Hal ini berdasarkan investigasi independen yang diungkapkan oleh Tim Advokasi untuk Demokrasi (TAUD) dalam rilis pada Jumat (20/3/2026).
Terkait hal tersebut, TAUD memperoleh bukti berupa kamera CCTV milik Gedung YLBHI.
Berdasarkan bukti CCTV, belasan pelaku tersebut diduga kuat saling berkoordinasi sepanjang malam kejadian.
TAUD menyebut dugaan keterlibatan pelaku sipil dalam aksi penyiraman air keras terhadap Andrie.
Salah satu temuan krusial menunjukkan adanya upaya pengintaian yang sistematis.
Pelaku utama yang mengenakan helm biru saat membuntuti korban di lokasi kejadian sempat terlihat di sekitaran gedung YLBHI beberapa jam sebelum penyiraman.
Kala itu, ia tampak menggunakan atribut ojek online berwarna hijau sebagai bentuk penyamaran.
Atas temuan ini, TAUD mendesak agar proses hukum tetap berada di bawah kuasa peradilan umum bukan militer demi transparansi.
Adapun Pusat Polisi Militer (Puspom) TNI mengumumkan empat anggota BAIS TNI sebagai pelaku penyiraman terhadap Andrie.
Sementara itu, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto dalam keterangan pada Kamis (19/3/2026) memastikan tak ada perbedaan identitas terhadap pelaku yang diumumkan polisi dan TNI.
Menurut Budi, pelaku berinisial BHC dan BHW adalah sosok yang sama.
Saat ini proses penyelidikan terus berjalan untuk mengungkap peran masing-masing pelaku serta kemungkinan keterlibatan pihak lain.
Polda Metro Jaya juga akan melimpahkan berkas perkara sosok yang diduga oknum prajurit TNI tersebut ke polisi militer.
(TribunVideo.com)