Oleh: Hendra Pachri
Dosen Teknik Geologi Universitas Hasanuddin
TRIBUN-TIMUR.COM - Ketika konflik antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas, banyak orang mungkin menganggap peristiwa itu terlalu jauh dari kehidupan sehari-hari kita di Indonesia.
Jaraknya ribuan kilometer, aktornya negara besar, dan isunya terdengar kompleks.
Namun, dalam praktiknya, dampaknya bisa kita rasakan langsung, bahkan hingga ke harga bahan bakar dan biaya hidup sehari-hari.
Kenaikan harga minyak dunia hampir selalu mengikuti eskalasi konflik di Timur Tengah.
Kita mungkin tidak langsung mengaitkannya, tetapi ketika ongkos transportasi naik, harga kebutuhan pokok ikut bergerak, dan daya beli masyarakat terasa tertekan, di situlah dampak global itu menjadi nyata.
Pertanyaannya, mengapa kawasan yang jauh bisa sedemikian besar pengaruhnya terhadap kita?
Jawabannya tidak hanya terletak pada politik, tetapi juga pada geologi.
Sebagai seorang yang berkecimpung dalam ilmu geologi, saya melihat bahwa Timur Tengah memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki banyak wilayah lain di dunia.
Kawasan ini merupakan salah satu daerah dengan cadangan minyak dan gas terbesar, dan itu bukan kebetulan.
Semua berawal dari proses alam yang berlangsung sangat lama dan jutaan tahun.
Iran, misalnya, berada pada zona Zagros Fold Belt, hasil tumbukan dua lempeng besar, yaitu Lempeng Arab dan Eurasia.
Proses ini membentuk lipatan-lipatan batuan yang sangat ideal sebagai tempat terperangkapnya minyak dan gas.
Struktur seperti ini dalam geologi dikenal sebagai perangkap hidrokarbon, dan di Timur Tengah, skalanya sangat besar.
Sejumlah penelitian bahkan menunjukkan bahwa kawasan Teluk Persia merupakan salah satu sistem petroleum paling produktif di dunia
(Alsharhan "Nairn, 2003; Stern" Johnson, 2010).
Artinya, sejak lama kawasan ini memang menjadi “lumbung energi” global.
Namun persoalan tidak hanya berhenti pada keberadaan sumber daya.
Yang tidak kalah penting adalah bagaimana sumber daya itu didistribusikan.
Di sinilah Selat Hormuz memainkan peran kunci.
Jalur laut yang relatif sempit ini menjadi pintu utama bagi ekspor minyak dari Timur Tengah ke berbagai belahan dunia.
Sekitar 20 persen minyak dunia melewati jalur ini setiap hari (U.S. EIA, 2023).
Bayangkan jika jalur ini terganggu, bahkan dalam waktu singkat.
Pasar energi global langsung bereaksi.
Harga minyak naik, dan dampaknya menjalar ke berbagai negara, termasuk Indonesia.
Dalam kajian geopolitik energi, kondisi seperti ini sering disebut sebagai resource geopolitics, yakni bagaimana negara-negara berupaya mengamankan akses terhadap sumber daya penting (Klare, 2012).
Jadi, konflik yang kita lihat dipermukaan sering kali berkaitan erat dengan kepentingan terhadap energi.
Bagi Indonesia, dampaknya bukan sesuatu yang abstrak.
Ketika harga minyak dunia meningkat, pemerintah harus menyesuaikan kebijakan energi.
Biaya logistik bisa naik, distribusi barang menjadi lebih mahal, dan pada akhirnya masyarakat yang merasakan efeknya.
Di Sulawesi Selatan, dampak ini bisa terlihat pada biaya transportasi hasil pertanian, distribusi kebutuhan pokok, hingga aktivitas ekonomi masyarakat.
Hal-hal yang tampak sederhana ternyata memiliki keterkaitan dengan dinamika global yang cukup kompleks.
Menariknya, dunia kini sedang mengalami pergeseran.
Jika sebelumnya minyak dan gas menjadi fokus utama, saat ini perhatian mulai bergeser kemineral strategis seperti nikel, kobalt, dan unsur
tanah jarang.
Mineral ini menjadi bahan utama dalam pengembangan teknologi modern, termasuk baterai kendaraan listrik dan energi terbarukan (IEA, 2021).
Dalam konteks ini, Indonesia justru memiliki peluang besar.
Kekayaan nikel laterit di Sulawesi menjadikan Indonesia sebagai pemain penting dalam rantai pasok global.
Ini menunjukkan bahwa sumber daya geologi tidak hanya menjadi sumber konflik, tetapi juga dapat menjadi peluang pembangunan jika dikelola dengan baik.
Namun ada pelajaran penting yang bisa kita ambil.
Ketergantungan terhadap sumber daya global membuat suatu negara rentan terhadap dinamika geopolitik.
Karena itu, penguatan ketahanan energi dan pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan menjadi semakin penting.
Pada akhirnya, apa yang terjadi di Timur Tengah memberi kita satu pemahaman sederhana: bumi dan proses-prosesnya memiliki peran besar dalam kehidupan manusia.
Geologi bukan hanya tentang batuan atau sejarah bumi, tetapi juga tentang bagaimana energi terbentuk dan mempengaruhi kehidupan kita hari ini.
Kita mungkin tidak berada di kawasan konflik.
Namun setiap kali harga BBM naik atau biaya hidup meningkat, kita sebenarnya sedang merasakan dampak dari proses yang jauh, baik
secara geografis maupun secara geologis.
Dan mungkin di situlah letak pelajaran terbesarnya: proses alam yang berlangsung jutaan tahun lalu masih terus mempengaruhi keputusan ekonomi dan kehidupan kita hari ini.(*)