Kesedihan Warga Jambi Lebaran di Kamboja Gara-gara Penipuan Lowongan Kerja
asto s March 21, 2026 02:48 PM

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Andri Budi Sanjaya bertutur dengan nada suara sedikit bergetar. 

Malam takbiran yang biasanya riuh di kampung halaman, tahun ini terasa jauh bagi sebagian warga Jambi yang tertahan di Kamboja.

Di negeri orang, gema takbir tak lagi terdengar akrab. Suara itu berganti kesunyian dan rasa rindu yang menyesakkan.

Andri Budi Sanjaya, satu di antara mereka warga Jambi korban penipuan lowongan kerja di Kamboja, hanya bisa merayakan Idulfitri 1447 Hijriah dari balik penampungan imigrasi.

DIa menjadi korban tawaran pekerjaan palsu yang membawanya jauh dari rumah.

Lebaran yang seharusnya hangat bersama keluarga, justru berubah menjadi momen penuh kesedihan.

"Menangis, enggak bisa dekat sama keluarga, enggak bisa ketemu anak istri,” ujarnya lirih saat dihubungi.

Ada 150-an WNI

Di penampungan yang dihuni sekitar 150 warga negara Indonesia, suasana duka terasa merata.

Mereka saling menguatkan, meski masing-masing menyimpan rindu yang sama.

Melalui grup WhatsApp, Andri bersama rekannya seperti Syehdi dan Chilva berbagi kabar.

Percakapan sederhana itu dipenuhi satu perasaan yang tak berubah: ingin pulang.

Hari raya yang biasanya identik dengan silaturahmi kini hanya bisa dirayakan lewat layar ponsel.

Beberapa di antara mereka bahkan tak kuasa menahan tangis saat menelepon keluarga di Indonesia.

Di sudut lain penampungan, harapan tetap dijaga meski dalam keterbatasan.

Andri mengaku telah bertemu pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk menanyakan kepastian kepulangan.

Ia mendapat kabar bahwa pemerintah tengah menyiapkan proses pemulangan secara bertahap.

Sejak Februari lalu, sebagian WNI memang telah dipulangkan lebih dulu.

Jumlah penghuni penampungan pun perlahan berkurang.

Namun bagi yang masih tertahan, waktu terasa berjalan lebih lambat dari biasanya.

Mereka menjalani hari dengan fasilitas seadanya.

Beristirahat beralaskan karpet, ditemani kipas angin yang berputar pelan di tengah udara panas.

Rizki Juga Merasakan Hal Sama

Di tempat berbeda, Ananda Rizkiyanto juga merasakan hal serupa.

Dia menyebut suasana di penampungan dipenuhi tangis, terutama saat para penghuni menghubungi orang tua mereka.

Tekanan yang dirasakan tak hanya karena rindu, tetapi juga pengalaman yang mereka alami sebelumnya.

Ananda mengaku sempat ditahan dan dikurung tanpa penjelasan yang jelas oleh aparat setempat.

Bahkan, untuk menggunakan ponsel, mereka diminta membayar sejumlah uang.

Di tengah situasi yang serba tidak pasti, satu hal yang terus mereka pegang adalah harapan.

Harapan untuk segera kembali ke tanah air.

Harapan untuk merayakan Lebaran, meski terlambat, namun tetap bersama keluarga.

Bagi mereka, pulang bukan sekadar perjalanan, melainkan akhir dari kisah pahit yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya. (Tribun Jambi/Syrillus Krisdianto)

Baca juga: Pemprov Jambi Siapkan Kepulangan Korban Scam, Belasan Masih di Kamboja

Baca juga: Kronologi Lengkap Salat Idulfitri 1447 H di Sukoharjo Jateng Dibatalkan

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.