TRIBUNPONTIANAK.CO.ID- Setelah merayakan Idulfitri 2026, umat Islam dianjurkan untuk melanjutkan ibadah dengan menjalankan puasa sunnah selama enam hari di bulan Syawal.
Ibadah yang dikenal sebagai puasa Syawal ini memiliki keutamaan besar, karena dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa pahalanya setara dengan berpuasa sepanjang tahun.
Tidak mengherankan jika banyak umat Muslim berupaya untuk segera menunaikannya sebagai bentuk penyempurnaan ibadah setelah bulan Ramadan.
Meski demikian, masih banyak pertanyaan yang muncul di tengah masyarakat, mulai dari kapan waktu terbaik memulai puasa Syawal, apakah harus dilakukan secara berturut-turut, hingga kemungkinan menggabungkannya dengan puasa sunnah lainnya seperti Senin dan Kamis.
Oleh karena itu, penting untuk memahami ketentuan pelaksanaannya secara menyeluruh agar ibadah dapat dilakukan dengan tepat.
Puasa Syawal sendiri dapat mulai dilaksanakan sejak tanggal 2 Syawal, karena pada tanggal 1 Syawal umat Islam diharamkan untuk berpuasa.
• Rahasia Rezeki Lancar ala Nagita Slavina, Konsisten Amalan Ini Jadi Kunci Kesuksesan
Dengan demikian, pelaksanaan puasa ini bisa dimulai sehari setelah Hari Raya dan dapat dilakukan hingga akhir bulan Syawal.
Di Indonesia, puasa ini juga sering disebut sebagai puasa enam hari karena jumlahnya yang enam hari.
Meskipun dianjurkan untuk dilakukan lebih awal setelah Idulfitri, puasa Syawal tidak harus langsung dimulai pada tanggal 2 Syawal.
Umat Islam tetap memiliki kelonggaran untuk menjalankannya di hari lain selama masih berada dalam bulan Syawal, sehingga dapat disesuaikan dengan kondisi dan aktivitas masing-masing.
Terkait pelaksanaannya, puasa Syawal tidak wajib dilakukan secara berturut-turut.
Para ulama, seperti Ibnu Hajar al-Haitami, menjelaskan bahwa puasa ini boleh dilakukan secara terpisah selama masih dalam bulan Syawal.
Hal ini memberikan kemudahan bagi umat Islam yang memiliki kesibukan tertentu. Namun, sebagian ulama dari mazhab Hanafi dan Syafi’i berpendapat bahwa melaksanakannya secara berurutan setelah Idulfitri lebih utama.
Sementara itu, Imam Ahmad bin Hanbal menyatakan bahwa puasa enam hari tersebut boleh dilakukan baik secara berurutan maupun tidak.
Dengan berbagai pendapat tersebut, umat Islam dapat memilih pola pelaksanaan yang paling sesuai, baik dilakukan enam hari berturut-turut, dicicil dalam beberapa hari, maupun digabung dengan puasa sunnah seperti Senin dan Kamis.
Fleksibilitas ini menjadi kemudahan agar ibadah tetap dapat dijalankan secara konsisten dan penuh keikhlasan.
Hukum puasa Syawal adalah sunnah muakkad, yakni ibadah sunnah yang sangat dianjurkan. Anjuran ini bersandar pada hadis yang diriwayatkan oleh Abu Ayub Al Anshari.
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْر
Artinya: “Barang siapa berpuasa Ramadan lalu melanjutkannya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka itu setara dengan puasa sepanjang tahun.” (HR Muslim. Imam Ahmad juga meriwayatkan dari hadits Jabir)
Meski puasa Syawal hukumnya sunnah muakkad, umat Islam yang masih memiliki utang puasa Ramadhan sebaiknya mendahulukan qadha puasa Ramadhan karena hukumnya wajib.
Puasa Syawal memiliki banyak keutamaan yang membuat ibadah ini sangat dianjurkan setelah Ramadan.
1. Pahala seperti Puasa Setahun Penuh
Keutamaan utama puasa Syawal adalah pahala yang disamakan dengan puasa selama satu tahun penuh. Dalam hadis disebutkan:
“Barang siapa berpuasa Ramadan, maka pahala satu bulan Ramadan itu (dilipatkan sama) dengan puasa sepuluh bulan, dan berpuasa enam hari sesudah Idulfitri (dilipatkan sepuluh menjadi enam puluh), maka semuanya adalah genap satu tahun.” (HR Ahmad)
Penjelasannya, satu hari puasa diibaratkan bernilai sepuluh hari pahala. Maka, 30 hari puasa Ramadan ditambah 6 hari puasa Syawal jika dikalikan 10 menjadi 360 hari, atau kurang lebih setara dengan satu tahun.
2. Menyempurnakan Ibadah Ramadhan
Puasa Syawal juga diibaratkan seperti salat sunnah rawatib yang berfungsi menutup kekurangan dan menyempurnakan ibadah wajib. Karena itu, puasa Syawal sering dipandang sebagai pelengkap ibadah Ramadan.
3. Mendapat Pahala Besar
Menjalankan puasa Syawal disebut memberikan pahala yang besar dari Allah SWT. Hal ini menjadi salah satu alasan banyak umat Muslim berusaha tidak melewatkannya setelah Idul Fitri.
4. Membantu Menghapus Dosa
Dalam rangkuman keutamaan yang disebutkan, puasa Syawal juga diyakini dapat membantu menghapus dosa-dosa yang telah dilakukan sebelumnya.
5. Menambah Ketakwaan
Dengan menjalankan puasa Syawal, seseorang juga dapat meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Ibadah puasa membantu seseorang menjaga diri dari perbuatan yang tidak baik serta memperkuat hubungan spiritual.
• Mana yang Harus Didahulukan, Puasa Syawal atau Bayar Utang Puasa Kata Ustaz Abdul Somad?
Secara umum, tata cara puasa Syawal sama seperti puasa sunnah lainnya.
1. Niat
Niatkan di dalam hati sebelum memulai puasa Syawal.
2. Dilaksanakan Enam Hari di Bulan Syawal
Puasa Syawal dikerjakan selama enam hari setelah Idul Fitri, baik berturut-turut maupun terpisah.
3. Disunnahkan Makan Sahur
Seperti puasa pada umumnya, puasa Syawal juga disunnahkan makan sahur sebelum fajar.
Niat Puasa Syawal
Sebelum menjalankan puasa Syawal, niat dilakukan di dalam hati. Mengutip Bangka Pos, berikut bacaan niat puasa Syawal:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ لِلهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnatis Syawwâli lillâhi ta‘âlâ.
Artinya: “Aku berniat puasa sunah Syawal esok hari karena Allah SWT.”
Bacaan niat lain yang juga disebutkan untuk puasa Syawal adalah:
ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺻَﻮْمَ ﻏَﺪٍ ﻋَﻦْ ِﺳﺘَﺔٍ ِﻣﻦْ ﺷَﻮَ لٍ ﺳُﻨَﺔً ِﻟﻠَﻪ ﺗَﻌَ ﻟَﻲ
Nawaitu Shauma Ghadin ‘Ansittatin Min Syawaali Sunnatan Lillaahi Ta’aalaa.
Artinya: “Aku niat berpuasa sunnah 6 hari bulan Syawal karena Allah Ta’ala.”
Bolehkah Puasa Syawal Digabung dengan Puasa Senin-Kamis?
Menurut para ulama, menggabungkan niat puasa Syawal dengan puasa Senin atau Kamis hukumnya boleh dan sah. Hal ini karena keduanya sama-sama termasuk puasa sunnah. Disebutkan bahwa karena jenis dan bentuk ibadahnya sama, puasa Syawal dapat dilakukan bersamaan dengan puasa Senin-Kamis.
Syaikh Abu Bakar Syatha dalam I’anatut Thalibin menjelaskan bahwa seseorang yang berniat menggabungkan dua puasa sunnah dapat memperoleh keduanya. Ia mengibaratkan hal ini seperti bersedekah kepada keluarga dengan niat sedekah sekaligus silaturahmi.
Niat Puasa Senin
نَوَيْتُ صَوْمَ يَوْمَ اْلاِثْنَيْنِ سُنَّةً ِللهِ تَعَالَى
Nawaitu sauma yaumal itsnaini sunnatan lillahi ta'ala.
Artinya: “Saya niat puasa sunnah hari Senin, sunnah karena Allah Taala.”
Niat Puasa Kamis
نَوَيْتُ صَوْمَ يَوْمَ الْخَمِيْسِ سُنَّةً ِللهِ تَعَالَى
Nawaitu sauma yaumal khomiisi sunnatan lillahi ta'ala.
Artinya: “Saya niat puasa sunnah hari Kamis, sunnah karena Allah Taala.”