Hendrik Irawan Akui Joget di Dapur MBG untuk Pansos, SPPG Miliknya Disuspend, 150 Relawan Kena Apes
ninda iswara March 26, 2026 08:51 AM

TRIBUNTRENDS.COM - Pemilik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pangauban Batujajar, Hendrik Irawan, mengakui aksinya yang disebut 'pansos' setelah video jogetnya di dapur SPPG viral di media sosial.

Video tersebut memicu kontroversi dan menjadi perbincangan publik secara luas.

Imbas dari viralnya video, Badan Gizi Nasional (BGN) menjatuhkan sanksi berupa penutupan sementara operasional SPPG Pangauban di Batujajar.

Wakil Kepala BGN, Nanik Sudaryati Deyang, menegaskan, “SPPG milik Hendrik ditutup sementara.”

Nama Hendrik pun langsung menjadi sorotan masyarakat setelah aksinya tersebar luas.

Baca juga: Peringatan BGN untuk Hendrik Irawan yang Joget di Dapur MBG & Pamer Rp 6 Juta: Ini Bukan Bisnis!

Kontroversi ini menunjukkan bagaimana perilaku personal dapat berdampak pada reputasi institusi.

Penutupan sementara ini berlaku sampai evaluasi internal BGN selesai dilakukan.

Hendrik sendiri mengaku bahwa tindakannya adalah bentuk pencarian perhatian, atau 'pansos'.

Meski viral, langkah BGN menunjukkan tegasnya regulasi untuk menjaga integritas pelayanan gizi.

Kejadian ini menjadi pelajaran penting bagi pengelola SPPG lain agar tetap profesional dalam bekerja.

Respons Hendrik

Melalui akun TikTok miliknya, Hendrik meminta maaf kepada netizen yang telah menghujatnya.

Meskipun, ia mengaku telah mengklarifikasi mengenai tindakannya.

"Pagi ini saya diberhentikan oleh Ibu Nanik selaku wakil kepala BGN mungkin netizen merasa puas tidak apa-apa yang penting saya telah meminta maaf beberapa kali kepada netizen," kata Hendrik.

Hendrik mengaku tidak memikirkan mengenai mental dirinya. 

Bahkan, ia mempersilahkan warganet mencaci maki dan menghina dirinya.

Namun, Hendrik menegaskan dirinya tidak ada niat melecehkan program Presiden Prabowo Subianto.

Ia juga tidak berniat melecehkan rakyat Indonesia.

"Saya mungkin salah satu mitra yang sering pansos. Silahkan anda menyebut saya boti, saya tidak tahu boti itu apa," kata Hendrik.

Hendrik pun menyampaikan permintaan maaf kepada Presiden Prabowo Subianto terkait aksinya yang menjadi viral di media sosial.

"Mohon Maaf sebesar-besarnya kepada rakyat Indonesia yang sudah merasa terganggu atas kesalahan saya dan saya mohon maaf kepada Bapak presiden dan BGN atas terjadinya hura-hara beberapa hari ini ke depan ya akan menjadi pelajar bagi saya untuk bersosial media dan untuk SPPG Pagauban mulai hari ini dan seterusnya ditutup," tulis Hendrik dalam caption TikTok.

Baca juga: Di Balik Insentif Rp6 Juta yang Dipamerkan Hendrik Irawan, BGN Klaim Bukan Keuntungan, Ada di Juknis

Hendrik Irawan, mitra MBG Batujajar yang viral joget terima insentif Rp6 juta.
Hendrik Irawan, mitra MBG Batujajar yang viral joget terima insentif Rp6 juta. (TikTok/@mitrapangaubanbatujajar)

Pikirkan Nasib 150 Relawan

Hendrik kaget atas keputusan BGN menutup sementara dapur SPPG-nya.

Namun ia mengakui ada beberapa hal dalam operasional BGN yang mungkin menjadi penilaian dan faktor penyebab SPPG-nya ditutup.

"Awalnya saya merasa kaget kok permasalahan ini menjadi besar, menjadi huru-hara. Tapi memang ini kesalahan saya, saya tidak mematuhi protokol, seperti saya nge-dance itu di ruangan pengemasan. Saya tidak menyangka akan viral seperti ini," kata Hendrik.

Di sisi lain, penutupan SPPG itu berdampak pada nasib ratusan relawan yang bertugas dalam operasional dapur SPPG. 

Mulai dari memasak, pengemasan, distribusi, hingga pencucian ompreng MBG.

"Dengan keputusan BGN, ada sekitar 150 relawan yang tidak akan bekerja. Jadi mungkin inilah dampaknya mungkin saya terlalu frontal, saya sangat prihatin bagaimana nasib relawan saya, 150 relawan yang benar-benar sudah semangat," katanya.

Ia meminta maaf atas ulahnya itu. 

Hendrik juga menjelaskan panjang lebar soal maksud dari keuntungan Rp6 juta per hari yang didapatkannya.

"Jadi hari ini saya menjelaskan insentif Rp6 juta yang saya dapatkan itu darimana. Jangan sampai netizen blunder. Jadi itu insentif bukan diambil dari jatah anak-anak, itu dari insentif yang bapak presiden (Prabowo Subianto) berikan," kata Hendrik.

Hendrik menjelaskan ia mengeluarkan modal hingga Rp3,5 miliar membangun SPPG di Desa Pangauban, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat. 

SPPG miliknya itu berdiri di atas lahan yang luasnya sekitar 1.000 meter persegi.

"Kami membangun dapur ini pakai uang sendiri. Saya membangun SPPG ini tidak memakai uang pemerintah. Nah dari pemerintah berkolaborasi dengan mitra, uang itu hanya pengganti selama program berjalan. Bukan cuma-cuma, tapi saya mengeluarkan modal Rp3,5 M untuk ikut program Bapak Prabowo ini," katanya.

(TribunTrends/TribunJakarta)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.