Laporan Wartawan TribunPalu.com, Abdul Humul Faaiz
TRIBUNPALU.COM, PARIGI MOUTONG – Ratusan anak-anak di Desa Parigimpuu, Kecamatan Parigi Barat, Kabupaten Parigi Moutong, memeriahkan malam takbiran dengan pawai obor keliling desa, Jumat (20/3/2026) malam.
Malam di Desa Parigimpuu yang biasanya sunyi berubah hangat ketika satu per satu obor bambu dinyalakan, memancarkan cahaya kuning kemerahan yang perlahan menghidupkan suasana desa.
Dari halaman SD Negeri Parigimpuu, anak-anak mulai membentuk barisan rapi sambil menggenggam obor, mengenakan pakaian muslim seperti peci dan jilbab, menandai dimulainya pawai penuh makna.
Mereka dipandu oleh penyelenggara, yang berdiri di atas mobil pickup lengkap dengan sound sistem.
Suara takbir awalnya terdengar pelan, kemudian perlahan menguat dan menggema, mengiringi langkah kaki anak-anak yang mulai berjalan meninggalkan titik awal menuju rute keliling desa.
Pawai ini menempuh jarak sekitar 2,1 kilometer, dimulai dari sekolah dan berakhir di Masjid Assa’adah Mu’alaf, yang menjadi pusat berkumpulnya seluruh peserta di akhir perjalanan.
Baca juga: Sholat Ied di Morowali Utara, Wabup Djira Ajak Masyarakat Pererat Persaudaraan
Sepanjang perjalanan, barisan panjang cahaya obor terlihat bergerak perlahan, menciptakan pemandangan dramatis yang memantulkan sinar hangat di wajah-wajah polos penuh semangat kebersamaan.
Sebagian anak tampak tersenyum lebar dan tertawa bersama teman-temannya, menikmati suasana malam yang terasa seperti petualangan sederhana namun penuh kesan dalam kebersamaan yang hangat.
Sebagian lainnya terlihat fokus menjaga nyala api obor agar tetap hidup, memegang bambu dengan hati-hati sambil memperhatikan arah angin yang sesekali berembus di sepanjang jalan.
Angin malam yang berhembus membuat api obor bergoyang, namun justru menambah keindahan visual pawai, menghadirkan suasana hangat yang kontras dengan gelapnya malam desa.
Suara takbir terus menggema di sepanjang jalan, dengan beberapa anak melantunkannya lantang penuh semangat, menciptakan energi yang membuat pawai terasa hidup dan berdenyut.
Di pinggir jalan, warga terlihat berdiri menyaksikan iring-iringan pawai, sebagian merekam dengan ponsel, sementara lainnya menikmati suasana tradisi yang terus dijaga dari generasi ke generasi.
Beberapa orang dewasa tampak berjalan di sisi barisan, mengawal jalannya pawai agar tetap tertib sekaligus memastikan anak-anak tetap aman selama menempuh perjalanan malam tersebut.
Berdasarkan pendataan dari tiga dusun di Desa Parigimpuu, jumlah peserta mencapai sekitar 150 orang yang terdiri dari anak-anak sekolah dasar hingga tingkat menengah pertama.
Jumlah tersebut bertambah saat pengurus Remaja Islam Masjid (RISMA) ikut bergabung, sehingga total peserta yang mengikuti pawai obor malam itu diperkirakan mendekati 200 orang.
Baca juga: Khatib Salat Idul Fitri, Bupati Banggai Ajak Suguhkan Keharmonisan
“Kalau di lapangan memang sulit dihitung pasti, tapi kalau digabungkan dengan RISMA dan anak-anak SD serta SMP, kurang lebih sekitar 200 orang,” ujar Abdul Gafur.
Abdul Gafur yang merupakan Ketua Pengurus Masjid Assa’adah Mu’alaf menjelaskan bahwa kegiatan ini telah menjadi tradisi tahunan masyarakat Desa Parigimpuu sejak pertama kali dilaksanakan pada tahun 2008.
“Ini kegiatan khusus desa dan sudah rutin kami lakukan sejak 2008, jadi rasanya tidak lengkap kalau tidak dilaksanakan setiap tahun,” katanya menegaskan pentingnya tradisi tersebut.
Ia juga aktif memfasilitasi pembinaan RISMA dari tiga dusun, meskipun tidak memiliki legalitas formal sebagai pembina, namun tetap berperan dalam berbagai kegiatan keagamaan dan kepemudaan.
Di Desa Parigimpuu terdapat tiga masjid yang masing-masing memiliki RISMA, dan pawai obor ini menjadi momen penting yang menyatukan seluruh elemen pemuda dalam satu kegiatan bersama.
Tak ada sekat dusun dalam pawai tersebut, karena semua peserta berjalan dalam satu barisan panjang yang menggambarkan kuatnya rasa persatuan dan kebersamaan di tengah masyarakat.
Selama perjalanan, interaksi antar peserta terlihat hangat, anak-anak saling menunggu dan menjaga satu sama lain agar tetap berada dalam barisan hingga mencapai garis akhir.
Baca juga: Kapolres Sigi Laksanakan Salat Id di Masjid Nurul Iman Desa Bora
Ketika mendekati Masjid Assa’adah Mu’alaf, cahaya obor semakin terkumpul dalam satu titik, menciptakan suasana ramai dan penuh semangat di halaman masjid sebagai lokasi finis.
Sesampainya di lokasi akhir, anak-anak berkumpul dengan wajah masih dipenuhi kegembiraan, sebagian duduk beristirahat sementara lainnya tetap berdiri sambil memegang obor yang mulai meredup.
Suara takbir masih terdengar meski tidak sekuat di perjalanan, namun suasana hangat tetap terasa, memperlihatkan bahwa semangat kebersamaan belum benar-benar usai malam itu.
Pawai obor ini bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan sarana menanamkan nilai kebersamaan, keagamaan, serta kecintaan terhadap budaya lokal kepada generasi muda di Desa Parigimpuu.
Di tengah gelapnya malam, cahaya obor yang sederhana mampu menerangi jalan sekaligus menghadirkan makna tentang persatuan, kebahagiaan, dan tradisi yang terus hidup dari waktu ke waktu.
Tradisi ini menjadi jejak yang terus ditinggalkan setiap tahun, sebuah makna sederhana namun kuat, bahwa kebersamaan dan nilai budaya akan selalu hidup selama terus dijaga bersama.(*)