Para peneliti dari University of Oxford berhasil mengungkap misteri lama tentang keruntuhan peradaban kuno di wilayah tengah Sungai Yangtze, China. Peneliti menemukan jejak bencana banjir besar ribuan tahun lalu.
Dilansir dari laman University of Oxford, sekitar 4.600 tahun lalu, masyarakat Shijiahe hidup di lembah Sungai Yangtze dengan budaya yang maju. Mereka memiliki istana, tembok kota, sistem pengairan kompleks, hingga industri jade dan tembikar yang berkembang pesat. Namun, kurang dari seribu tahun kemudian, kebudayaan ini tiba-tiba menghilang.
Peneliti menduga perubahan iklim ekstrem, terutama curah hujan berlebih yang menyebabkan banjir besar, menjadi penyebab utamanya. Hasil analisis geologi menunjukkan bahwa perubahan lingkungan yang drastis membuat masyarakat Shijiahe kehilangan lahan subur dan akhirnya bermigrasi ke daerah yang lebih tinggi.
Catatan Curah Hujan Ribuan Tahun
Untuk menelusuri penyebabnya, para peneliti menganalisis stalagmit di Gua Heshang di lembah tengah Sungai Yangtze. Lapisan mineral pada stalagmit itu menyimpan jejak perubahan curah hujan dari masa ke masa, layaknya "buku tahunan iklim" yang terbentuk secara alami selama ribuan tahun.
Dr Christopher Day dari Oxford Department of Earth Sciences menyebut temuan ini sebagai tonggak penting dalam studi paleoklimatologi.
"Luar biasa rasanya melihat catatan curah hujan selama seribu tahun ini kini tersedia bagi komunitas ilmiah," ujarnya.
Day menjelaskan bahwa data semacam ini sangat penting untuk memahami cara sistem lingkungan bekerja di masa perubahan cepat.
"Data ini menjadi dasar kolaborasi lintas bidang antara ilmuwan lingkungan, arkeolog, dan pemodel iklim dalam menghadapi tantangan perubahan iklim masa kini," tambahnya.
Rekonstruksi curah hujan menunjukkan bahwa wilayah lembah Yangtze mengalami periode hujan ekstrem yang berlangsung antara 80 hingga 140 tahun. Curah hujan tinggi ini menyebabkan banjir besar, meluasnya rawa, dan penurunan jumlah penduduk di kawasan tersebut.
Ketika Hujan Berlebih Mengubah Nasib Peradaban
Puncak perubahan terjadi sekitar 3.950 tahun lalu, bertepatan dengan dimulainya periode hujan paling panjang dalam catatan penelitian. Akibatnya, danau-danau di lembah tengah Sungai Yangtze meluas, lahan subur berkurang drastis, dan wilayah permukiman menjadi tidak layak huni.
Prof Gideon Henderson dari University of Oxford menuturkan bahwa penelitian ini membantu memahami dampak hujan ekstrem terhadap masyarakat masa lalu.
"Dan baru-baru ini kami memperluas penelitian ini untuk menilai bagaimana masyarakat masa lalu di Tiongkok Tengah terdampak oleh perubahan curah hujan muson," ungkapnya.
Sementara itu, Dr Jin Liao dari China University of Geosciences menekankan bahwa riset ini juga memberi pelajaran penting bagi dunia modern. Terutama tentang bagaimana keterbatasan kemampuan adaptasi masyarakat kuno.
"Dan sekaligus menyoroti pentingnya pengelolaan air modern, inovasi pertanian, serta tata kelola yang kuat dalam mengurangi risiko iklim dan menjaga ketahanan pangan," kata Dr Jin.
Para ilmuwan mengingatkan bahwa meskipun teknologi kini memungkinkan manusia mengendalikan banjir dengan lebih baik, pemanasan global dan curah hujan ekstrem yang meningkat dapat menimbulkan tantangan serupa bagi populasi modern di sepanjang Sungai Yangtze.
Adapun hasil studi tulisan ini telah dipublikasikan dalam jurnal National Science Review dengan judul "", pada 11 Desember 2025.







