Kisah Warga Desa Nglebak Tak Kenal Bupati, Lebih Dekat ke Ngawi daripada Blora
Tim TribunTrends March 25, 2026 09:38 PM

TRIBUNTRENDS.COM - Kisah unik sekaligus memprihatinkan datang dari Desa Nglebak, sebuah wilayah yang secara administratif berada di Kabupaten Blora, namun justru lebih dekat secara akses ke Ngawi. Kondisi geografis dan infrastruktur yang terbatas membuat warga desa ini lebih sering beraktivitas ke daerah tetangga dibandingkan ke pusat pemerintahan wilayahnya sendiri.

Jarak tempuh menjadi faktor utama. Untuk menuju pusat kota Ngawi, warga hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit dengan jarak kurang lebih 9 kilometer. Sementara itu, perjalanan ke pusat kota Blora bisa memakan waktu hingga dua jam dengan jarak sekitar 53 kilometer. Perbedaan akses ini membuat interaksi warga dengan wilayah Ngawi jauh lebih intens.

Tak heran, sebagian warga bahkan mengaku lebih mengenal Ngawi daripada Blora. Kondisi ini menciptakan kesenjangan informasi, termasuk soal pemerintahan daerah yang seharusnya menaungi mereka.

Tak Kenal Bupati, Jalan Rusak Jadi Keluhan Utama

Seorang warga bernama Suwiji mengaku selama puluhan tahun tinggal di desa tersebut, ia lebih sering pergi ke Ngawi daripada ke Blora. Bahkan, banyak warga lanjut usia yang belum pernah melihat langsung pusat kota Blora.

Kondisi jalan menjadi alasan utama. Akses menuju Blora dinilai jauh lebih buruk dibandingkan jalur ke Ngawi. Jalan yang rusak dan sulit dilalui membuat warga enggan bepergian ke arah utara.

Akibat minimnya interaksi tersebut, Suwiji bahkan sempat tidak mengetahui siapa bupati yang memimpin daerahnya. Hal ini terungkap saat seorang pejabat datang langsung ke desa untuk meninjau perbaikan jalan.

Saat itu, warga tetap bekerja seperti biasa memperbaiki jalan secara swadaya tanpa menyadari bahwa sosok yang datang adalah kepala daerah mereka sendiri. Setelah diberi tahu, warga mengaku terkejut sekaligus senang karena akhirnya didatangi langsung oleh pemimpin daerahnya.

Kondisi ini menggambarkan betapa jauhnya jarak bukan hanya secara geografis, tetapi juga secara komunikasi antara pemerintah dan masyarakat.

Swadaya Warga dan Harapan Perubahan

Selama bertahun-tahun, warga Desa Nglebak mengandalkan gotong royong untuk memperbaiki infrastruktur, terutama jalan desa. Kerusakan jalan yang sudah terjadi sejak sekitar 2014 belum mendapatkan penanganan optimal dari pemerintah.

Upaya perbaikan sebenarnya sudah beberapa kali diajukan melalui musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang). Namun, keterbatasan anggaran membuat rencana tersebut tertunda.

Kondisi jalan yang rusak bahkan sempat menyebabkan kecelakaan, termasuk anak-anak sekolah yang terjatuh saat melintas. Hal ini semakin mendorong warga untuk bergerak sendiri melakukan perbaikan seadanya.

Meski demikian, kedatangan bupati ke desa tersebut membawa harapan baru. Warga berharap pemerintah benar-benar merealisasikan pembangunan jalan yang selama ini mereka impikan.

Dengan adanya perhatian langsung dari pemerintah daerah, masyarakat berharap akses menuju desa mereka dapat segera diperbaiki. Perbaikan infrastruktur dinilai sangat penting agar warga tidak lagi merasa terisolasi dan dapat terhubung lebih baik dengan wilayah administratifnya sendiri.

Tribun Jatim | Ignatia | TribunTrends.com | Afif Muhammad

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.