TRIBUNNEWS.COM - Menteri Luar Negeri Iran Seyyed Abbas Araghchi menyampaikan ucapan Selamat Idul Fitri 1447 H dalam bahasa Indonesia melalui sebuah unggahan di akun media sosial X (dulu Twitter), @araghchi, Minggu (22/3/2026).
Dalam unggahannya, Araghchi juga menyampaikan terima kasih atas solidaritas masyarakat muslim di Asia Tenggara, khususnya di Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam.
Araghchi berterima kasih karena para warga telah turut mengecam agresi militer yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran dalam Operation Epic Fury yang masih berlangsung sejak Sabtu (28/2/2026), lalu.
Berikut cuitan Seyyed Abbas Araghchi:
Selamat Hari Raya Idulfitri.
Terima kasih kpd pemerintah & masyarakat Muslim serta pencinta keadilan di Asia Tenggara (Indonesia, Malaysia, Brunei) yg mengecam agresi brutal Amerika Serikat dan rezim Zionis terhadap bangsa Muslim Iran di bln Ramadan serta menunjukkan solidaritas.
Duta Besar Rusia untuk RI juga Ucapkan Selamat Idul Fitri untuk Masyarakat Indonesia
Selain Abbas Aragchi, Duta Besar Rusia untuk RI Sergei Tolchenov mengucapkan selamat Idul Fitri 2026 untuk masyarakat Muslim di Indonesia dan di seluruh dunia.
Dikutip dari unggahan di akun X resmi milik Kedutaan Besar Rusia di Indonesia @RusEmbJakarta, Sabtu (21/3/2026), Sergei Tolchenov menyebut bahwa Idulfitri adalah hari raya yang penuh berkah dan menjadi penanda akhir bulan suci Ramadan.
Sergei yang menguasai bahasa Inggris, Prancis, dan Vietnam ini juga menekankan pentingnya persahabatan antara Rusia dan Indonesia.
Berikut cuitan Sergei Tolchenov:
Baca juga: Trump Ngamuk, Ancam Hancurkan Energi Iran Jika Selat Hormuz Tak Dibuka dalam Waktu 48 Jam
Sahabat-sahabatku sekalian, Atas nama Kedutaan Besar Federasi Rusia di Jakarta, saya menyampaikan salam hangat kepada seluruh umat Islam yang merayakan Idulfitri di Indonesia dan di seluruh dunia.
Bagi jutaan umat Islam, hari raya yang penuh berkah ini menandai berakhirnya bulan suci Ramadan, suatu masa yang didedikasikan untuk refleksi diri, kepedulian sosial, dan pembaruan spiritual.
Momentum ini mempererat ikatan keluarga dan masyarakat, serta mengingatkan kita akan pentingnya kasih sayang, solidaritas, dan saling menghormati.
Di Rusia, Idulfitri juga dirayakan oleh komunitas muslim yang dinamis dengan jumlah lebih dari 20 juta orang dan merupakan bagian tak terpisahkan dari keberagaman budaya dan keagamaan Rusia.
Semoga hari yang penuh sukacita ini membawa kedamaian, kebahagiaan, dan kesejahteraan bagi Anda dan orang-orang terdekat, serta semakin memperkuat persahabatan dan kerja sama antara Rusia dan Indonesia.
Sekilas tentang Hubungan Diplomatik Indonesia dan Iran
Sebagai informasi, hubungan bilateral Indonesia dan Iran merupakan kemitraan strategis yang telah berlangsung lama dan stabil, didukung oleh kepentingan bersama di bidang ekonomi, energi, serta solidaritas terhadap isu-isu global dan kawasan, dikutip dari file atau berkas yang diunggah di laman resmi Kementerian Luar Negeri RI (Kemlu), kemlu.go.id.
Sejak terjalinnya hubungan diplomatik pada 1950, Indonesia dan Iran terus memperkuat sinergi dalam berbagai kerjasama strategis.
Antara lain bidang perdagangan, teknologi, kesehatan, pendidikan, dan isu-isu global yang menjadi perhatian kedua negara, termasuk dukungan terhadap hak-hak Palestina dan penyelesaian konflik regional melalui jalur diplomasi.
Kedekatan ini juga diwujudkan dalam dukungan dan kolaborasi di berbagai forum internasional, seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Organisasi Kerja sama Islam (OKI), Kelompok D-8 Negara Berkembang (D-8), hingga BRICS.
Sekilas tentang Hubungan Diplomatik Indonesia dan Rusia
Sementara, Indonesia dan Rusia telah menjalin hubungan diplomatik jangka panjang.
Rusia, yang dulu bernama Uni Soviet, termasuk salah satu negara pertama yang mengakui kemerdekaan RI yang jatuh pada 17 Agustus 1945, dikutip dari salah satu publikasi di laman resmi Arsip Nasional Republik Indonesia, anri.go.id.
Pada 1946, delegasi Uni Soviet di PBB secara aktif memberikan dukungannya kepada Indonesia, sehingga semakin memperkuat ikatan kedua negara.
Hubungan diplomatik secara resmi terjalin pada 1950 ketika Menteri Luar Negeri Uni Soviet, A. Vyshinsky, mengirimkan telegram kepada Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri Mohammad Hatta, yang isinya antara lain mengakui kemerdekaan dan kedaulatan Indonesia serta menyatakan keinginan untuk menjalin hubungan diplomatik.
Pemerintah Indonesia menyambut baik inisiatif ini dan mengirimkan delegasi ke Moskow.
Pada 16 Mei 1950, kedua pemerintah sepakat untuk membuka kedutaan besar masing-masing.
Kedekatan hubungan kedua negara juga terlihat dari penyerahan pesawat Ilyushin IL-14 oleh Pemerintah Uni Soviet kepada Indonesia serta kontribusi Pemerintah Uni Soviet dalam pembangunan Stadion Gelora Bung Karno dan Rumah Sakit Persahabatan.
Hubungan yang erat antara Indonesia dan Rusia telah mendorong banyak kolaborasi di berbagai sektor dan berlanjut hingga saat ini.
(Tribunnews.com/Rizki A.)