303 Warga Israel Jadi Korban Dalam Serangan Rudal Iran Dalam 24 Jam Terakhir di Berbagai Lokasi
Muhammad Hadi March 23, 2026 01:37 AM

303 Warga Israel Jadi Korban Dalam Serangan Brutal Iran Dalam 24 Jam Terakhir di Berbagai Lokasi

SERAMBINEWS.COM - Lebih dari 300 orang dilaporkan dirawat di rumah sakit di Israel dalam 24 jam terakhir akibat serangan rudal yang menghantam sejumlah wilayah, termasuk kota Arad dan Dimona di bagian selatan, Minggu (22/3/2026).

Mengutip pernyataan Kementerian Kesehatan Israel yang diperoleh Sputnik, sebanyak 303 korban luka telah mendapatkan perawatan medis. 

Dari jumlah tersebut, delapan orang dilaporkan dalam kondisi serius, 29 orang mengalami luka sedang, dan 256 lainnya mengalami luka ringan.

Otoritas Israel itu juga menyebutkan bahwa sebagian besar korban berasal dari lokasi terdampak langsung serangan rudal. 

Sebanyak 116 orang dievakuasi dari Arad dan 64 orang dari Dimona, dengan mayoritas mengalami luka ringan.

"Selama 24 jam terakhir, 303 orang yang terluka telah dirawat di rumah sakit (akibat serangan rudal), termasuk 8 orang dalam kondisi serius, 29 orang dalam kondisi sedang, dan 256 orang dengan luka ringan," kata Kementerian Kesehatan dalam sebuah pernyataan.

Secara keseluruhan, lebih dari 4.500 orang dilaporkan terluka di Israel sejak meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah. 

Hingga saat ini, sekitar 124 orang masih menjalani perawatan di rumah sakit.

Situasi ini terjadi di tengah eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang telah memasuki minggu keempat. 

Kedua pihak terus melancarkan serangan intensif satu sama lain.

Pihak Israel menyatakan bahwa operasi militer tersebut bertujuan untuk mencegah Teheran memperoleh senjata nuklir. 

Sementara itu, Washington mengancam akan menghancurkan kemampuan militer Iran serta menyerukan perubahan rezim.

Di sisi lain, Iran menegaskan kesiapan mereka untuk membela diri dan menyatakan tidak melihat alasan untuk melanjutkan perundingan dalam situasi saat ini.

Israel Jalani Malam yang Sulit

Israel mengalami “malam yang sangat sulit” setelah dua rudal balistik yang diluncurkan oleh Iran berhasil menembus sistem pertahanan udara dan menghantam wilayah selatan negara itu pada Sabtu (21/3/2026) malam.

Dua kota yang menjadi sasaran serangan adalah Arad dan Dimona.

Serangan tersebut menyebabkan kerusakan besar di kawasan permukiman warga serta memicu kepanikan di lokasi kejadian.

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menggambarkan situasi itu sebagai “malam yang sulit” di tengah konflik yang terus meningkat.

Menurut laporan tim medis, lebih dari 100 orang mengalami luka-luka akibat serangan tersebut.

Di Arad, sebanyak 75 korban tercatat, dengan 10 orang dalam kondisi serius. 

Sementara itu, serangan di Dimona menyebabkan 33 orang terluka.

Seorang anak laki-laki berusia 10 tahun termasuk di antara korban dengan kondisi serius akibat terkena pecahan proyektil.

Layanan darurat Magen David Adom menyatakan seluruh korban di Arad telah dievakuasi ke rumah sakit.

Rinciannya, 10 orang dalam kondisi serius, 13 dalam kondisi sedang, dan 48 lainnya mengalami luka ringan.

Petugas di lapangan menggambarkan situasi penuh kekacauan.

“Ada banyak kepanikan di tempat kejadian,” ujar salah satu petugas medis. Tim penyelamat terlihat menyisir puing-puing bangunan yang hancur untuk mencari korban.

Dinas pemadam kebakaran melaporkan sedikitnya tiga bangunan terdampak di Arad, dengan satu di antaranya mengalami kebakaran.

Sementara di Dimona, ledakan meninggalkan kawah besar, dengan puing logam dan material bangunan berserakan di sekitar lokasi.

Banyak bangunan di sekitarnya mengalami kerusakan parah, terutama pada bagian jendela dan fasad.

Kegagalan sistem pertahanan udara Israel menjadi sorotan utama dalam insiden ini.

Meski rudal pencegat telah diluncurkan, keduanya gagal menghentikan proyektil yang masuk.

“Rudal pencegat telah ditembakkan, tetapi tidak berhasil mengenai sasaran, sehingga dua rudal balistik dengan hulu ledak besar menghantam langsung target,” ujar perwakilan pemadam kebakaran.

Pihak militer Israel menyatakan akan melakukan investigasi terkait kegagalan tersebut.

Juru bicara militer, Brigadir Jenderal Effie Defrin, mengatakan sistem pertahanan udara tetap beroperasi, namun tidak berhasil melakukan intersepsi.

Di sisi lain, Iran menyebut serangan ini sebagai bentuk balasan atas serangan Israel terhadap fasilitas nuklirnya di Natanz.

Adapun Dimona selama ini dikenal sebagai lokasi fasilitas nuklir Israel, yang secara resmi disebut berfungsi untuk penelitian, meski dikelilingi kebijakan ambiguitas.

Ketegangan antara kedua negara pun diperkirakan akan terus meningkat menyusul insiden ini.

(Serambinews.com/Agus Ramadhan)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.