TRIBUNNEWS.COM - Terus mendapatkan ancaman dari Amerika Serikat (AS) dan tekanan dari dunia, Iran memberikan sikap tegas.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei menegaskan bahwa permintaan dunia internasional agar Iran "menahan diri" adalah sesuatu yang mustahil dan tidak masuk akal.
Baghaei menyatakan bahwa saat ini Iran sedang dikeroyok oleh kombinasi agresi militer dan aksi terorisme.
Ia menyoroti bagaimana pihak asing secara sistematis menargetkan para pemimpin dan elite negara dalam kampanye yang dianggapnya belum pernah terjadi sebelumnya.
"Pembunuhan massal ini harus disetop! Mereka sudah membantai banyak rakyat kami."
"Jangan harap negara yang sedang membela diri dari agresi brutal seperti ini bisa bersikap lunak kepada mereka yang menyerang tanpa batas," ujar Baghaei, dikutip dari WANA, Minggu (22/3/2026).
Baghaei menolak anggapan bahwa Iran harus mengalah demi stabilitas kawasan.
Ia menggunakan perumpamaan tajam dalam pernyataannya.
"Menawarkan dahan zaitun (perdamaian) kepada mereka yang justru ingin memenggal kepala kami adalah hal yang sangat tidak realistis," cetusnya.
Ia juga mengingatkan dunia pada tragedi berdarah di awal konflik, di mana lebih dari 170 siswi tewas dalam serangan di sebuah sekolah di Minab.
Baghaei menegaskan bahwa Iran tidak pernah memulai perang ini dan tetap mematuhi aturan perang dengan tidak menargetkan fasilitas publik seperti rumah sakit atau sekolah.
Baca juga: Menteri Luar Negeri Iran Sampaikan Ucapan Selamat Idul Fitri 1447 H dalam Bahasa Indonesia
Namun, ia memperingatkan bahwa infrastruktur militer AS yang digunakan untuk menyerang Iran adalah target sah untuk dihancurkan.
Tak hanya menyasar AS dan Israel, Baghaei juga mengirimkan pesan peringatan kepada negara-negara tetangga di kawasan Teluk.
Ia mengecam keras adanya penggunaan wilayah negara tetangga oleh AS sebagai basis serangan ke Iran.
Menurutnya, hal tersebut adalah pelanggaran nyata terhadap hukum internasional.
Iran mengimbau negara-negara tetangga untuk tidak memfasilitasi serangan Israel maupun Amerika jika ingin menjaga hubungan baik.
Menanggapi spekulasi mengenai potensi perang darat dengan AS, Baghaei menyatakan bahwa Iran tidak gentar.
Meski tidak menginginkan perang, ia memastikan seluruh rakyat Iran siap angkat senjata untuk mempertahankan kedaulatan.
"Ini tanah air kami. Kami adalah bangsa patriot yang akan membela setiap jengkal tanah kami dengan segala sumber daya yang ada."
"AS sebaiknya berkaca pada sejarah; lihat bagaimana Iran menghancurkan para penjajah di masa lalu," pungkasnya.
Presiden AS, Donald Trump secara terang-terangan melayangkan ultimatum 48 jam kepada Teheran untuk segera membuka blokade di Selat Hormuz.
Jika tidak dipenuhi, Washington mengancam akan menghancurkan seluruh infrastruktur kelistrikan Iran.
"Jika Iran tidak membuka Selat Hormuz sepenuhnya tanpa ancaman dalam waktu 48 jam, Amerika Serikat akan melenyapkan pembangkit listrik mereka, dimulai dari yang terbesar," tegas Trump melalui unggahan di platform Truth Social.
Mengutip Al Jazeera, langkah provokatif ini diambil Trump saat perang antara koalisi AS-Israel melawan Iran memasuki pekan keempat.
Penutupan Selat Hormuz oleh militer Iran telah mencekik pasokan energi dunia, mengingat jalur tersebut merupakan urat nadi bagi 20 persen distribusi minyak dan gas global.
Akibat blokade tersebut, pasar keuangan dunia berguncang dan harga minyak mentah melonjak ke level yang mengkhawatirkan.
Trump tampaknya mulai kehilangan kesabaran terhadap strategi "kapal musuh" yang diterapkan Teheran di perairan strategis tersebut.
(Tribunnews.com/Whiesa)