Pengamat Nilai AS Gegabah Perang Lawan Iran, Terlena dengan Kesuksesan di Venezuela
Bobby Wiratama March 24, 2026 07:33 PM

TRIBUNNEWS.COM - Pengamat intelijen dan keamanan dari Universitas Indonesia (UI) Stanislaus Riyanta menilai Amerika Serikat (AS) dan Israel terlalu gegabah melakukan perang dengan Iran.

Menurutnya, AS terlena dengan kesuksesan menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dalam waktu singkat.

"Saya kira Amerika Serikat agak gegabah, ceroboh ketika merencanakan perang dengan Iran ini, mereka terlena dengan serangan ke Venezuela yang satu hari selesai," ucap Stanislaus dalam tayangan di Kompas TV, Senin (24/3/2026).

Ia menjelaskan bahwa Iran mempunyai karakteristik yang berbeda dengan Venezuela. 

Ketika AS dan Israel membunuh Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei pada 28 Februari 2026 lalu, Iran bukannya melemah, justru malah makin kuat untuk membalas serangan tersebut.

Menurutnya, banyak pakar yang menyatakan jika senjata yang dimiliki AS hanya cukup untuk berperang selama empat minggu.

Oleh sebab itu, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa perang dengan Iran akan berakhir dalam waktu empat minggu.

Namun, memasuki pekan ketiga belum ada tanda-tanda kekalahan dari Iran sehingga Amerika menggunakan cara lain.

Stanislaus menyebut, cara yang dipakai oleh AS adalah PUS Prop (Perang Urat Syaraf dan Propaganda).

"Ini sudah dilakukan, tetapi PUS Prop Iran lebih menang karena dia menguasai Selat Hormuz yang itu menjadi salah satu titik pusat jalur transportasi perdagangan dunia."

"Jadi PUS Prop itu perlawanan tidak hanya dengan senjata, tetapi dengan faktor lain, ekonomi misalnya dan Iran memenangkan ini," tuturnya.

Baca juga: Presiden AS Klaim Negosiasi dengan Iran, Pakar: Trump Sedang Terjepit

Alhasil, Trump memakai cara-cara yang lebih persuasif dalam perang ini, yaitu mengklaim adanya negosiasi meskipun hal tersebut dibantah oleh Iran.

Namun, Stanislaus menilai bahwa perubahan taktik ini menunjukkan tanda-tanda perang akan segera berakhir.

"Berganti-ganti model dengan dinamika yang ada menunjukkan bahwa sebenarnya ini adalah cara untuk menghentikan perang tanpa kehilangan muka," ungkapnya.

Klaim Trump

Trump mengumumkan bahwa pemerintahannya tengah melakukan “pembicaraan produktif” dengan Iran untuk mencapai “resolusi total” atas perang AS-Israel dengan Republik Islam tersebut pada Senin (23/3/2026).

Ia bahkan menyebut Iran siap menyerahkan uranium yang diperkaya dan berhenti mencari senjata nuklir, sebuah kesepakatan yang menurutnya akan membuat Israel “sangat senang.”

Namun, Iran membantah keras klaim tersebut. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Esmaeil Baqaei menegaskan:

“Selama beberapa hari terakhir memang ada pesan yang disampaikan melalui negara sahabat mengenai permintaan AS untuk bernegosiasi, tetapi tidak ada pembicaraan yang berlangsung selama 24 hari perang ini.”

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf juga menolak tudingan bahwa dirinya memimpin delegasi Iran dalam perundingan. Ia menulis di X:

Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan telah berbicara dengan Trump dan menilai ada peluang untuk “memanfaatkan pencapaian besar IDF dan militer AS” demi mencapai tujuan perang melalui kesepakatan.

Trump menegaskan bahwa jika kesepakatan tercapai, Iran tidak akan memiliki senjata nuklir dan uranium yang diperkaya akan diserahkan.

“Kami ingin tidak ada bom nuklir, tidak ada senjata nuklir, bahkan tidak mendekati itu. Kami ingin perdamaian di Timur Tengah,” kata Trump.

Meski klaim Trump memicu harapan akan dibukanya kembali Selat Hormuz, Iran tetap menolak adanya pembicaraan langsung. 

Situasi ini membuat harga minyak dunia berfluktuasi tajam, mencerminkan ketidakpastian atas jalur vital pasokan energi global.

(Tribunnews.com/Deni/Glery)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.