Keseharian Fuad, WN Irak Bunuh Dwintha Cucu Mpok Nori, Dikenal Warga Tertutup hingga KDRT Korban
Weni Wahyuny March 24, 2026 05:32 PM

TRIBUNSUMSEL.COM - Ketua RT setempat, Nurgiyanto, mengungkapkan sosok di balik Rashad Fouad Tareq Jameel alias Fuad, seorang Warga Negara (WN) Irak yang membunuh mantan istrinya, cucu Mpok Nori, Dwintha Anggary.

Nurgiyanto mengatakan Fuad dikenal sebagai pribadi tertutup di lingkungan tempat tinggalnya di kawasan Cipayung, Jakarta Timur.

Menurutnya, hal tersebut juga dipengaruhi oleh kendala bahasa, mengingat Fuad merupakan warga negara asing.

"Orangnya terlihat biasa saja, cenderung tertutup. Kita juga terkendala komunikasi, baik bahasa Inggris maupun bahasa lainnya," ujar Nurgiyanto, Senin (23/3/2026).

Meski demikian, Nurgiyanto mengungkap bahwa Fuad sempat terlibat kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) terhadap Dwintha Anggary.

Ia bahkan mengaku pernah turun tangan untuk memediasi permasalahan rumah tangga keduanya.

"Kalau KDRT itu pernah diinformasikan juga sama pengurus. Waktu itu saya sampai mediasi secara khusus," jelasnya.

Baca juga: Gelagat Fuad WN Irak Usai Bunuh Cucu Mpok Nori, Panik Bawa Karpet Korban Kabur, Terekam CCTV

Coba Bunuh Diri Sebelum Bunuh Istri

Tak hanya itu, sekitar satu bulan sebelum peristiwa pembunuhan terjadi, Fuad juga disebut sempat mencoba mengakhiri hidupnya sendiri.

Aksi tersebut diduga dipicu karena tidak terima saat korban mengajukan permintaan cerai.

"Dia tidak terima istrinya minta cerai, lalu melukai dirinya sendiri dengan senjata tajam. Keluarga korban sampai ketakutan karena dia sempat membawa senjata dan mengancam," ungkap Nurgiyanto.

Situasi tersebut membuat pihak keluarga korban akhirnya melaporkan kejadian itu ke pihak kepolisian setempat.

Lebih lanjut, Nurgiyanto mengaku tak menyangka pertemuan terakhirnya dengan Fuad menjadi momen sebelum peristiwa tragis itu terjadi.

"Sehari sebelumnya saya sempat berpapasan, dia masih sempat menyapa. Saya tidak menyangka akan terjadi kejadian seperti ini," terangnya.

Tabiat Fuad

Sementara, Dian Puspitasari (40), kakak kandung Dwintha mengungkapkan sikap kerap cemburu sejak korban aktif bekerja dan memiliki banyak relasi, terutama dengan rekan kerja laki-laki.

"Semenjak Anggi kerja, banyak teman, kan rata-rata temannya cowok juga, nah di situ dia cemburu," ujar Dian kepada Kompas.com saat ditemui di lokasi, Minggu (22/3/2026).

Menurut Dian, Dwintha merupakan sosok yang mudah bergaul, dan hal ini diduga menjadi salah satu pemicu kecemburuan pelaku. "Ya mungkin dia cemburunya di situ," ucapnya.

Dian menilai pelaku memiliki sifat cemburuan dan cenderung membatasi ruang gerak korban selama menjalin hubungan.

"Dia agak cemburuan. Jadi kalau orang Irak modelnya 'Kamu mau apa saja saya kasih, tapi kalau untuk pegang duit saya enggak kasih'," ujarnya.

Dian mengungkapkan, pelaku sempat melakukan percobaan bunuh diri setelah ditolak rujuk oleh korban. Pelaku diduga mengalami tekanan emosional karena keinginannya untuk kembali menjalin hubungan tidak direspons.

"Sempat mau bunuh diri tapi enggak berani. Cuma sayat-sayat tangan doang. Itu karena dia pengin balik dan merasa bersalah sama adik saya," kata Dian.

Ia menambahkan, pelaku terus berupaya mengajak korban rujuk, namun tidak mendapat tanggapan.

"Kalau yang saya lihat ya, mungkin almarhumah diajak terus-menerus balikan. Dia ngomongnya 'Anggi cinta sejati' apa segala macam," ujarnya.

Hubungan keduanya, lanjut Dian, telah berakhir setelah pelaku menjatuhkan talak kepada korban pada malam Nisfu Syakban atau sekitar awal Februari 2026.

"Namanya kalau nikah siri ditalak kan sudah selesai," kata Dian.

Meski telah berpisah, pelaku diketahui masih berada di sekitar lingkungan korban. Bahkan, ia menyewa kontrakan tidak jauh dari tempat tinggal korban.

"Dikiranya pihak suaminya sudah pergi jauh, soalnya sempat kabur beberapa minggu. Enggak tahunya dia ngontrak di depan Gang Daman sini. Masih dekat dari kontrakan adik saya," ujar Dian.

Ia mengungkapkan, pelaku diduga kerap memantau aktivitas korban, bahkan mengikuti tanpa disadari.

"Terakhir itu saya mau ke pasar hari Kamis, papasan sama saudara saya. Ternyata dia (pelaku) ada di belakang. Dan kita tidak sadar diikuti," ucapnya.

Dian juga menyebut pelaku sering berada di sekitar lokasi korban beraktivitas, termasuk saat korban pulang bekerja pada malam hari.

"Adik saya juga kalau pulang dari MBG kan malam, dia (pelaku) jagain di es kelapa depan ini. Emang dipantau terus," tuturnya.

Dian menambahkan, komunikasi terakhir dengan korban terjadi pada Kamis malam sekitar pukul 21.30 WIB.

“Nah, pas hari Jumat memang kita tidak ketemu, karena kan itu pada sibuk masing-masing mau Lebaran,” ujarnya.

Aksi pelaku terekam kamera pengawas (CCTV) di sekitar lokasi. Dalam rekaman tersebut, pelaku terlihat mondar-mandir sebelum melancarkan aksinya.

“Tersangka sempat bolak-balik mantau pakai motor. Nah, di atas jam dua belas itu dia balik lagi bawa karpet, gagang pacul, sama lakban,” ungkap Dian.

Penemuan bermula saat ibu dan adik korban hendak membangunkannya. Karena tidak ada respons, sang adik mencoba masuk melalui jendela yang terbuka dan menemukan korban telah meninggal.

"Korban ditemukan meninggal dunia di lantai dengan kondisi di lantai dan kasur terdapat darah mengering,” ujar Kepala Subdit Resmob Polda Metro Jaya, AKBP Ressa Fiardi Marasabessy, dalam keterangannya, Sabtu.

Menurut keterangan keluarga, Fuad yang merupakan warga negara Irak sempat beberapa kali terlihat di sekitar lokasi rumah korban sehari sebelum kejadian.

Jenazah korban sempat dibawa ke RS Polri Kramat Jati untuk dilakukan autopsi sebelum dimakamkan di TPU Pondok Ranggon.

Ikuti dan Bergabung di Saluran Whatsapp Tribunsumsel.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.