4 Faktor Harga Emas Global dan Antam Anjlok, Eskalasi di Timur Tengah Beri Pengaruh Besar
Willem Jonata March 22, 2026 05:38 PM

 

TRIBUNNEWS.COM - Eskalasi militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang terus memanas justru memicu anomali di pasar komoditas.

Alih-alih meroket sebagai aset aman, harga emas global dan domestik justru mengalami penurunan tajam sepekan terakhir, menghapus reli kenaikan harga yang sempat terjadi pada awal tahun ini.

Berdasarkan data Trading Economics pada Minggu (22/3/2026), harga emas dunia terkoreksi 10,62 persen dalam sepekan ke level US$ 4.488 per troy ons.

Baca juga: Harga Emas Antam Berpotensi Terkoreksi ke Level Rp2.800.000 per Gram

Penurunan ini berdampak langsung pada harga emas batangan Antam di Indonesia yang kini stagnan di level Rp 2.893.000 per gram, kian menjauh dari rekor Rp 3 juta per gram.

Mengapa harga emas anjlok?

Penurunan harga emas yang tidak lazim di tengah kondisi perang ini disebabkan oleh beberapa faktor sistemik yang saling berkaitan.

1. Inflasi energi akibat blokade Selat Hormuz

Iran melakukan blokade di Selat Hormuz, jalur distribusi bagi 20 persen energi dunia. Hal ini melambungkan harga minyak mentah hingga sempat menyentuh US$ 119 per barel.

“Menurut pandangan umum, perang seharusnya berdampak positif bagi logam mulia, tetapi konflik Iran justru menimbulkan dampak yang tidak dibahas dalam buku teks, yaitu sekaligus memperhitungkan inflasi dan mengesampingkan kemungkinan pemangkasan suku bunga,” kata Tracy Shuchart, ekonom senior di NinjaTrader, kepada New York Post.

Pemblokiran Selat Hormuz oleh Iran, yang mendorong harga minyak melampaui $ 100 per barel, disebut Shuchart sebagai pemicu inflasi langsung.

Tingginya harga minyak menjadi "akselerator inflasi" yang memaksa bank sentral meninjau ulang kebijakan mereka dan berdampak pada turunnya harga emas.

2. Suku bunga tetap tinggi

Inflasi memupus harapan pasar akan penurunan suku bunga oleh The Fed.

Investor kini menyadari bahwa bank sentral akan mempertahankan suku bunga di level tinggi, yakni 3,5 persen hingga 3,75 persen, untuk meredam inflasi. 

"Tidak ada kemungkinan The Fed akan dapat menurunkan suku bunga, dan hal itu kini disadari oleh pasar logam, itulah sebabnya aksi jual emas begitu signifikan,” kata Ken Mahoney, CEO Mahoney Asset Management, kepada The Post.

Dan pasar telah menurunkan probabilitas pemangkasan suku bunga bulan depan menjadi nol, bahkan memperhitungkan kemungkinan kecil terjadinya kenaikan suku bunga.

“Penyesuaian harga itulah yang penting bagi emas, karena emas tidak hanya diperdagangkan berdasarkan ketakutan. Emas diperdagangkan berdasarkan biaya peluang dari memegang aset tanpa imbal hasil, dan biaya itu baru saja melonjak,” kata Shuchart.

Dengan kata lain, emas yang merupakan aset tanpa imbal hasil atau zero-yield, menjadi kurang menarik dibanding obligasi atau dolar yang menawarkan bunga tinggi.

3. Keperkasaan dolar AS

Di tengah konflik Iran, dolar AS justru muncul sebagai pemenang aset safe haven mengalahkan emas. Dolar AS mengungguli semua mata uang lain, termasuk franc Swiss dan yen Jepang. 

Penguatan dolar AS membuat emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, sehingga permintaan global menurun drastis.

4. Hilangnya momentum dan likuiditas

Setelah melonjak 64 persen sepanjang 2025, emas mulai kehilangan momentum.

Sejumlah investor kini menjual emas mereka untuk menambah likuiditas atau menyeimbangkan portofolio guna menutup kerugian di aset lain yang terdampak perang.

Sampai kapan tren penurunan harga emas terjadi?

Analis Komoditas, Ibrahim Assuaibi, memprediksi tren koreksi ini masih akan berlanjut pada pekan depan.

Ia memproyeksikan harga emas dunia bisa menyentuh support kedua di level US$ 4.319 per troy ons, yang secara otomatis dapat menyeret emas Antam turun ke level Rp 2.800.000 per gram.

"Ada kemungkinan besar logam mulia akan berada di bawah Rp 3 juta per gram pekan depan. Pergerakan harga emas sangat dipengaruhi dinamika eskalasi di Timur Tengah," ujar Ibrahim seperti dikutip Kontan, Minggu (22/3/2026).

Tracy Shuchart, ekonom senior di NinjaTrader, menambahkan bahwa status safe haven emas saat ini kalah oleh "penetapan ulang harga suku bunga".

Menurutnya, tren ini akan bertahan selama harga minyak mentah (crude) tetap tinggi.

Meski demikian, pasar tetap memantau potensi "perang darat".

“Banyak pengamat mengatakan jalan satu–satunya mengangkat harga emas dunia adalah perang darat,” kata Ibrahim.

Jika perang darat pecah dan Iran memberikan perlawanan yang memenangkan posisi mereka, para pengamat meyakini emas dapat kembali mengalami kenaikan signifikan.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.