Keluarga Almarhum Edwin Apresiasi Pembentukan Tim Penyelesaian Kasus Tambrauw di Papua Barat Daya
Gordy Donovan March 25, 2026 11:47 AM

Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Albert Aquinaldo

TRIBUNFLORES.COM, ENDE – Keluarga almarhum Yohanes Edwintus Bido, menyampaikan apresiasi atas inisiatif para tokoh di Papua Barat Daya yang membentuk tim khusus untuk menyelesaikan kasus penyerangan tenaga kesehatan (nakes) dan warga sipil di Kabupaten Tambrauw, Provinsi Papua Barat Daya.

Yohanes Edwintus Bido merupakan pemuda asal Desa Nduaria, Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende, Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur meninggal dunia dalam insiden di jalan raya Distrik Bamusbama, Kabupaten Tambrauw, Provinsi Papua Barat Daya beberapa hari lalu.

Wakil keluarga, Wilhelmus Hermanto Lose, menyampaikan rasa terima kasih atas langkah tersebut. Ia berharap pembentukan tim ini dapat mendorong proses hukum berjalan lebih cepat dan adil.

“Kami mengapresiasi para tokoh Papua Barat Daya atas inisiatif pembentukan Tim Penyelesaian Kasus Tambrauw. Terima kasih banyak, kiranya ini dapat mendorong proses hukum agar keadilan ditegakkan sesuai hukum yang berlaku,” ujarnya, Rabu (25/3/2026) pagi.

Baca juga: Saksi Mata Ungkap Detik-detik OTK Serang Edwin dan Rekannya di Tambrauw, Papua Barat Daya

Ia juga menegaskan, tragedi serupa tidak boleh terulang kembali di masa mendatang.

Tokoh Daerah Sepakat Bentuk Tim Penyelesaian

Sebelumnya, sejumlah tokoh penting di Papua Barat Daya sepakat membentuk tim khusus dalam pertemuan yang digelar di Kota Sorong pada Minggu malam, 22 Maret 2026 sekitar pukul 19.00 WIT.

Pertemuan tersebut dihadiri oleh anggota DPD RI, Paul Finsen Mayor, bersama Bupati Tambrauw, DPRK, Kasat Pol PP, kepala dan sekretaris distrik, serta tokoh masyarakat, pemuda, dan mahasiswa.

Seluruh pihak yang hadir sepakat membentuk Tim Penyelesaian guna menangani konflik secara menyeluruh, khususnya terkait insiden penyerangan yang terjadi di Distrik Bamusbama.

Dalam keterangannya, Paul Finsen Mayor menegaskan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Polda Papua Barat Daya, Polres Tambrauw, serta Komnas HAM.

“Kami ingin persoalan ini diselesaikan secara utuh dan damai, dengan tetap mengedepankan penegakan hukum,” tegasnya.

Ditemukan Tewas

Sebelumnya, Yohanes Edwintus Bido, pemuda asal Desa Nduaria, Kecamatan Kelimutu, Kabupaten Ende, Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur meninggal dunia dalam insiden di jalan raya Distrik Bamusbama, Kabupaten Tambrauw, Provinsi Papua Barat Daya beberapa hari lalu.

Korban yang akrab disapa Edwin (24) meninggal bersama seorang tenaga kesehatan (nakes) bernama Yeremia Lobo (37).

Paman korban Reinhard Nussy (30) mengatakan, Edwin baru tiba di Papua Barat Daya pada Januari 2026 untuk mencari pekerjaan.

"Ponakan dari istri saya datang ke sini untuk mencari kerja. Kemarin dia masih bersama kami di tempat tugas di Kabupaten Tambrauw,” ujar Reinhard, Selasa (17/3/2026).

Selama berada di Sorong hingga Tambrauw, Edwin dikenal sebagai pribadi yang ceria, terbuka, dan mudah bergaul.

Ia diajak keluarga untuk berkunjung sekaligus melihat peluang kerja di wilayah tersebut.

Selama di Tambrauw, Edwin lebih banyak berada di lingkungan tenaga kesehatan dan tidak pernah bepergian sendiri.

Detik-detik penyerangan

Dikutip dari TribunSorong.com, Hamzah seorang analis kesehatan RSUD Fef yang selamat dari insiden berdarah di Kampung Jokba, Kabupaten Tambrauw, membeberkan kronologi kejadian yang menewaskan dua orang pada 16 Maret 2026.

Kesaksian ini disampaikan di hadapan Wakil Gubernur Papua Barat Daya di RSUD Sele Be Solu, Rabu (18/3/2026).

Hamzah menjelaskan bahwa peristiwa bermula saat ia dan tiga rekannya menempuh perjalanan menuju Kota Sorong menggunakan tiga sepeda motor.

Sekitar pukul 12.00 WIT, saat mendekati lokasi kejadian, mereka dikejutkan oleh suara letusan senjata api dari jarak sekitar 30 meter.

"Suara tembakan itu membuat kami panik dan spontan memacu kendaraan lebih cepat," ungkap Hamzah

Nahas, saat memasuki tikungan, mereka dihadang oleh sekelompok orang bersenjata tajam. 

Pelaku yang diperkirakan berjumlah lima orang tersebut membawa tombak serta parang dan langsung menyerang. 

“Kondisi ini membuat rombongan hilang kendali,” katanya.

Korban Yeremia Lobo yang berada di posisi depan mengerem mendadak hingga terjatuh.

Hamzah yang berada tepat di belakangnya tidak sempat menghindar dan menabrak motor Yeremia hingga ia ikut terpental.

"Saya langsung bangkit dan lari menyelamatkan diri, diikuti rekan saya Robby namun, dua teman kami tidak sempat lolos," tambahnya.

Insiden tragis ini merenggut nyawa tenaga kesehatan Yeremia Lobo dan seorang warga sipil asal NTT bernama Edwin Bido. 

Hamzah mengaku masih mengalami trauma mendalam dan belum siap kembali bertugas. 

Ia mendesak aparat penegak hukum segera menangkap para pelaku untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. (Bet)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.