TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG – Gema takbir Idulfitri 1447 H di Kota Semarang langsung disambut dengan arus manusia yang mengalir deras menuju Kompleks Makam Bergota, Sabtu (21/3/2026).
Pemakaman terbesar di jantung kota ini seketika "memutih" oleh ribuan peziarah yang datang mendoakan keluarga yang telah berpulang.
Pantauan di lokasi menunjukkan lonjakan pengunjung mulai terjadi sesaat setelah pelaksanaan Salat Id. Kondisi ini memicu kepadatan arus lalu lintas di sejumlah jalan protokol di sekitar area makam.
Kendaraan terpantau mengular, memaksa petugas gabungan bersiaga ekstra untuk mengurai kemacetan.
Di dalam area makam, suasana khusyuk menyelimuti deretan nisan. Keluarga-keluarga duduk berkelompok melantunkan doa dan tahlil, sembari melakukan tradisi tabur bunga dan membersihkan pusara.
Baca juga: Soroti Pengeroyokan Tongtek Maut di Kayen, Plt Bupati Pati Larang Hiburan Malam Saat Lebaran
Tradisi Lintas Generasi
Bagi warga Semarang, ziarah kubur pada hari pertama Lebaran bukan sekadar kebiasaan, melainkan ruang pengikat batin lintas generasi.
“Setiap habis Salat Id langsung ke sini. Sudah jadi tradisi keluarga untuk mendoakan orang tua dan saudara yang sudah meninggal,” ujar Siti Aminah (45), salah satu peziarah yang hadir bersama keluarga besarnya.
Tingginya antusiasme warga pada Lebaran 2026 ini ditengarai akibat meningkatnya mobilitas pemudik yang kembali ke kampung halaman. Hal ini membuat jumlah peziarah di Makam Bergota terasa lebih besar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Kondusivitas dan Peran Warga
Meski jumlah pengunjung membludak, situasi di lapangan tetap terkendali. Menariknya, warga sekitar makam turut turun tangan membantu petugas dalam mengatur arus keluar-masuk kendaraan di jalur yang relatif sempit.
“Hajat besar setiap Idulfitri, jadi kami ikut membantu agar tetap lancar,” kata Yatno, warga setempat.
Baca juga: KAI Wisata Targetkan 50 Ribu Pengunjung di Lawang Sewu Selama Libur Lebaran 2026
Ketertiban peziarah yang bergantian memasuki area makam menjaga kekhusyukan prosesi Ziarah Kubur Semarang tetap terjaga hingga siang hari.
Fenomena tahunan ini kembali menegaskan bahwa Idulfitri di Semarang selalu memiliki sisi emosional yang kuat melalui penghormatan kepada leluhur. (bud)