Nelayan Pangkal Duri Ilir Tanjabtim Beli Solar di Luar, karena di Desa Sendiri Lebih Mahal
asto s March 24, 2026 12:11 PM

TRIBUNJAMBI.COM, TANJAB TIMUR - Ternyata, selama ini nelayan di Desa Pangkal Duri Ilir, Kecamatan Mendahara, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, kesulitan mencari solar subsidi untuk bahan bakar perahu, Selasa (24/3/2026)

Haidir (50), nelayan setempat, menuturkan dalam kondisi cuaca baik mampu memperoleh penghasilan Rp700 ribu hingga Rp800 ribu per hari.

Namun, jumlah tersebut tidak menentu karena sangat bergantung pada kondisi cuaca di laut.

Saat cuaca ekstrem, nelayan memilih tidak melaut demi keselamatan.

"Kalau ombak besar, tidak sanggup. Selain berbahaya, menarik jaring juga berat," jelasnya.

Sebagai alternatif, Haidir mengaku tetap mencari ikan dengan cara togok atau nogok di sungai.

Menogok ikan adalah cara mencari ikan menggunakan jaring yang dipasang dengan alat pancang atau penyangga, tanpa harus melaut.

"Biasanya kalau tidak ke laut, kami cari udang di sungai pakai togok. Jaringnya dipasang, tidak perlu ke laut," katanya.

Dalam kesehariannya, Haidir berangkat melaut sejak pukul 06.00 WIB dan kembali sekitar pukul 15.00 WIB. 

Namun, kondisi di lapangan tidak selalu berjalan sesuai rencana.

Nelayan di pesisir timur Jambi
Nelayan di pesisir timur Jambi (Tribunjambi.com/Rifani Halim)

Jika cuaca tiba-tiba memburuk saat berada di laut, dia bersama nelayan lain akan mencari tempat aman seperti sungai atau wilayah terlindung untuk menunggu hingga gelombang mereda.

"Kalau tiba-tiba cuaca ekstrem, kami cari tempat aman dulu, tunggu sampai gelombang tidak kencang. Kadang bisa pulang sampai malam," ungkapnya.

Solar Subsidi di Luar Desa Lebih Murah

Haidir juga mengeluhkan sulitnya mendapatkan minyak subsidi di wilayahnya. 

Selama ini, dia belum pernah memperoleh minyak subsidi di desanya.

Untuk memenuhi kebutuhan melaut, dia terpaksa membeli minyak dari daerah lain dengan harga yang lebih murah dibandingkan di desa sendiri.

"Kalau di tempat lain bisa dapat sekira Rp10 ribu per liter. Tapi, kalau beli di desa bisa sampai Rp13 ribu per liter. Selisihnya lumayan," jelasnya.

Dia berharap distribusi minyak subsidi ke depan dapat lebih merata hingga ke wilayahnya, sehingga nelayan tidak lagi terbebani biaya operasional yang lebih tinggi.

Pantauan Tribunjambi.com di lokasi menunjukkan sejumlah jaring milik nelayan masih tersusun rapi di luar rumah, meski sebagian nelayan mulai kembali melaut usai Lebaran.

Melaut Lagi H+5 Lebaran

Nelayan Pangkal Duri Ilir mulai kembali melaut pada hari kelima setelah Hari Raya Idulfitri, usai menghentikan aktivitas selama sepekan, .

Kembalinya aktivitas tersebut dilakukan setelah nelayan sebelumnya fokus menyambut Lebaran, yang telah menjadi kebiasaan setiap tahun. 

Namun, di tengah aktivitas yang kembali berjalan, nelayan masih dihadapkan pada persoalan sulitnya mendapatkan minyak subsidi.

Seorang nelayan, Haidir (50), mengatakan dirinya memang rutin tidak melaut sejak tujuh hari sebelum Lebaran dan baru kembali beraktivitas setelah hari raya.

"Saya biasanya H-7 Lebaran sudah tidak lagi melaut. Nanti mulai lagi menangkap ikan di hari kelima Lebaran," ujarnya.  (Tribunjambi.com/Khusnul Khotimah)

Baca juga: Perampok di Tanjabtim yang Hajar Nenek 80 Tahun Ditangkap, AKBP Ade: Orang Sadis

Baca juga: Istri Pemilik Mi Hijau di Jambi Timur Teriak-teriak Minta Tolong, Polisi Naik Pakai Tangga

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.