penyelenggaraan.
Menurutnya, jumlah jamaah yang hadir mencapai sekitar 800 orang, memenuhi kawasan halaman utama sejak pagi hari.
"Antusiasme masyarakat masih cukup tinggi karena hari ini sudah dipenuhi sekitar 800 jemaah untuk salat Idulftri yang tadi sudah dimulai dari pukul 06.15 WIB," ujarnya.
Riesta menambahkan, kegiatan serupa juga pernah digelar saat Iduladha, dengan akses yang dibuka secara gratis bagi warga pada waktu tertentu.
Untuk perayaan Idulfitri kali ini, kawasan Lawang Sewu kembali dibuka untuk umum mulai pukul 11.00 WIB hingga 22.00 WIB dengan tarif masuk normal, yakni mulai dari Rp10.000. (idy)
Baca juga: Pemudik Luar Negeri Membeludak, Bandara Ahmad Yani Semarang Catat Lonjakan Signifikan Jelang Lebaran