Gempuran Rudal AS-Israel Tak Surutkan Langkah Jutaan Warga Iran Jalani Ibadah Salat Id
Noval Andriansyah March 21, 2026 10:19 PM

Tribunlampung.co.id, Teheran - Di tengah kekhawatiran atas gempuran rudal Amerika Serikat (AS) dan Israel, jutaan warga Iran tetap memenuhi area-area terbuka serta masjid-masjid demi melaksanakan ibadah salat Idulfitri atau salat Id.

Seakan tak peduli atas kondisi yang sedang dialami negaranya, jutaan warga Iran tetap berbondong-bondong memadati masjid dan ruang terbuka di seluruh negeri untuk salat Id pada Sabtu (21/4/2026) pagi.

Hal ini, menandai momen bersejarah tanpa kehadiran almarhum Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, yang selama puluhan tahun memimpin langsung ibadah tersebut.

Berdasarkan laporan yang dikutip Tribunnews.com, salat utama digelar pukul 08.00 waktu setempat di Masjid Imam Khomeini, di Teheran. 

Sejak pukul 06.30 pagi, masjid dan lokasi salat telah dibuka dengan pengaturan khusus untuk mengelola lonjakan jemaah. 

Baca juga: Pemerintah Israel Setujui Dana Rp14 Kuadriliun untuk Tambah Persenjataan Hadapi Iran

Salat di ibu kota dipimpin oleh Syekh Ali Akbari, kepala Dewan Kebijakan Imam Salat Jumat Iran.

Meski situasi perang dengan Amerika Serikat dan Israel masih berlangsung, area terbuka di sekitar lokasi salat tetap dipenuhi jemaah.

Koresponden di Teheran melaporkan bahwa tingginya partisipasi masyarakat mencerminkan tekad kuat rakyat Iran bahwa tekanan dari pihak luar tidak akan melemahkan mereka.

Di hari yang sama, di Teheran juga menggelar pemakaman Syahid Ali Mohammad Naeini, juru bicara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Awalnya umat melaksanakan salat Id yang kemudian dilanjutkan dengan salat jenazah di Mosalla.

Usai rangkaian ibadah, demonstrasi besar terjadi di berbagai wilayah Iran.

Massa menyuarakan dukungan terhadap pemerintah Iran sekaligus mengecam agresi Amerika Serikat (AS) dan Israel yang masih berlangsung. 

Tolak Gencatan Senjata

Di sisi lain, ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan penolakannya terhadap gencatan senjata dalam konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran.

Berbicara kepada wartawan di Gedung Putih, Trump menegaskan bahwa gencatan senjata bukanlah pilihan saat pihak lawan dianggap telah dilemahkan secara signifikan.

Ia juga mengisyaratkan bahwa Amerika Serikat dan Israel memiliki tujuan yang sejalan dalam konflik ini, yakni mencapai kemenangan penuh.

Pernyataan tersebut muncul di tengah laporan meningkatnya korban akibat serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran sejak akhir Februari 2026 lalu.

Dalam serangan tersebut, sejumlah pejabat tinggi Iran dilaporkan tewas, termasuk Ali Khamenei dan Ali Larijani, mengutip Anadolu Agency, Sabtu (21/3/2026).

Di sisi lain, Iran menolak upaya gencatan senjata.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyalahkan Amerika Serikat sebagai pihak yang bertanggung jawab atas pecahnya konflik dan dampaknya terhadap stabilitas kawasan.

Situasi semakin kompleks setelah Iran membatasi akses di Selat Hormuz, jalur penting bagi distribusi minyak global.

Langkah ini diambil sebagai respons atas serangan militer, memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi dunia.

Trump sendiri meremehkan dampak penutupan jalur tersebut bagi AS, dengan menyebut bahwa negara-negara lain seperti Eropa dan Asia justru lebih bergantung pada jalur tersebut.

Namun, seruannya agar negara lain ikut terlibat membuka kembali selat itu tidak mendapat banyak dukungan internasional.

Sejak dimulainya serangan pada 28 Februari, konflik terus berkembang dengan aksi balasan dari Iran.

Yakni melalui serangan rudal dan drone yang menargetkan Israel serta aset terkait AS di kawasan.

Kondisi ini meningkatkan risiko eskalasi lebih luas di Timur Tengah.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.