Selat Hormuz Memanas, Iran Buka Jalur Tapi Larang Kapal ‘Musuh’
Joko Supriyanto March 22, 2026 07:50 PM

TRIBUNBEKASI.COM - Ketegangan di Selat Hormuz kian memanas setelah Iran menyatakan jalur pelayaran strategis tersebut tetap dibuka, namun dengan pembatasan ketat bagi kapal yang dianggap berafiliasi dengan “musuh”.

Kebijakan ini langsung memicu kekhawatiran global, mengingat selat tersebut menjadi jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen distribusi minyak dan gas dunia.

Di tengah konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel, setiap aturan baru di Selat Hormuz berpotensi mengganggu stabilitas pasokan energi global dan memicu lonjakan harga minyak.

Perwakilan Iran untuk organisasi maritim PBB (IMO), Ali Mousavi memberikan klarifikasi mengenai situasi terkini di Selat Hormuz pada Minggu (22/3/2026).

Ia menyatakan bahwa pada dasarnya selat tersebut tetap terbuka bagi pengiriman internasional. Namun, ada pengecualian besar yang ditegaskan oleh Teheran.

Kapal-kapal yang memiliki keterkaitan atau berafiliasi dengan pihak yang disebut sebagai "musuh-musuh Iran" dilarang melintas.

Bagi kapal-kapal yang tidak masuk dalam daftar "musuh" tersebut, Iran tetap memberlakukan prosedur khusus.

Setiap kapal wajib melakukan koordinasi dengan otoritas Iran mengenai pengaturan keamanan dan keselamatan sebelum memasuki wilayah perairan tersebut. 

Pihak Teheran berdalih bahwa langkah ini diambil demi melindungi keselamatan pelayaran dan para kru kapal di tengah situasi perang.

"Keamanan kapal dan seluruh awaknya memerlukan koordinasi dengan pihak berwenang Iran,” imbuhnya. 

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump sebelumnya telah mengeluarkan ancaman keras melalui sebuah ultimatum 48 jam.

Trump menuntut agar Selat Hormuz dibuka secara penuh tanpa syarat apa pun. Jika hingga tenggat waktu pada Senin (23/3/2026) malam selat tersebut tidak "terbuka sepenuhnya", Amerika Serikat mengancam akan melakukan tindakan militer langsung.

Target yang dibidik bukan main-main; Trump menyatakan akan menyerang infrastruktur pembangkit listrik di daratan Iran jika ultimatum tersebut diabaikan.

Selain itu, Angkatan Laut AS dikabarkan tengah bersiap untuk melakukan misi pengawalan bersenjata bagi kapal-kapal tanker yang melintasi jalur panas tersebut.

(Kompas.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.