TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Suara mesin kapal bercampur suara warga memenuhi Dermaga Samudera 2, Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, Rabu (25/3/2026) siang.
Satu persatu pemotor masuk ke dalam perut kapal perang milik TNI Angkatan Laut, KRI Banda Aceh (593), yang untuk sementara “beralih peran” menjadi angkutan arus balik Lebaran bagi para pemudik.
Para personel TNI AL membantu mengatur arus kendaraan dan memastikan setiap motor terparkir rapi di area dek.
Suasana padat, namun tetap tertib di tengah panasnya cuaca dan kencangnya angin laut.
Baca juga: Viral Sampah Berceceran di Jalan Sultan Agung Semarang, DLH Minta Maaf: Truk Oleng
• VIRAL Polisi Menangis Kesakitan, Kaki Kiri Patah Terlindas Bus Pemudik
• Pemprov Jateng Berpeluang Buka CASN Tahun Ini, Sumarno: Sedang Dikaji
Sekira seribuan orang akhirnya menempati tempat masing-masing, sementara ratusan motor berjajar rapi di sisi kapal.
Ruang dalam kapal itu kini diisi tikar, kasur lipat, serta barang bawaan para pemudik yang bersiap kembali ke Jakarta setelah merayakan Lebaran di kampung halaman di Jawa Tengah.
Sesaat setelah seluruh penumpang naik, pintu kapal ditutup rapat.
Perlahan, KRI Banda Aceh (593) mulai melakukan manuver meninggalkan dermaga, dibantu dua kapal tunda yang menarik dan mendorong badan kapal raksasa itu agar bisa berlayar dengan aman.
Dari sudut dermaga, barisan personel TNI AL terlihat berjajar rapi.
Sebagian melambaikan tangan, membalas salam para penumpang yang berdiri di atas dek kapal, tepatnya di area geladak terbuka, yang juga melambaikan tangan ke arah keluarga yang ditinggalkan.
Kapal dijadwalkan tiba keesokan harinya di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta, tepatnya di kawasan Kolinlamil.
Sebelum kapal berangkat, saat di dalam dek kapal, suasana terasa hangat, ramai dan penuh kebersamaan.
Sejumlah pemudik tampak duduk santai, sebagian lain beristirahat di atas kasur lipat.
Tampak anak-anak bermain, sementara orang dewasa sibuk dengan ponsel atau berbincang.
Di antara mereka, Tri Purwanto (41) atau akrab disapa Tri duduk sambil memegang ponselnya.
Warga asal Purwodadi Grobogan itu hendak kembali ke Jakarta setelah mudik.
“Ke Jakarta, Tanjung Priok. Saya tinggal di Kelumpang Semper, Koja,” ujar dia.
Tri bukan kali pertama mengikuti program mudik gratis menggunakan kapal TNI AL.
“Sudah tiga kali. Pulang-pergi gratis, daftarnya online sepekan sebelum Lebaran,” imbuh dia.
Tri memilih naik kapal sambil membawa sepeda motor karena dinilai lebih praktis.
“Enak, nggak capek. Barang apa pun bisa dibawa. Waktu mudik dari pelabuhan ke rumah di Purwodadi juga cuma sekira tiga jam naik motor, lebih ringan dibanding langsung dari Jakarta,” jelas dia.
Tri yang bekerja di sebuah toko di Jakarta itu sangat terbantu dengan program tersebut.
“Sangat membantu. Dulu ada Pelni, tapi sudah beberapa tahun tidak ada. Sekarang dibantu TNI AL,” kata dia.
Dia memperkirakan kapal akan tiba di Jakarta sekira pukul 09.00 keesokan harinya.
“Tidurnya bebas, luas kok. Dapat makan juga tiga kali,” pungkas dia.
Baca juga: Pemkot Semarang Terapkan WFA, DPRD: Jangan Turunkan Kualitas Layanan Publik
• Takjub Pengunjung Saksikan Festival Balon Udara di Wonosobo: Rasa Penasaran Terbayar Lunas
Di dalam kapal, para pemudik memang dinilai mendapatkan fasilitas yang cukup lengkap.
Kasur lapangan (veldbed) disusun rapi. Sirkulasi udara terasa dijaga dengan kipas besar, sementara fasilitas MCK tersedia memadai.
Danlanal Semarang, Kolonel Marinir Sabprowanto mengatakan, pihaknya berupaya memberikan pelayanan terbaik selama pelayaran.
“Pemudik mendapat makan tiga kali sehari, tempat tidur yang nyaman, ada AC, MCK, dan hiburan selama perjalanan,” ungkapnya.
Dia menambahkan, program ini akan terus dievaluasi untuk peningkatan ke depan.
“Kami akan laporkan ke Mabes TNI AL, ke Kepala Staf Angkatan Laut, mudah-mudahan ke depan ada dukungan yang lebih optimal,” imbuhnya.
Pada keberangkatan kali ini, sekira 1.192 pemudik diberangkatkan dari Pelabuhan Tanjung Emas Semarang menuju Jakarta.
Dari jumlah tersebut, sekira 385 motor ikut diangkut dalam satu perjalanan.
Program mudik dan arus balik gratis menggunakan kapal perang itu mendapat respons positif dari masyarakat.
Selain menghemat biaya, moda transportasi itu juga dinilai lebih aman dan nyaman, terutama bagi pengendara motor yang biasanya menempuh perjalanan darat jarak jauh.
Pj Sekda Kota Semarang, Budi Prakosa mengapresiasi kolaborasi lintas instansi dalam menyukseskan program ini.
“Ini merupakan kolaborasi bersama dari seluruh unsur di Kota Semarang untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” ujarnya.
KRI Banda Aceh (593) bukan kapal biasa.
Kapal itu merupakan LPD pertama yang dibangun sepenuhnya di Indonesia oleh PT PAL Indonesia dan mulai beroperasi sejak 2011.
Dengan panjang sekira 125 meter dan kemampuan mengangkut pasukan, kendaraan tempur, hingga helikopter, kapal itu biasa digunakan untuk operasi militer dan kemanusiaan.
Program mudik gratis menjadi satu di antara bentuk Operasi Militer Selain Perang (OMSP), dimana kapal perang dimanfaatkan untuk membantu masyarakat sipil, terutama dalam momentum besar seperti Lebaran. (*)